Seru-seruan Latih Logika Lewat Teka-teki Ini, Bisa Jawab 10 Detik?
Category: Detik.com Kesehatan
-

Bukan Karena Cinta, Psikiater Beberkan Alasan Pelaku Child Grooming
Jakarta –
Istilah child grooming belakangan viral setelah Aurelie Moeremans membagikan pengalamannya menjadi korban saat berusia 15 tahun. Lewat bukunya berjudul ‘Broken Strings’, Aurelie berharap kisah kelam tersebut menjadi pelajaran bagi gadis muda agar tidak terjebak dalam hubungan manipulatif.
Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak, dengan tujuan eksploitasi, baik emosional, psikologis, maupun seksual.
Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, Sp KJ, alasan pelaku melakukan grooming bukan karena cinta melainkan karena hal berikut.
Kebutuhan akan Kontrol
Pelaku merasa berkuasa saat bisa mengendalikan emosi dan keputusan anak.
Distorsi Kognitif
Pelaku membenarkan perilaku:
“Aku menyayangi, bukan menyakiti””Anaknya yang duluan nyaman”
Defisit Empati
Kesulitan merasakan penderitaan korban, fokus pada kepuasan diri.
Pengulangan Pola
Sebagian pelaku dulunya juga korban, namun luka yang tidak disembuhkan berubah menjadi pola menyakiti.
“Luka yang tidak disadari bisa berubah menjadi luka yang diwariskan,” dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (17/1/2026).
Adapun dampak child grooming terhadap korban kerap kali tak langsung terlihat, namun bisa muncul bertahun-tahun kemudian. Dampaknya, seperti:
Psikologis
Kebingungan emosiRasa bersalah berlebihanSulit percaya orang lainTrauma relasional
Relasi
Mudah terjebak hubungan tidak sehatSulit mengenali batasanTakut menolak
Diri Sendiri
Harga diri rendahMerasa “aku yang salah”Kesulitan berkata tidakBanyak korban baru menyadari:
“Oh… itu ternyata bukan kedekatan yang sehat.”
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)
-

‘Super Flu’ Menggila, Influenza di AS Meledak Jadi 18 Juta Kasus!
Jakarta –
Kasus flu di seluruh Amerika Serikat berada pada level tinggi, menurut data terbaru yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC).
CDC memperkirakan, sepanjang musim flu ini setidaknya telah terjadi 18 juta kasus, 230 ribu rawat inap, dan 9.300 kematian akibat flu.
“Saat ini, 14 negara bagian tercatat mengalami tingkat penyakit mirip flu pada kategori “sangat tinggi”, sementara 19 negara bagian lainnya berada pada kategori ‘tinggi’,” menurut data CDC, diktuip dari ABC News.
Setidaknya 15 kematian terkait flu dilaporkan di kalangan anak-anak selama pekan yang berakhir pada 10 Januari, sehingga total kematian anak akibat flu musim ini mencapai 32. Musim lalu tercatat rekor 289 anak meninggal akibat flu, angka tertinggi sejak CDC mulai melakukan pelacakan pada tahun 2004.
Menurut CDC, terdapat keterlambatan dalam pelaporan kematian anak-anak dan jumlah kematian kemungkinan besar kurang tercatat.
CDC menyebut, dari data anak-anak yang memenuhi syarat untuk menerima vaksin flu dan status vaksinasinya diketahui, 90 persen kematian anak pada musim flu ini terjadi pada anak yang belum divaksin influenza secara lengkap.
Sekitar 18,6 persen hasil tes menunjukkan positif flu pada pekan yang berakhir 10 Januari, dan angka ini menunjukkan tren menurun, menurut CDC.
Tren penurunan juga terlihat pada proporsi kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan akibat penyakit pernapasan, yakni 5,3 persen pada pekan yang sama.
Data menunjukkan, mayoritas kasus flu musim ini berkaitan dengan strain yang disebut subclade K, yaitu varian dari virus H3N2 (subtipe dari influenza A).
