Bisnis.com, JAKARTA — Kelangkaan komponen global yang masih membayangi industri teknologi memaksa para vendor smartphone menyesuaikan strategi bisnis agar tetap kompetitif di pasar domestik. Penyesuaian harga hingga penguatan kualitas produk menjadi langkah utama yang ditempuh di tengah tekanan rantai pasok tersebut.
Marketing Director Xiaomi Indonesia Andi Renreng menyampaikan bahwa harga smartphone Xiaomi sejatinya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar, kebijakan pajak dan regulasi, biaya logistik, serta kondisi operasional di masing-masing pasar turut memengaruhi penetapan harga perangkat.
Dalam situasi pasar global yang dinamis, Xiaomi secara rutin melakukan evaluasi harga agar tetap mencerminkan kondisi riil sekaligus mendukung keberlanjutan investasi pada inovasi dan kualitas produk. Andi menegaskan, perusahaan tetap berpegang pada prinsip menghadirkan produk dengan nilai terbaik bagi konsumen, meski dihadapkan pada tantangan kelangkaan komponen.
“Setiap penyesuaian harga dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap dinamika pasar lokal, ekspektasi konsumen, dan peta persaingan, demi memastikan produk kami tetap menawarkan keseimbangan yang optimal antara performa, kualitas, dan keterjangkauan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, PR Manager vivo Indonesia Alexa Tiara menyatakan bahwa perusahaan tetap menempatkan pengguna sebagai prioritas, terlepas dari tantangan global yang dihadapi industri saat ini.
Vivo, lanjut Alexa, akan terus menekankan peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan, penyempurnaan pengalaman pengguna, serta konsistensi sistem layanan purnajual. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam jangka panjang, terutama ketika pasar dihadapkan pada isu keterbatasan komponen dan potensi kenaikan biaya produksi.
“Vivo berupaya menghadirkan pengalaman jangka panjang yang memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi para pengguna,” sebutnya kepada Bisnis.
Tekanan terhadap rantai pasok semikonduktor akibat lonjakan permintaan komponen untuk kecerdasan buatan (AI), disinyalir berdampak signifikan pada harga smartphone global pada 2026.
Dalam laporan terbaru Counterpoint, kekurangan chip memori, terutama dynamic random-access memory (DRAM), berpotensi mendorong kenaikan rata-rata harga jual smartphone (ASP) hingga sekitar 6,9% secara tahunan, hampir dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,6%.
Di sisi lain, Fransisco Jeronimo, Vice President Data & Analytics Device dari International Data Corporation (IDC) lebih rinci menerangkan kondisi ini terjadi didorong adanya ekspansi masif infrastruktur AI dan beban kerja komputasi berintensitas tinggi telah menyerap porsi besar kapasitas manufaktur memori global.
Beban kerja AI menuntut penggunaan memori dalam jumlah besar, sehingga produsen memilih mengalihkan produksi dari memori konvensional ke solusi memori berperforma tinggi dengan margin keuntungan lebih besar.
Alih-alih memperluas produksi DRAM dan NAND yang lazim digunakan pada ponsel pintar, komputer pribadi, dan perangkat elektronik konsumen lainnya, produsen memori utama justru memprioritaskan pengembangan memori yang digunakan pusat data AI, seperti high bandwidth memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas tinggi.
Pergeseran ini secara langsung membatasi pasokan modul memori di pasar, sekaligus mendorong kenaikan harga secara menyeluruh. “Dinamika tersebut menyebabkan ketersediaan DRAM untuk perangkat konsumen berkurang, memperburuk tekanan harga di pasar yang ketat,” jelas Jeronimo.
