Tag: Gibran Rakabuming Raka

  • Kemenkeu Bantah Hoaks Purbaya Temukan Uang Jokowi di Bank China

    Kemenkeu Bantah Hoaks Purbaya Temukan Uang Jokowi di Bank China

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membantah informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menemukan data simpanan uang Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di sejumlah bank di China.

    Kemenkeu menegaskan informasi tersebut merupakan kabar bohong atau hoaks yang beredar melalui unggahan akun media sosial TikTok Info Nasional.id.

    “Berita yang menyatakan bahwa Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menemukan data uang Jokowi ribuan triliun di bank Cina adalah tidak benar atau HOAKS,” demikian pernyataan resmi Kemenkeu yang dikutip dari akun PPID Kemenkeu di platform X @PPIDKemenkeu, Rabu (14/1/2026).

    Dalam unggahan tersebut, akun Info Nasional.id menampilkan gambar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Presiden ke-7 Jokowi, Iriana Jokowi, serta putranya yang juga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

    Unggahan itu juga menyertakan potongan gambar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat melakukan ekspos hasil sitaan perkara dugaan korupsi. Namun, tidak terdapat keterangan apa pun yang menjelaskan keterkaitan uang sitaan yang ditampilkan KPK dengan Presiden ke-7 RI Jokowi.

    Berita yang menyatakan bahwa Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menemukan data uang Jokowi ribuan triliun di bank Cina adalah tidak benar atau HOAKS.

    Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Purbaya. pic.twitter.com/IV2lNQsTwd

    — PPID Kementerian Keuangan (@PPIDKemenkeu) January 14, 2026

    Melalui keterangan pada caption, pemilik akun menuding adanya aliran dana tidak wajar selama 10 tahun masa kepemimpinan Jokowi. Tuduhan tersebut dikaitkan dengan dugaan keterlibatan sejumlah bank asal China dalam pergerakan dana lintas negara yang disebut mencurigakan.

    Pemilik akun juga mengklaim adanya temuan yang bersumber dari analisis transaksi lintas perbankan internasional, kerja sama data intelijen keuangan, serta laporan aktivitas keuangan yang disebut tidak lazim dan melampaui batas yurisdiksi nasional. Namun, unggahan tersebut tidak menjelaskan secara spesifik keterkaitan antara tudingan transaksi keuangan dimaksud dengan Presiden ke-7 RI Jokowi.

    Menanggapi hal tersebut, Kemenkeu mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh dan lebih waspada terhadap penyebaran informasi bohong yang mengatasnamakan pejabat negara.

    “Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Purbaya,” imbau Kemenkeu.

  • Warga Pertanyakan Dalih Efisiensi di Wacana Pilkada Lewat DPRD, Minta Anggaran Dibuka
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        14 Januari 2026

    Warga Pertanyakan Dalih Efisiensi di Wacana Pilkada Lewat DPRD, Minta Anggaran Dibuka Megapolitan 14 Januari 2026

    Warga Pertanyakan Dalih Efisiensi di Wacana Pilkada Lewat DPRD, Minta Anggaran Dibuka
    Tim Redaksi