Subclade K telah beredar sejak musim panas di sejumlah negara dan menjadi pemicu utama lonjakan kasus flu di Kanada, Jepang, dan Inggris.
Dari 547 sampel H3N2 yang diuji sejak 28 September dan menjalani pemeriksaan lanjutan, lebih dari 90 persen di antaranya merupakan subclade K, berdasarkan data CDC.
“Kalau melihat apa yang kami temukan di sistem kami dan informasi dari layanan kesehatan lokal, ini cukup sejalan dengan apa yang banyak dari kami pahami tentang kondisi di masyarakat saat ini,” kata Dr Aaron Milstone, direktur pencegahan infeksi pediatrik di Johns Hopkins Health System, kepada ABC News.
“Kami tahu flu sudah ada, dan saat ini kondisinya cukup intens.”
CDC juga mencatat, mayoritas kunjungan ke dokter terjadi pada kelompok usia di bawah 24 tahun, terutama anak usia 4 tahun ke bawah.
Milstone mengatakan hal ini tidak mengejutkan karena anak-anak merupakan ‘reservoir’ atau sumber penyebaran penyakit pernapasan.
“Mereka banyak berada di lingkungan yang memudahkan virus menyebar, seperti sekolah, daycare, hingga playdate,” ujarnya.
“Lalu bisa ada jeda pada data, karena setelah itu banyak anak mengunjungi keluarga dan kakek-nenek mereka saat libur akhir tahun.”
CDC menyatakan, meskipun beberapa indikator aktivitas flu tampak stabil atau menurun selama dua pekan berturut-turut, pihaknya tetap memantau kemungkinan adanya gelombang kedua peningkatan kasus flu yang kerap terjadi setelah libur musim dingin.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video ‘Super Flu’ Subclade K Masuk RI, Ngaruh ke Kondisi Epidemi Influenza?”
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc) -

Viral ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans, Ini Kata Psikiater soal Ciri Child Grooming
Jakarta –
Kisah Aurelie Moeremans di bukunya, ‘Broken Strings’, bukan sekadar memoar perjalanan hidup biasa. Pasalnya, buku tersebut berisi pengalaman Aurelie terkait child grooming di usia 15 tahun.
Menjadi korban di usia remaja, Aurelie menggambarkan betapa halus dan manipulatfnya cara pelaku masuk ke dalam kehidupan seorang anak.
Psikiater dr Lahargo Kembaren, Sp KJ, mengatakan child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, saat pelaku membangun kepercayaan kedekatan, emosional, dan ketergantungan pada anak dengan tujuan mengeksploitasi, baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.
“Yang berbahaya, grooming bukan peristiwa instan, tetapi proses bertahap,” ucapnya dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (17/1/2026).
“Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan.”
dr Lahargo mengatakan pelaku sering tampak sebagai orang dewasa yang ‘paling peduli’, kakak atau mentor yang ‘paling mengerti’, bahkan figur aman ketika anak merasa kesepian. Beberapa tipe child grooming menurut dr Lahargo sebagai berikut.
Emotional Grooming
Pelaku memposisikan diri sebagai:
Satu-satunya yang mengertiTempat curhat rahasiaPelindung dari dunia yang ‘tidak adil’
Anak dibuat merasa:
Lebih aman dengan pelaku dibanding orang tuaBersalah jika menjauhTakut kehilangan ‘kedekatan’
“Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika,” ucapnya.
Authority Grooming
Pelaku menggunakan posisi kuasa:
GuruPelatihPembina rohaniSenior atau mentor
Anak diajarkan:
“Jangan melawan””Ini demi kebaikanmu””Kamu harus patuh”
“Otoritas tanpa batas bisa berubah dari membimbing menjadi mengendalikan,” ucap dr Lahargo.
Digital / Online Grooming
Terjadi melalui:
Chat pribadiMedia sosialGame online
Biasanya dimulai dari:
Pujian berlebihanPerhatian intensHadiah virtualRahasia berdua
“Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap,” sambungnya.
