Jember (beritajatim.com) – Hujan deras yang terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Senin (15/12/2025) lalu ternyata berpotensi mengulang banjir bandang besar sebagaimana awal 2006.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air Jember Arif Liyantono mengatakan, saat itu curah hujan 100-180 milimeter mengguyur sejak pukul 11 siang hingga tujuh malam. “Dengan curah hujan di atas 100 milimeter pasti kondisi luar biasa,” katanya, ditulis Selasa (23/12/2025).
Hujan deras yang terjadi di hulu daerah aliran sungai (DAS) Bedadung, Gunung Argopuro, dan Gunung Raung menyebabkan debit air dua sungai besar di Jember naik. “Debit air puncak di Bedadung sekitar 96,11 milimeter kubik per detik yang hampir mendekati debit pada saat banjir tahun 2006 yakni 100 meter kubik per detik,” kata Arif.
Tingginya debit ini terlihat di ketinggian pintu air bendung Rowotamtu. Air menyentuh pintu dengan ketinggian enam meter pada 2006. “Kemarin masih di pintu 5,6 meter. Jadi tinggal 0,4 meter lagi dipastikan banjir bandang di Jember. Kalau kemarin ada tambahan aliran sungai yang lain, ya pasti terjadi,” kata Arif.
Banjir bandang akhirnya tidak terjadi pada 15 Desember 2025. Namun ribuan rumah di 24 lokasi yang tersebar di 18 desa dan kelurahan, delapan kecamatan terendam air berlumpur dari luapan Sungai Bedadung, terutama di kawasan perkotaan. Sebanyak 1.428 keluarga terdampak.
Menurut Arif, Sungai Bedadung adalah jenis sungai yang berkelok-kelok yang mempunyai sifat kenaikan sedimentasi sangat cepat dan mengalami perubahan alur sungai. “Ini menyebabkan waktu genangan air agak lama,” katanya.
Arif mengatakan ada sejumlah faktor penyebab banjir di Jember. “Pertama alih fungsi lahan. Jelas dengan alih fungsi lahan, resapan air akan berubah. Sawah berubah menjadi pemukiman ataupun perumahan pasti. akan mengubah sifat tanah dari penyerapan air, serta memicu banjir pada waktu hujan,” katanya.
Faktor kedua, lanjut Arif, adalah drainase. “Sistem drainase kita belum terkelola dengan baik. Kita lihat juga sistem drainase di perumahan-perumahan, ini memang masih harus banyak kita kaji, kita evaluasi ulang,” katanya.
Berikutnya, penurunan muka air tanah secara massif karena penggunaan sumur dangkal di perumahan. “Keempat, penurunan daya dukung tanah yang menyebabkan tanah mudah rapuh dan longsor. Kelima peningkatan limbah. Dengan peningkatan populasi di perumahan, pasti juga ada peningkatan limbah padat cair, bahkan juga bisa dipastikan ada B3 yang memerlukan pengelolaan lebih baik,” kata Arif.
Faktor berikutnya adalah pencemaran udara dan suara serta gangguan ekosistem. “Hilangnya vegetasi dan habitat alami pasti juga mengurangi keanekaragaman hayati flora dan fauna,” kata Arif.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember Suprihandoko mengatakan, retakan di lereng Hyang pegunungan Argopuro semakin meluas. “Sampai hari ini satu pun dari kita yang tidak menanam kayu yang kira-kira akarnya kuat mengikat (air) agar tidak terjadi banjir dan longsor,” katanya.
Anggota Komisi C Hanan Kukuh Ratmono berbeda pendapat. Kendati curah hujan saat ini tinggi, menurutnya, ada perbedaan kondisi dengan situasi banjir bandang di Jember pada 2006. “Pada 2006 ada sumbatan aliran di atas, terutama di lereng selatan Pegunungan Hyang, yang akhirnya ketika hujan deras sumbatan tersebut lepas dan akhirnya jadi banjir bandang,” katanya.
Sementara itu kondisi pada 2025 berbeda. “Hujan deras pada 2025 itu terjadi karena mungkin cuaca panas di daerah tropis ini berbeda, dan akhirnya terbentuk siklon. Bibit siklon di daerah selatan, akhirnya membuat cuaca ekstrem, hujan deras,” kata Hanan.
Banjir terjadi di Jember, menurut Hanan, karena aliran sungai dialihfungsikan untuk kepentingan perumahan. “Cuma kan kita enggak boleh menoleh ke belakang. Ini kita carikan solusi seperti apa. ke depan. Jangan membangun di aliran sungai. Yang sudah kadung gimana? Ayo kita pikirkan bersama,” katanya. [wir]