    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com –
     Warga mempertanyakan alasan efisiensi anggaran yang kerap dikemukakan dalam wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
    Menurut warga, penghematan biaya tidak dapat dijadikan dasar yang cukup kuat untuk mengubah sistem pemilihan yang selama ini melibatkan partisipasi langsung masyarakat.
    Warga Ciputat, Iqbal (23), menilai hak masyarakat untuk memilih pemimpin secara langsung tidak bisa dibandingkan dengan alasan
    efisiensi anggaran
    .
    Ia menegaskan, partisipasi publik justru merupakan inti dari demokrasi dalam pemilihan kepala daerah.
    “Kalau dari saya sebagai pemilih, jelas lebih penting partisipasi masyarakat dalam
    Pilkada
    , karena pilihan kita berdampak ke lima tahun ke depan. Jadi enggak bisa apple to apple kalau membandingkan efisiensi anggaran dengan partisipasi,” ujar Iqbal kepada
    Kompas.com
    , Rabu (14/1/2026).
    Iqbal juga mempertanyakan relevansi efisiensi anggaran sebagai dalih perubahan sistem pilkada.
    Ia mencontohkan Kota Tangerang Selatan yang memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) cukup besar.
    Menurut dia, daerah yang terbentuk sejak 2008 itu memiliki kapasitas fiskal yang memadai untuk menyelenggarakan pilkada secara langsung.
    “Kalau berbicara APBD, Tangsel saja sekarang sekitar Rp 5 triliun, itu untuk skala Tangsel yang ya gak begitu besar. Jadi kalau dibilang efisiensi anggaran, itu bukan solusinya. Lebih baik perbaiki dulu ekonomi masyarakat, bukan memangkas hak pilih,” kata dia.
    Pandangan serupa disampaikan warga Pondok Ranji, Ikhwana (28). Ia menilai partisipasi langsung warga jauh lebih penting dibandingkan alasan efisiensi anggaran.
    Menurut Ikhwana, rakyat harus tetap dilibatkan dalam pemilihan pemimpin daerah karena masyarakatlah yang memahami kebutuhan wilayah dan akan merasakan langsung dampak kepemimpinan selama lima tahun ke depan.
    “Partisipasi langsung rakyat lebih penting karena rakyat tahu siapa yang memimpin mereka. Jangan sampai alasannya efisiensi, tapi kita sebagai masyarakat enggak tahu detail anggaran itu dipakai untuk apa,” kata Ikhwana.
    Ia pun meminta pemerintah membuka secara rinci penggunaan anggaran pilkada sebelum menjadikan efisiensi anggaran sebagai alasan perubahan sistem pemilihan.
    “Anggaran untuk pilkada coba dibuka. Nominalnya besar, tapi kita enggak tahu dipakai untuk apa. Harus ada alasannya yang jelas,” kata dia.
    Diketahui, wacana pemilihan kepala daerah melalui
    DPRD
    kembali mencuat setelah disuarakan Presiden Prabowo Subianto dan Partai Golkar.
    Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengusulkan agar mekanisme pilkada pada pemilu mendatang dilakukan melalui DPRD.
    Usulan tersebut disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat perayaan HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).
    “Khusus menyangkut pilkada, setahun lalu kami menyampaikan kalau bisa pilkada dipilih lewat DPRD saja. Banyak pro kontra, tapi setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” kata Bahlil.
    Hingga kini, sejumlah partai politik secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap wacana pilkada melalui DPRD, di antaranya Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasdem, dan Partai Demokrat.
    Sementara itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menyatakan penolakan terhadap usulan tersebut.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • AHY Kandidat Cawapres 2029, Jauh Kalahkan Gibran, Anies dan Pramono Anung

    AHY Kandidat Cawapres 2029, Jauh Kalahkan Gibran, Anies dan Pramono Anung

    GELORA.CO –  Sosok Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY sepertinya memiliki taji sebagai salah satu Cawapres 2029 mendatang.

    Bahkan elektabilitasnya dalam bursa Cawapres 2029 pun mengalahkan sejumlah nama beken di blantika politik Indonesia.

    Sebutlah eks Gubernur DKI Jakarta sekaligus eks Capres Pilpres 2024 lalu, Anies Baswedan.

    Bahkan nama Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung pun sudah mampu dilewati Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu.

    Hal itu terungkap berdasarkan hasil survei MudaBicara yang diunggah akun Instagram goodstats.id, pada 12 Januari 2026.

    “Peta elektabilitas cawapres 2029 versi anak muda masih terfragmentasi, tanpa tokoh yang menembus 20 persen, menandakan persaingan sangat terbuka,” demikian keterangan sebagaimana dikutip Pojoksatu.id, Rabu 14 Januari 2026.