Gradual Boundary Crossing
Pelaku perlahan:
Mengubah topik pembicaraanMenormalisasi hal yang tidak pantasMembuat anak bingung antara nyaman dan tidak nyaman
Anak sering berpikir:
“Aku nggak yakin ini salah… tapi rasanya aneh.”
“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” tutur dr Lahargo.
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)
-

Komunitas Jalan Kaki Bermunculan, Alternatif Lari yang Mulai Dianggap Kompetitif
Jakarta –
Belakangan, mungkin media sosial mulai dipenuhi oleh konten-konten jalan kaki yang santai namun tetap dibungkus menarik oleh sebuah komunitas. Tak hanya sekadar melangkah, komunitas jalan kaki biasanya akan menyusuri gang-gang atau tempat-tempat ‘hidden gems’ yang sulit diakses dengan kendaraan bermotor.
Komunitas jalan kaki sendiri mulai marak bermunculan di banyak kota. Ini bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin bergerak, tetapi kondisi tubuh belum cukup ‘siap’ untuk lari atau mengikuti tren olahraga kekinian seperti padel.
Terlebih, muncul pikiran-pikiran soal olahraga lari kini mulai ‘eksklusif’. Lari tak lagi sekadar soal kesehatan. Target pace, podium, personal best (PB), hingga adu unggahan di media sosial membuat dunia lari terasa makin kompetitif.
Hal ini lah yang dirasakan oleh Mahesa (28), walking enthusiast di Malang yang mulai mengikuti agenda-agenda dari komunitas jalan kaki di kotanya bernama ‘uklamtahes’ sejak 2023 silam.
“Di lain sisi kan sekarang banyak komunitas lari, terus komunitas sepeda juga. Mereka kan bisa dibilang kompetitif ya, terus dengan adanya komunitas jalan kaki ini, kita bisa olahraga yang santai gitu,” kata Mahesa saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/1/2026).
“Karena kan ini jalan, masuk-masuk gang. Jadi nggak terlalu yang membutuhkan effort. Kalau lari kan butuh effort yang keras banget,” sambungnya.
Mahesa mengatakan, biasanya komunitas yang ia ikuti mengadakan agenda ‘jalan kaki blusukan’ sekitar 2-3 kali dalam sebulan. Di luar itu, dirinya juga mulai membiasakan untuk memilih jalan kaki, alih-alih menggunakan motor jika dirasa tujuannya tidak terlalu jauh.
“Contohnya kalau mau ngopi, jarak 1 km katakanlah, sekarang ini bisa ditempuh jalan kaki,” katanya.
Jalan kaki bersama komunitas, lanjut Mahesa juga dianggap lebih menyenangkan. Karena dapat bertemu orang-orang baru dan menjelajah tempat-tempat yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Jalan Kaki dan Efek Kesehatan
Meskipun tergolong sebagai olahraga intensitas ringan, jalan kaki bagi sebagian orang termasuk Mahesa memberikan beragam manfaat, salah satunya adalah membantu mengontrol berat badan.
“Kemarin itu di 2023 itu saya berat di 87 kg. Nah masuk awal tahun ini, lumayan turunnya, nggak terlalu signifikan sih sekarang di 80 kg, turun 7 kg lah,” katanya.
“Ngaruh juga sih di waktu tidur. Dulu kan seringnya begadang ya, setelah melakukan olahraga jalan itu, tidur jadi lebeih cepet lebih pulas juga,” sambungnya.
Senada, Aurel (24) walking enthusiast dari Malang mengatakan jalan kaki sekarang menjadi salah satu cara untuk menyegarkan diri di sore hari usai bekerja.
“Kalau untuk aku pribadi lebih kayak untuk nge-refresh aja sih terus kayak nafsu makan bertambah,” kata Aurel.
Menurut Aurel yang beberapa bulan ke belakang mulai aktif di komunitas jalan kaki mengaku tidak ada beban dalam berolahraga. Menurutnya, jalan kaki ramai-ramai membuat perjalanan jauh menjadi tidak terasa.
