Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta pelaku pasar dan investor untuk tidak mengkhawatirkan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang nyaris menyentuh batas aman 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Airlangga meyakini bahwa posisi fiskal Indonesia masih jauh lebih sehat dibandingkan banyak negara lain. Dia membandingkan dengan banyak negara yang mencatatkan defisit anggaran jauh lebih dalam, namun tetap tenang, meski dia tidak menyebut nama negara yang dimaksud.
“Jangan khawatir soal defisit anggaran 3%. Negara lain [defisitnya] dua kali lipat dan mereka tidak khawatir, jadi kenapa kita harus khawatir?” ujar Airlangga dalam sambutan dalam IBC Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Pernyataan ini merespons kekhawatiran pasar terkait realisasi defisit APBN 2025 yang tercatat sebesar 2,92% PDB. Angka ini memicu kekhawatiran karena sangat tipis di bawah mandatori batas defisit fiskal sebesar 3% sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 17/2003 tentang Keuangan Negara.
Mantan menteri perindustrian tersebut optimistis bahwa tantangan ekonomi yang selama ini membayangi Indonesia sudah berlalu. Saat ini, menurutnya, Indonesia justru tengah menikmati angin segar pemulihan.
Airlangga juga menekankan bahwa pemerintah tidak bermaksud meningkatkan ambang batas defisit APBN di atas 3% terhadap PDB.
“Tidak, tidak akan dinaikkan,” jelasnya.
Alasan Defisit Dekati 3%
Pemerintah mencatat bahwa APBN 2025 membukukan defisit sebesar Rp695,1 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa defisit APBN tersebut setara dengan 2,92% dari PDB atau melampaui outlook (2,78% dari PDB) maupun target APBN (2,53% dari PDB).
Dia merinci bahwa pendapatan negara mencapai Rp2,755,3 triliun per akhir Desember 2025. Realisasi itu setara 91,7% dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.005,1 triliun.
Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp3.451,4 triliun per akhir Desember 2025. Realisasi itu setara 95,3% dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.621,3 triliun.
Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp695 triliun atau setara 2,92% dari PDB.
“Anda pasti nanya, kenapa enggak dipotong belanjanya supaya defisitnya tetap kecil? Tapi kita tahu kan ketika ekonomi kita sedang down turn, turun ke bawah, kita harus memberikan stimulus ke perekonomian,” ungkap Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu, Jakarta pada Kamis (8/1/2026).
Bendahara negara itu menyatakan meski defisit melebar, namun tetap terjaga di bawah ambang batas 3% seperti yang diatur Undang-undang.
