Viral ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans, Ini Kata Psikiater soal Ciri Child Grooming

Viral ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans, Ini Kata Psikiater soal Ciri Child Grooming

Jakarta

Kisah Aurelie Moeremans di bukunya, ‘Broken Strings’, bukan sekadar memoar perjalanan hidup biasa. Pasalnya, buku tersebut berisi pengalaman Aurelie terkait child grooming di usia 15 tahun.

Menjadi korban di usia remaja, Aurelie menggambarkan betapa halus dan manipulatfnya cara pelaku masuk ke dalam kehidupan seorang anak.

Psikiater dr Lahargo Kembaren, Sp KJ, mengatakan child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, saat pelaku membangun kepercayaan kedekatan, emosional, dan ketergantungan pada anak dengan tujuan mengeksploitasi, baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.

“Yang berbahaya, grooming bukan peristiwa instan, tetapi proses bertahap,” ucapnya dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (17/1/2026).

“Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan.”

dr Lahargo mengatakan pelaku sering tampak sebagai orang dewasa yang ‘paling peduli’, kakak atau mentor yang ‘paling mengerti’, bahkan figur aman ketika anak merasa kesepian. Beberapa tipe child grooming menurut dr Lahargo sebagai berikut.

Emotional Grooming

Pelaku memposisikan diri sebagai:

Satu-satunya yang mengerti⁠Tempat curhat rahasiaPelindung dari dunia yang ‘tidak adil’

Anak dibuat merasa:

⁠Lebih aman dengan pelaku dibanding orang tuaBersalah jika menjauhTakut kehilangan ‘kedekatan’

“Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika,” ucapnya.

Authority Grooming

Pelaku menggunakan posisi kuasa:

Guru⁠PelatihPembina rohaniSenior atau mentor

Anak diajarkan:

“Jangan melawan””Ini demi kebaikanmu””Kamu harus patuh”

“Otoritas tanpa batas bisa berubah dari membimbing menjadi mengendalikan,” ucap dr Lahargo.

Digital / Online Grooming

Terjadi melalui:

Chat pribadiMedia sosialGame online

Biasanya dimulai dari:

Pujian berlebihanPerhatian intensHadiah virtualRahasia berdua

“Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap,” sambungnya.

Gradual Boundary Crossing

Pelaku perlahan:

Mengubah topik pembicaraanMenormalisasi hal yang tidak pantasMembuat anak bingung antara nyaman dan tidak nyaman

Anak sering berpikir:

“Aku nggak yakin ini salah… tapi rasanya aneh.”

“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” tutur dr Lahargo.

Halaman 2 dari 2

(suc/suc)