“Misalnya kita mau jalan 10 km gitu jadinya nggak kerasa. Enjoy aja, happy aja gitu. Kalau sendiri kan kayak sepi, bosen terus baru dapet berapa langkah udah cukup gitu,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)
-

Mana yang Lebih Rentan Terkontaminasi di Meja Makan?
Jakarta –
Larangan membawa tumbler di sejumlah restoran kerap memicu perdebatan. Sebagian konsumen menilainya berlebihan, sementara yang lain menganggapnya sebagai upaya menjaga kebersihan dan keamanan pangan. Dari sudut pandang ilmiah, isu ini sebenarnya tidak sesederhana boleh atau tidak membawa wadah minum sendiri. Risiko kontaminasi mikroba sangat dipengaruhi oleh kebiasaan penggunaan, frekuensi pembersihan, serta bagaimana benda-benda personal berinteraksi dengan makanan di ruang makan publik.
Dalam konteks ini, tumbler sering menjadi sorotan. Namun, pertanyaan penting lain muncul: apakah tumbler memang satu-satunya sumber risiko kontaminasi, atau ada benda sehari-hari lain seperti ponsel, yang justru luput dari perhatian, meski sering disentuh dan jarang dibersihkan?
Tumbler: Risiko Kontaminasi Langsung dalam Keamanan Pangan
Dalam konteks keamanan pangan, tumbler atau botol minum isi ulang berpotensi menjadi sumber kontaminasi mikroba karena bersentuhan langsung dengan mulut dan minuman. Risiko ini terutama meningkat bila tumbler jarang dibersihkan.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Food Protection dan Journal of Environmental Health menunjukkan bahwa sekitar 60-80 persen botol minum guna ulang mengandung bakteri, terutama pada tumbler yang jarang dicuci. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. dari kulit dan rongga mulut, serta bakteri coliform seperti Escherichia coli pada sekitar 5-20 persen tumbler sebagai indikator kebersihan yang kurang optimal.
Kontaminasi paling banyak ditemukan di bagian tutup, sedotan, dan ulir botol, area yang sulit dijangkau saat mencuci. Kondisi lembap akibat sisa minuman juga dapat mendukung pertumbuhan bakteri bila tumbler tidak dikeringkan dengan baik.
Perbedaan kebiasaan mencuci berpengaruh besar. Tumbler yang dicuci setiap hari menggunakan sabun tercatat memiliki tingkat kontaminasi bakteri lebih rendah hingga 50-70 persen dibandingkan tumbler yang hanya dibilas atau jarang dicuci. Temuan ini menunjukkan bahwa meski tumbler termasuk risiko paparan langsung, potensi tersebut sebenarnya dapat dikendalikan melalui kebiasaan kebersihan yang tepat.
Ponsel dan Barang Sehari-hari: Sumber Mikroba yang Sering Terlupakan
Jika pada tumbler risiko kontaminasi terutama muncul karena kontak langsung dengan mulut dan minuman, situasinya berbeda pada ponsel dan barang pribadi lain yang hampir selalu dibawa ke mana pun. Meski tidak bersentuhan langsung dengan makanan, ponsel kerap berperan sebagai perantara kontaminasi mikroba karena sering disentuh dan jarang dibersihkan.
Berbagai penelitian yang dipublikasikan di Journal of Environmental Health, BMC Infectious Diseases, dan American Journal of Infection Control menunjukkan bahwa sekitar 70-90 persen ponsel yang diperiksa terkontaminasi bakteri. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. yang berasal dari kulit dan tangan, serta Enterococcus spp. dan Bacillus spp. dari lingkungan. Sejumlah studi juga melaporkan keberadaan bakteri indikator sanitasi seperti Escherichia coli pada sebagian ponsel-dalam kisaran 10-30 persen-yang mengindikasikan kemungkinan paparan dari lingkungan yang kurang higienis.
Temuan ini menegaskan bahwa ponsel berpotensi menjadi sumber kontaminasi silang, terutama ketika digunakan sebelum atau saat makan, lalu diletakkan di meja dan disentuh kembali tanpa cuci tangan. Berbeda dengan tumbler yang umumnya setidaknya pernah dicuci, ponsel justru menjadi benda personal yang paling jarang dibersihkan meski intensitas kontaknya sangat tinggi.