    Dalam survei tersebut, dipampang 10 nama elektabilitas tokoh di bursa Cawapres 2029 versi kacamata anak muda.

    Di urutan teratas ada nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang meraih kepercayaan dari pemilih sebesar 18,38 persen.

    Disusul Menkeu Purbaya Yudi Sadewa (14 persen) yang bersaing ketat dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (13,5 persen).

    Sementara nama AHY sendiri berada di posisi keempat dengan tingkat kepercayaan pemilih pada 11,88 persen.

    Sementara nama-nama seperti Pramono Anung, Anies Baswedan, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Mahfud MD bahkan Ferry Irwandi mendapat kepercayaan kurang dari 10 persen.

    Nama-nama tersebut bertengger dari posisi 5 sampai dengan 10 dalam top survei.

    Yang cukup mengejutkan adalah Gibran Rakabuming Raka yang hanya memiliki elektabilitas 6,13 persen di mata anak muda.

    Sosok yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden itu berada di posisi ke-9 dari 10 nama top survei.

    Berkinerja Baik

    Kuatnya nama AHY sebagai Cawapres 2029 ini tak lepas dari penilaian kinerja yang diberikan publik.

    Masih dari survei MudaBicara, AHY juga merupakan top three menteri yang dinilai memiliki kinerja baik.

    Di posisi teratas, Menkeu Purbaya Yudi Sadewa memimpin dengan penilaian 16,34 persen.

    Disusul Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang dipilih sebanyak 14,06 persen publik.

    Lalu AHY di posisi ketiga dengan tingkat kepercayaan sebesar 12,51 persen.

    Dilanjutkan Menteri Agama Nasarudin Umar di posisi keempat dengan 10,5 persen.

    Dalam segmen ini, AHY juga mengungguli sejumlah politikus senior dan nama beken lainnya.

    Seperti Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra atau Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

    Keduanya berada di posisi ke-6 dan 7 dengan perolehan 7,06 persen dan 5,12 persen.

    Yang tak kalah mengejutkan, AHY juga mengungguli Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menempati posisi 5 dengan 7,24 persen.

    “Hasil ini bisa jadi juga dipengaruhi oleh popularitas personal masing-masing Menteri/Kepala Badan,” demikian bunyi hasil survei tersebut.

    Sebagai informasi, survei MudaBicara ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner terstruktur yang diisi secara mandiri oleh responden

    melalui perangkat elektronik (CASI).

    Metode ini memungkinkan pengumpulan data numerik secara cepat, efisien, dan luas, terutama di kalangan muda yang akrab dengan teknologi digital.

    Total 800 responden usia 17-40 tahun tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai strata serta jenis kelamin dilibatkan.

    Survei ini memiliki tingkat kepercayaan sampai 95 persen dengan margin of error mencapai 5 persen.***

  • Gibran Blak-blakan Tak Punya Program Wapres: Saya Pembantu, Adanya Visi Misi Presiden

    Gibran Blak-blakan Tak Punya Program Wapres: Saya Pembantu, Adanya Visi Misi Presiden