Risiko Berbeda, Jalur Paparan Berbeda
Meski jenis bakteri yang ditemukan pada tumbler dan ponsel kerap mirip, para peneliti menegaskan bahwa perbedaan utama keduanya terletak pada jalur paparannya. Inilah yang membuat risiko kontaminasi dari kedua benda tersebut tidak bisa disamakan, meskipun sama-sama berpotensi membawa mikroba. Dalam kajian keamanan pangan yang dibahas di Journal of Food Protection dan International Journal of Food Microbiology, risiko dibedakan antara paparan langsung melalui makanan atau minuman dan paparan tidak langsung melalui kontaminasi silang.
Pada tumbler, risiko muncul karena kontak langsung dengan mulut dan minuman. Jika tumbler terkontaminasi, bakteri dapat masuk ke tubuh tanpa perantara, sehingga dikategorikan sebagai direct exposure. Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna, dan dapat ditekan secara signifikan dengan mencuci tumbler setiap hari menggunakan sabun, termasuk membersihkan bagian tutup dan sedotan.
Sementara itu, pada ponsel, paparan bersifat tidak langsung. Sejumlah studi yang dipublikasikan di Journal of Environmental Health dan American Journal of Infection Control menjelaskan bahwa ponsel dapat berperan sebagai fomite, yakni benda mati yang memindahkan mikroorganisme melalui tangan ke permukaan lain, termasuk meja makan dan makanan. Penelitian di BMC Infectious Diseases bahkan menyebut ponsel sebagai mobile reservoir of microbes, dengan mekanisme utama perpindahan bakteri melalui jalur tangan-permukaan-mulut (hand-to-surface-to-mouth transmission). Pola penggunaan inilah yang membuat ponsel dipandang sebagai perantara kontaminasi silang, meski tidak bersentuhan langsung dengan makanan atau minuman.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa menilai risiko keamanan pangan tidak cukup hanya dengan melihat ada atau tidaknya bakteri, tetapi juga bagaimana bakteri tersebut berpindah ke tubuh manusia. Tanpa memahami jalur paparan tersebut, fokus pada satu benda saja berpotensi menimbulkan rasa aman semu dalam praktik kebersihan sehari-hari.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: HP Jadul Naik Daun di Kalangan Gen Z, Kenapa?”
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)Tumbler Dilarang Masuk
4 Konten
Larangan membawa tumbler diberlakukan di sejumlah restoran. Aturan ini menuai pro dan kontra, baik dari sisi bisnis, etika, kesehatan, dan bahkan food safety.
Konten Selanjutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
-

Fakta-fakta Hipotermia di Balik Kematian Syafiq Ali Pendaki Gunung Slamet
Jakarta –
Seorang pendaki bernama Syafiq Ali Razan ditemukan meninggal setelah dinyatakan hilang lebih dari 17 hari. Belakangan, jenazah Syafiq Ali ditemukan Tim SAR, dugaan sementara dirinya mengalami hipotermia sebelum meninggal.
Mengapa Hipotermia Masuk Kondisi Darurat?
Dokter emergency dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB mengatakan hipotermia merupakan kondisi ekstrem yakni suhu tubuh seseorang menurun hingga berada di bawah normal.
Sebagai informasi, dr Wisnu tidak terlibat dalam penanganan kasus Syafiq Ali dan dihubungi pada waktu terpisah.
“Itu akan menyebabkan gangguan, terutama pada metabolisme kita seperti ‘contohnya Anda punya mobil, kemudian dia lama nggak dipanasin, artinya suhu mesinya rendah, maka kinerja mesin berkurang’ sama seperti pada tubuh kita,” kata dr Wisnu saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/1/2026).
Jika suhu tubuh seseorang menurun hingga 34 derajat Celsius, maka ini akan menyebabkan adanya gangguan di metabolisme.
“Dan apabila sangat berat kondisinya, di mana suhu tubuh sangat rendah, maka metabolisme akan berhenti dan itu yang dapat menyebabkan kematian,” kata dr Wisnu.
Berapa Lama Seseorang Bisa Bertahan?
Menurut dr Wisnu, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa hal seperti suhu lingkungan. Kondisi bisa diperparah saat seseorang berada di lingkungan yang dingin ekstrem seperti saat turun salju.
“Ini tergantung pada suhu di dalam tubuh kita, yang dipertahankan oleh metabolisme. Dan proses metabolisme terjadi karena pembakaran energi yang menimbulkan panas,” jelas dr Wisnu.
“Jadi kalau misalkan tubuh korban dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan, itu juga akan mempercepat terjadinya hipotermia,” tambahnya.
Pakaian basah juga bisa menjadi ‘bencana’. Pasalnya, ini dapat membuat seseorang bisa lebih cepat mengalami hipotermia.
“Kondisinya akan saling memperberat. Misalnya bajunya basah, dia mengalami dehidrasi, dan dia kekurangan energi misal tidak makan. Nah itu akan memperberat kondisi dari pasien, ehingga ini yang tidak bisa kita tentukan berapa lamanya,” katanya.
Saat menemukan pasien hipotermia, penting untuk dilakukan adalah memastikan mereka mendapatkan lingkungan yang hangat. Bisa dengan mengganti baju dengan yang kering.
Hipotermia Tidak Hanya Terjadi di Gunung
Banyak orang yang menganggap bahwa hipotermia di Indonesia hanya mungkin terjadi saat seseorang mendaki gunung. Anggapan ini lahir karena Indonesia sendiri merupakan negara tropis.
Padahal, menurut dr Wisnu hipotermia bisa terjadi di tempat-tempat yang bahkan tidak pernah diwaspadai, termasuk di Intalasi Gawat Darurat (IGD).
“IGD kita sebagian besar menggunakan pendingin ruangan, ini yang menyebabkan pasiennya kedinginan,” katanya.
Biasanya yang berisiko menurut dr Wisnu adalah pasien yang datang dengan energi tipis, kekurangan cairan, atau pendarahan.
“Pasien juga seringkali diberikan cairan yang tidak dihangatkan. Akibatnya adalah kita memasukkan cairan ke dalam tubuh korban dengan cairan yang dingin, otomatis suhu tubuh korban akan turun dan itu menyebabkan hipotermia,” katanya.
Penolongan Pertama Korban Hipotermia di Gunung
dr Wisnu membagikan tips untuk membantu korban yang mengalami hipotermia di gunung agar tidak berujung fatal.
“Pertama membuka pakaian yang basah. Kemudian ganti dengan pakaian kering. Kedua apabila pasien sadar, bisa diberika minuman atau makanan hangat supaya tubuhnya memiliki energi untuk metabolisme,” katanya.
“Ketiga, harus dipastikan pasien tidak mengalami dehidrasi. Apabila pasien tidak sadar harus segera dibawa turun untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut,” sambungnya.
dr Wisnu juga berpesan untuk para pendaki benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik, mental, dan perbekalan. Selain itu perbekalan ilmu juga perlu diperbanyak, agar meminimalisir risiko-risiko yang bisa terjadi saat pendakian.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Pertolongan Pertama Jika Hirup Bau Gas Menyengat”
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna) -

Bukan Terjadi Mendadak, Ahli Sebut Pola di Balik Kasus Serangan Jantung-Stroke
Jakarta –
Serangan jantung dan stroke sering dipersepsikan sebagai kondisi yang terjadi tiba-tiba pada orang yang terlihat sehat. Tetapi, studi besar terbaru menunjukkan fakta yang berbeda, bahwa kejadian tersebut tidak benar-benar terjadi mendadak tanpa tanda sebelumnya.
Peneliti menganalisis data kesehatan dari jutaan orang dewasa di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Mereka menemukan lebih dari 99 persen pasien yang mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung memiliki setidaknya satu faktor risiko jauh sebelum kondisi itu muncul.