  • Sebab Gibran Tunda ke Yahukimo: Ada Gerakan Kelompok Tak Bertanggung Jawab

    Sebab Gibran Tunda ke Yahukimo: Ada Gerakan Kelompok Tak Bertanggung Jawab

    Sebab Gibran Tunda ke Yahukimo: Ada Gerakan Kelompok Tak Bertanggung Jawab
    Tim Redaksi
    PAPUA, KOMPAS.com
    – Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming menunda kunjungan kerjanya ke Yahukimo, Papua Pegunungan, karena alasan keamanan.
    Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim sekaligus Komandan Satgas Pengamanan VVIP, merekomendasikan penundaan kunjungan usai mendapat laporan intelijen.
    Berdasarkan informasi intelijen, terdeteksi adanya aktivitas kelompok-kelompok yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
    “Dari pertimbangan intelijen kami melihat ada gerakan-gerakan dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab di sana, yang menurut pertimbangan kami untuk
    keamanan VVIP
    sangat tidak memungkinkan,” kata Mayjen Amrin di Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak Numfor, Papua, Rabu (14/1/2026).
    Sebagai informasi, Gibran dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke
    Yahukimo
    pada Rabu hari ini, usai mengunjungi Wamena, Jayawijaya.
    Dengan adanya pertimbangan situasi keamanan yang berkembang hingga pagi tadi, kunjungan Gibran pun ditunda demi memastikan keselamatan Wapres RI beserta rombongan.
    Padahal, kata Amrin, Wapres Gibran sangat ingin berkunjung ke Yahukimo untuk menyapa langsung warga setempat.
    “Bapak Wakil Presiden sangat ingin berkunjung ke Yahukimo, menyapa masyarakat dan melihat pembangunan yang sudah dilaksanakan,” ujar Amrin.
    “Namun, saya selaku Komandan Satuan Tugas Pengamanan VVIP, berdasarkan pertimbangan keamanan sampai dengan pagi ini, menyarankan kepada Bapak Wakil Presiden untuk tidak melakukan kunjungan ke Yahukimo,” sambungnya.
    Menurut Amrin, perhatian pemerintah terhadap masyarakat Yahukimo tetap menjadi prioritas.
    Selain itu, kunjungan Wapres Gibran akan dijadwalkan kembali pada waktu yang lebih kondusif.
    “Tentunya kami menyarankan untuk melakukan penjadwalan kembali, karena masyarakat Yahukimo tentunya sangat ingin bertemu dengan Bapak Wakil Presiden,” ujar Amrin.
    Dari pantauan
    Kompas.com
    , Gibran dan rombongan pun kembali bertolak ke Jakarta usai direkomendasikan menunda kunjungan ke Yahukimo.
    Gibran dan rombongan mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 14.28 WIB.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Jokowi Buka Suara soal Pertemuan dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis

    Jokowi Buka Suara soal Pertemuan dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis

    GELORA.CO – Presiden ke-7 RI Joko Widodo buka suara terkait pertemuannya dengan dua tersangka kasus fitnah ijazah palsu, Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka jalan menuju penyelesaian hukum melalui restorative justice.

    Pertemuan terkait kasus fitnah ijazah palsu Jokowi itu berlangsung di kediamannya di Gang Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, pada Kamis (8/1/2026) lalu.

    “Telah hadir bersilaturahmi Bapak Prof Eggy Sudjana dan Bapak Damai Hari Lubis SH ke rumah saya. Benar beliau-beliau hadir didampingi pengacara Ibu Elida Netty, dan itu adalah kehadiran untuk silaturahmi,” ujar Jokowi saat ditemui di Solo, Rabu (14/1/2026).

    Jokowi mengaku menghargai dan menghormati silaturahmi yang dilakukan kedua tersangka kasus fitnah ijazah palsu Jokowi tersebut. Dia menilai pertemuan itu merupakan niat baik yang patut diapresiasi.

    Dari pertemuan silaturahmi itu, Jokowi berharap dapat menjadi pertimbangan bagi penyidik Polda Metro Jaya dalam penanganan perkara yang menjerat Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis.

    “Karena itu adalah kewenangan dari penyidik Polda Metro Jaya,” katanya.

    Saat ditanya apakah dalam pertemuan tersebut terdapat permintaan maaf terkait tudingan fitnah ijazah palsu Jokowi, ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu menilai hal tersebut tidak perlu diperdebatkan.

    “Menurut saya, ada atau tidak (permintaan maaf), tidak perlu diperdebatkan. Karena menurut saya, niat baik silaturahmi itu harus saya hormati dan hargai,” ucap Jokowi.

    Ketika ditanya apakah Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis juga menyampaikan permintaan agar kasus fitnah ijazah palsu Jokowi dihentikan, Jokowi memperkirakan hal tersebut akan ditindaklanjuti oleh kuasa hukum masing-masing pihak.

    Jokowi menegaskan bahwa keputusan terkait proses hukum sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku

  • Niat Baik Silaturahmi Harus Dihargai

    Niat Baik Silaturahmi Harus Dihargai

    GELORA.CO  – Presiden ke-7 RI Joko Widodo angkat bicara secara terbuka terkait pertemuannya dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, dua tersangka dalam kasus dugaan fitnah ijazah palsu. Jokowi menegaskan pertemuan tersebut merupakan bentuk silaturahmi yang dilandasi niat baik dan patut dihargai.

    Jokowi menyampaikan kehadiran Eggi dan Damai bukan dalam konteks hukum, melainkan sebagai upaya menjalin silaturahmi. Pertemuan itu berlangsung di kediaman Jokowi di Gang Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Kamis (8/1/2026).

    “Telah hadir bersilaturahmi Bapak Prof Eggi Sudjana dan Bapak Damai Hari Lubis SH ke rumah saya. Benar beliau-beliau hadir didampingi pengacara Ibu Elida Netty, dan itu adalah kehadiran untuk silaturahmi,” ujar Jokowi saat ditemui di Solo, Rabu (14/1/2026).

    Jokowi menilai langkah silaturahmi tersebut sebagai bentuk itikad baik yang seharusnya diapresiasi. Menurut dia, pendekatan secara kekeluargaan tetap penting meski persoalan hukum tengah berjalan.

    Dari pertemuan tersebut, Jokowi berharap dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penyidik Polda Metro Jaya dalam menangani perkara yang menjerat Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis.

    “Karena itu adalah kewenangan dari penyidik Polda Metro Jaya,” katanya.

    Saat ditanya apakah dalam pertemuan itu terdapat permintaan maaf terkait tudingan fitnah ijazah palsu, Jokowi menilai hal tersebut tidak perlu diperdebatkan. Ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini menekankan esensi pertemuan terletak pada niat baik silaturahmi.

    “Menurut saya, ada atau tidak (permintaan maaf), tidak perlu diperdebatkan. Karena menurut saya, niat baik silaturahmi itu harus saya hormati dan hargai,” ucap Jokowi.

    Terkait kemungkinan adanya permintaan penghentian kasus, Jokowi memperkirakan hal tersebut akan ditindaklanjuti oleh kuasa hukum masing-masing pihak. Dia kembali menegaskan bahwa seluruh proses hukum sepenuhnya berada dalam kewenangan aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku

  • Politisi PSI Klaim Gibran Calon Wapres Terbaik 2029, Made Supriatma: Modalnya Cukup Nggak Tau Malu

    Politisi PSI Klaim Gibran Calon Wapres Terbaik 2029, Made Supriatma: Modalnya Cukup Nggak Tau Malu

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Peneliti ISEAS Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menanggapi pernyataan Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, yang menegaskan tidak ada sosok yang lebih baik dari Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi calon Wakil Presiden pada Pilpres 2029.

    Merasa tidak sepakat dengan penegasan itu, Made menyoroti fenomena elite politik yang, menurutnya, rela menanggalkan nurani demi kepentingan kekuasaan.

    Ia menyebut, ada jenis pekerjaan tertentu yang menuntut seseorang untuk mengorbankan rasa malu dan kejujuran.

    “Ada banyak pekerjaan di dunia ini yang tidak perlu mempermalukan diri sendiri serendah ini. Tapi bayarannya mungkin sedikit,” ujar Made dikutip pada Rabu (14/1/2026).

    Namun, ia menuturkan bahwa terdapat pula pekerjaan lain yang menawarkan imbalan besar dengan konsekuensi moral yang sangat mahal.

    “Tapi ada pekerjaan yang bayarannya tinggi sekali. Modalnya cukup cuman nggak tau malu. Bisa bohong sehebat-hebatnya,” sebutnya.

    Made menggambarkan, demi mendapatkan keuntungan, seseorang bahkan sanggup membalikkan fakta dan logika secara ekstrem.