Ada empat faktor utama yang paling sering teridentifikasi sebelum serangan kardiovaskular, yakni:
Tekanan darah tinggiKolesterol tinggiGula darah tinggiKebiasaan merokok (baik yang masih aktif maupun riwayat)
Fakta Lain dari Studi
Fakta dari temuan ini menepis anggapan bahwa serangan jantung atau stroke bisa menyerang siapa saja tanpa adanya tanda-tanda. Salah satu penulis studi, Profesor Philip Greenland dari Northwestern University, menekankan paparan dari satu atau lebih faktor risiko tersebut selalu mendahului kejadian kardiovaskular serius.
“Kami berpikir studi ini menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa paparan terhadap satu atau lebih faktor risiko non-optimal sebelum peristiwa kardiovaskular ini hampir 100 persen,” beber Greenland, dikutip dari laman News Northwestern.
Menurut temuan tersebut, pada kelompok yang berisiko rendah seperti perempuan di bawah usia 60 tahun, lebih dari 95 persen orang yang mengalami serangan jantung atau stroke memiliki setidaknya salah satu dari faktor risiko tersebut jauh dari kejadian pertama.
Dikutip dari Science Alert, studi ini menegaskan bahwa deteksi dini dan pengendalian faktor risiko bisa menjadi kunci utama pencegahan. Bukan sekadar berharap kondisi serius itu tidak terjadi secara tiba-tiba.
(sao/kna)
-

Ngilu! Momen Dokter Temukan Pinset ‘Nyangkut’ di Mr P Selama 4 Tahun
Sarah Oktaviani Alam – detikHealth
Sabtu, 17 Jan 2026 20:02 WIB
Jakarta – Seorang pasien pria berusia 22 tahun di Arab Saudi datang ke dokter dengan pinset yang menyangkut di penisnya. Benda itu ternyata sudah ada selama 4 tahun.
-

Viral Diet Karnivora, dr Tan Sebut Berpotensi Bisa Bikin Ginjal Rusak
Jakarta –
Ahli gizi dr Tan Shot Yen mengatakan tren diet karnivora yang belakangan ramai dicoba banyak influencer sebenarnya melanggar fitrah manusia. Pasalnya, manusia sendiri diciptakan sebagai makhluk omnivora.
“Pertama kita harus tahu bahwa manusia itu bukan makhluk karnivora, manusia itu adalah omnivora. Jadi dari fitrahnya aja udah ngawur kalau kita mau menerapkan diet karnivora,” kata dr Tan saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/1/2026).
“Buktinya kita adalah omnivora adalah kita giginya nggak kayak kucing yang semuanya taring. Kita kan punya gigi seri, geraham, jadi secara fitrah saja manusia nggak bisa digolongkan sebagai makhluk karnivor,” sambungnya.
Saat seseorang menjalani tren diet karnivora, menurut dr Tan akan terjadi ketidakseimbangan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Seperti protein-energi ratio (PE ratio) yang akan njomplang, yang akan berefek ke organ seperti ginjal.
“Ginjal akan bekerja lebih keras. Jadi orang-orang dengan diet karnivora ini banyak sekali kerugiannya,” tegasnya.
Seperti yang dialami oleh influencer wanita di Dalla, Amerika Serikat bernama Eve Catherine (23) yang mengalami masalah ginjal serius akibat menjalani tren diet karnivora.
Gejala yang didapati Eve adalah kencing darah karena kadar protein dalam tubuhnya yang sangat tinggi. Setiap harinya, Eve hanya mengonsumsi telur, yogurt berprotein tinggi, dan daging sapi.
“Diet karnivora tentu orang cara masaknya kalau nggak dibakar, di-grill, digoreng kan nggak mungkin namanya daging cuma direbus, nggak ada rasanya,” kata dr Tan.
“Jadi salah satu diet yang paling ngawur adalah diet karnivora ini. Saya nggak ngerti tuh tujuannya apa, kalau kita bisa melakukan pola makan sehat yang seimbang kenapa mesti nyasar ke karnivora,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video dr. Tan Shot Yen: Siapkan 3 Tenda Ini saat Terjadi Bencana”
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)