    “Mematikan nurani sehabis-habisnya sehingga bisa bilang matahari adalah bulan,” ucapnya.

    Ia melanjutkan dengan sejumlah perumpamaan tajam untuk menggambarkan praktik manipulasi realitas dalam politik kekuasaan.

    “Kuda lumpuh bisa dijual sebagai kuda balap yang menang di setiap pertandingan. Bebek dikatakan elang yang terbang agung,” Made menuturkan.

    Kata Made, kemampuan memanipulasi persepsi publik tersebut memiliki nilai yang sangat mahal, bukan hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat luas.

  • Gibran Tunda Kunjungan ke Yahukimo Papua Pegunungan karena Alasan Keamanan

    Gibran Tunda Kunjungan ke Yahukimo Papua Pegunungan karena Alasan Keamanan

    Liputan6.com, Jakarta – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunda kunjungan kerjanya ke Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada Rabu (14/1) karena alasan keamanan.‎​​

    ‎Komandan Satgas Pengamanan VVIP, sekaligus Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim menjelaskan bahwa Wapres Gibran dijadwalkan mengunjungi Yahukimo dengan pesawat Hercules setelah kunjungannya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.‎

    ‎”Karena melihat pertimbangan keamanan di Yahukimo sampai dengan pagi ini, saya menyarankan kepada Bapak Wapres untuk tidak melakukan kunjungan ke Yahukimo,” kata Amrin saat memberikan keterangan di Bandara Frans Kaisiepo, Biak Numfor, Papua, seperti dilansir Antara.

    ‎‎Amrin menjelaskan bahwa berdasarkan pertimbangan intelijen, pihaknya melihat ada pergerakan dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.

    ‎‎Demi alasan keamanan, Wapres Gibran pun akan menjadwalkan ulang kunjungan kerjanya ke Yahukimo.

    ‎‎”Dari pertimbangan intelijen kami melihat ada gerakan-gerakan dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab di sana yang menurut pertimbangan kami untuk keamanan VVIP tentunya sangat tidak memungkinkan,” kata Amrin.

     

  • Partai Banteng Mendengus, Mau ke Mana?

    Partai Banteng Mendengus, Mau ke Mana?

    Partai Banteng Mendengus, Mau ke Mana?
    Antropolog, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    PARTAI
    Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mendengus. Terdengar dari panggung penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI-P di Ancol, Jakarta, Senin (12/1/2026). Baik melalui rekomendasi maupun pidato ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri.
    Secara metaforis, saya memilih kata “mendengus”. Istilah ini merujuk suara binatang, di antaranya banteng, saat menghembuskan napas kuat-kuat. Biasanya karena ketidakpuasan, kesal, atau sebagai respons terhadap sesuatu hal.
    Dengusan Partai Banteng – sebutan populer PDI-P, saya yakin, ditunggu publik. Tinggal PDI-P, kekuatan politik parlemen yang secara teoritis potensial memberikan kontrol politik.
    Partai yang lain telah berada pada barisan koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
    Jika melihat jumlah kursi di Senayan, kendati PDI-P terbanyak di antara partai parlemen, suara kritisnya tentu tak akan pernah memenangi pengambilan keputusan. Perdebatan bisa saja sengit, tapi keputusan akan tetap dimenangi suara mayoritas koalisi pemerintah.
    Namun, urgensi kontrol politik bukan soal kalah atau menang dalam pengambilan keputusan. Kontrol politik dibutuhkan oleh pemerintahan demokratis agar terjadi perimbangan kekuasaan.
    Tanpa kontrol politik, pemerintah cenderung sewenang-wenang, semau-maunya; cenderung merasa benar.
    Pemerintah dikhawatirkan gampang tergoda dan terjerumus pada praktik otoritarianisme. Termasuk turunannya, “otoritarianisme populis”, otoritarianisme yang berlindung di balik wajah populisme.
    Saya kira, PDI-P memiliki catatan reflektif lengkap perihal pemimpin otoriter populis. Partai Banteng memiliki pengalaman mengawal rezim pemerintahan yang terpilih secara demokratis dan berwajah populis, tapi berujung pada praktik otoritarianisme populis.
    Catatan itu boleh jadi “menyadarkan” PDI-P bahwa pemerintahan yang terpilih secara demokratis dan berwajah populis bisa saja tergelincir pada jalan otoritarianisme, tatkala kontrol politik melemah, atau sengaja dilemahkan.
    Kekuasaan lalu berani menyimpangi konstitusi dan mengotak-atik regulasi demi kepentingan yang tak berpihak kepada rakyat dan keadilan sosial. Megawati menyebutnya, legitimasi elektoral tidak otomatis menjamin terwujudnya keadilan sosial.
    Saat penutupan Rakernas I 2026, Megawati menegaskan bahwa pemerintah bukanlah musuh, melainkan objek kritik kebijakan. Dan, itu sah dalam sistem demokrasi.
    Pemikiran tersebut, saya kira, mendasari sikap PDI-P untuk memilih posisi di luar pemerintahan, yakni sebagai partai penyeimbang pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran.
    Megawati tidak menggunakan istilah “oposisi”, tapi “penyeimbang”. Saya kira, tak perlu dipermasalahkan istilahnya. Yang terpenting, kebutuhan perimbangan kekuasaan terpenuhi.
    Saya membaca, hal itu disadari dan ditekankan betul oleh Megawati. Putri Bung Karno itu menilai peran partai penyeimbang sangat penting untuk menjaga arah demokrasi dan kepentingan rakyat.
    Terlebih lagi, kata Megawati, situasi politik Indonesia saat ini ditandai oleh dominasi kekuasaan dan koalisi besar.
    Megawati menekankan bahwa posisi penyeimbang bukanlah posisi netral atau abu-abu. Menurut Megawati, dengan posisi penyeimbang, pada satu sisi PDI-P bisa mendukung kebijakan negara dengan catatan.
    Yakni, kebijakan negara harus berpihak kepada rakyat, menjamin keadilan sosial, memperkuat kedaulatan nasional, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
    Pada sisi lain, PDI-P wajib mengoreksi, menentang, bahkan melawan kebijakan yang menyimpang dari Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
    Kalimat “wajib mengoreksi, menentang, bahkan melawan kebijakan yang menyimpang” patut digarisbawahi. Sekaligus memperjelas pengertian pemerintah sebagai objek kritik kebijakan, bukan musuh.
    Megawati menyebut “penyeimbang yang dewasa, ideologis, dan berakar kuat pada rakyat”. Setiap sikap kritis dan pengawasan terhadap kekuasaan harus berbasis data, nilai ideologi, dan pengalaman nyata rakyat. Bukan reaktif dan destruktif.
    Dengan demikian, kontrol politik Partai Banteng bukan dimaksudkan untuk mengganggu pemerintahan, juga bukan untuk menciptakan instabilitas politik.
    Menurut Megawati, PDI-P akan menjamin stabilitas politik sepanjang dibangun dengan tidak mengorbankan kedaulatan rakyat (demokrasi), keadilan sosial, dan keadilan ekologis.
    Rakernas I PDI-P yang bertepatan dengan HUT ke-53 itu secara substantif menjanjikan tata pemerintahan demokratis yang sehat. Namun, waktu juga yang akan mengujinya.
    Setidaknya, menurut saya, rekomendasi yang disampaikan di penutupan Rakernas relatif tajam dan menyentuh isu krusial yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo.
    Di antaranya, deforestasi dan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang menyebabkan krisis ekologis.
    PDI-P menuntut pengelolaan SDA wajib berada di bawah kedaulatan negara dengan melibatkan rakyat. SDA harus sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan menjunjung keadilan ekologis.
    Penguatan fungsi kontrol (
    checks and balances
    ) secara kritis dan efektif, penguatan masyarakat sipil, reformasi TNI dan Polri, juga menjadi poin rekomendasi PDI-P.
    Juga isu lain yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintahan Presiden Prabowo, termasuk peningkatan kualitas demokrasi dan kebebasan berpendapat yang akhir-akhir ini dikeluhkan publik.
    Yang menarik dan hangat di ruang publik, PDI-P terang-terangan mengambil posisi berbeda dengan partai koalisi pemerintah terkait isu pemilihan kepala daerah.
    Sebagaimana kita ketahui, akhir-akhir ini isu pemilihan kepala daerah menyedot perhatian publik.
    Partai koalisi pemerintah cenderung menyetujui gagasan pemilihan kepala daerah dikembalikan pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), atau pemilihan tidak langsung. Untuk pemilihan gubernur oleh DPRD provinsi, pemilihan bupati/wali kota oleh DPRD kabupaten/kota.
    Alasannya, pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat berbiaya mahal. Ongkos politik yang besar dipandang sumber korupsi. Juga alasan lain yang bersifat teknis.
    PDI-P secara tegas menolak gagasan tersebut. Pemilihan lewat DPRD dipandang mengingkari prinsip kedaulatan rakyat yang sudah diberikan kepada rakyat. Pemilihan langsung oleh rakyat dinilai sebagai cara memperkuat legitimasi.
    PDI-P membantah alasan pemilihan langsung berbiaya mahal. Karena itu, Partai Banteng juga merekomendasikan hal teknis untuk menekan biaya politik pemilihan kepala daerah.
    Di antaranya, penerapan e-voting, penegakan hukum, pencegahan pembiayaan rekomendasi calon (mahar politik), pembatasan biaya kampanye, profesionalitas dan integritas penyelenggara.
    Rekomendasi Rakernas yang dikuatkan oleh pidato Megawati, baik saat pembukaaan maupun penutupan, menunjukkan bahwa Partai Banteng sedang mendengus.
    Dengusannya bukan saja diarahkan keluar sebagai kritik dan masukan buat pemerintahan Prabowo, melainkan juga untuk kepentingan internal.
    Melalui Rakernas, sang ketua umum merevitalisasi moralitas politik untuk kader-kadernya, sejalan dengan problematika mutakhir yang dihadapi umat manusia. Megawati melihat krisis ekologis menjadi musuh bersama.
    Karena itu, dengan tegas Megawati melarang kader-kadernya menjadi bagian dari sistem yang merusak alam demi kepentingan sesaat.
    Bagi Megawati, politik adalah jalan pengabdian. Pengabdian tentang apa? Megawati merumuskannya dengan kata-kata puitis: “pandu Ibu Pertiwi”.
    Kader PDI-P wajib menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kekuasaan dan moral, antara pembangunan dan keadilan.
    Kata Megawati, kader Partai Banteng harus berani mengatakan “tidak” pada kebijakan yang merusak bumi. Juga harus berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat.
    Itulah moralitas politik baru yang diucapkan dengan lantang oleh Megawati sebagai sandaran Partai Banteng. Di mata saya, moralitas politik yang diucapkan Megawati itu relevan sekali dengan kebutuhan zaman ke depan.
    Juga substansial sekali. Direfleksikan dengan pisau analisis marhaenisme ajaran Bung Karno dan diberi perspektif baru dari sudut ekologi. Sebutlah: eko-marhaenisme.
    Di tengah kecenderungan pragmatisme politik hari ini, moralitas politik yang diturunkan dari eko-marhaenisme itu terasa sangat mewah.
    Politik hari ini diperlakukan sekadar tangga menuju kekuasaan, dan kekuasaan dijalankan semata-mata ruang untuk bagi-bagi eksploitasi alam.
    Dengan tegas Megawati meminta kader-kadernya menolak. ”Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji,” kata Megawati dengan lantang.
    Sanggupkah kader-kader Partai Banteng terus mendengus? Biarlah sejarah menjawabnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.