Category: Beritajatim.com Politik

  • Dana Desa Sumenep 2026 Dipangkas Drastis, Program Infrastruktur Terancam Batal

    Dana Desa Sumenep 2026 Dipangkas Drastis, Program Infrastruktur Terancam Batal

    Sumenep (beritajatim.com) – Berkurangnya pagu Dana Desa (DD) 2026 di Kabupaten Sumenep membuat desa-desa harus melakukan penyesuaian program.

    Ketua Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Kabupaten Sumenep, Abdul Hayat, mengatakan per desa besaran DD yang dipangkas sekitar Rp1 miliar. Ia mencontohkan Desa Pinggir Papas yang dipimpinnya.

    Tahun 2025, desanya menerima DD sekitar Rp1,3 miliar. Tahun 2026, anggaran yang diterima sekitar Rp300 juta lebih. Karena itu, banyak program yang perlu dilakukan penyesuaian.

    “Sektor yang paling terdampak pemangkasan itu tentu saja pembangunan infrastruktur desa. Cukup banyak kegiatan fisik yang sudah direncanakan sejak pertengahan 2025, mau tidak mau harus dibatalkan, karena tidak ada anggarannya,” ungkap kepala desa yang biasa disapa Ubaid.

    Ia memaparkan, penggunaan Dana Desa yang diterima pada 2026 sudah memiliki petunjuk teknis dari pemerintah pusat, yakni difokuskan pada program prioritas yang bersifat wajib. Salah satunya adalah penanganan kemiskinan ekstrem melalui Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD).

    “Selain itu, juga untuk penguatan desa tangguh bencana dan ketahanan iklim. Kemudian peningkatan layanan dasar kesehatan di tingkat desa, serta program ketahanan pangan, termasuk penguatan lumbung pangan dan lembaga ekonomi desa,” terangnya.

    Selain itu, DD digunakan untuk Koperasi Merah Putih, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur melalui program Padat Karya Tunai Desa, serta pengembangan infrastruktur digital desa dan sektor prioritas lainnya sesuai potensi desa.

    “Dengan skema itu, porsi anggaran untuk pembangunan infrastruktur desa menjadi sangat kecil. Bahkan hampir tidak ada ruang bagi desa untuk membiayai pembangunan fisik tahun ini,” ucapnya.

    Dana Desa (DD) di Kabupaten Sumenep untuk tahun 2026 turun drastis dibanding tahun 2025. DD pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp335 miliar lebih. Sedangkan pada tahun 2026, DD yang diterima Sumenep sebesar Rp109 miliar lebih, atau berkurang Rp225 miliar.

    Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep, Anwar Sahroni, menjelaskan turunnya besaran DD tersebut bukan berarti Dana Desa yang menjadi hak desa dihilangkan, namun sebagian dialokasikan untuk program pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo.

    “Jadi sebenarnya dana desa itu tidak dikurangi. Tetap menjadi milik desa. Hanya saja, pelaksanaannya langsung ditangani pusat untuk kepentingan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih,” terangnya. (tem/kun)

  • Proyek Drainase Suhat Hampir Rampung, Emil Dardak Siapkan Trotoar Nyaman di Kota Malang

    Proyek Drainase Suhat Hampir Rampung, Emil Dardak Siapkan Trotoar Nyaman di Kota Malang

    Malang (beritajatim.com) – Proyek drainase di kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) hampir rampung atau tinggal penyelesaian akhir pada Januari 2026 ini. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, didampingi Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, saat peninjauan pada Selasa (13/1/2026).

    Emil mengatakan, akan ada pekerjaan lanjutan yaitu pembangunan trotoar atau pedestrian agar pejalan kaki nyaman dan arus lalu lintas lancar. Pengerjaannya akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jatim dengan berkoordinasi dengan Pemkot Malang.

    “Kita koordinasi dengan Pemkot bagaimana penanganannya supaya sinergi dengan pengaturan lalu lintas. Jangan sampai saat pengerjaan, pedagang sengsara dua kali,” kata Emil.

    Emil berharap proyek mempercantik kawasan Suhat Kota Malang nantinya harus menyesuaikan dengan aktivitas ekonomi masyarakat agar tidak terganggu kembali. Suhat nantinya diproyeksikan menjadi contoh penataan pedestrian terbaik di Jatim. “Malang bisa jadi kota percontohan. Apalagi Malang sekarang berstatus kota metropolitan,” ujar Emil.

    Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, berpesan fasilitas yang sudah dibangun harus dijaga dengan baik. Ia juga berharap masyarakat bersabar selama pengerjaan yang hampir rampung 100 persen, karena pembangunan ini untuk penataan kawasan yang lebih baik.

    “Area di atas drainase akan kita jadikan fasilitas jalan umum, sehingga nanti akan kita larang dan tertibkan (pedagang membandel). Semua harus steril dan menjadi fasilitas umum sehingga kota kita semakin cantik dan bagus,” kata Ali. (luc/kun)

  • Wabup Sidoarjo Resmikan Dapur MBG Desa Temu, Warga Diajak Aktif Awasi Keamanan Pangan

    Wabup Sidoarjo Resmikan Dapur MBG Desa Temu, Warga Diajak Aktif Awasi Keamanan Pangan

    Sidoarjo (beritajatim.com) – Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, meresmikan gedung dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Temu, Kecamatan Prambon, Selasa (13/1/2026).

    Dapur ini akan melayani kebutuhan makanan bergizi bagi para penerima manfaat, khususnya murid sekolah. Wabup Hj. Mimik Idayana mengajak warga sekitar untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga turut berperan aktif dalam pengawasan sehari-hari.

    Menurutnya, keamanan dan kualitas makanan tidak bisa hanya dibebankan kepada pengelola dapur. Keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan, mulai dari memastikan dapur selalu steril, peralatan memasak bersih, hingga menu yang disajikan benar-benar higienis dan layak konsumsi.

    “Pengawasan bersama menjadi sangat penting, apalagi belakangan ini banyak beredar informasi di media sosial tentang dugaan keracunan massal di beberapa daerah. Kita tentu tidak ingin hal seperti itu terjadi di Sidoarjo,” katanya.

    Hj. Mimik berharap dapur SPPG Desa Temu dapat menjadi contoh penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan bagi dapur-dapur MBG lainnya di Sidoarjo, baik dari sisi pengelolaan maupun disiplin kerja petugas dapur.

    Selain itu, Mimik Idayana menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan program nasional yang dirancang untuk jangka panjang. Oleh karena itu, ia meminta yayasan pengelola, sekolah, serta pemangku kepentingan lainnya untuk lebih aktif menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.

    “Masih ada yang beranggapan program ini akan diganti dengan bantuan uang tunai. Sampai hari ini, hal itu tidak benar. Program yang berjalan tetap Makan Bergizi Gratis dan akan terus dilaksanakan,” tegas wanita yang akrab disapa Mak Mimik itu.

    Ia juga mengakui masih ada sebagian pihak yang ragu mendukung pendirian dapur MBG di lingkungannya. Untuk itu, ia mengajak kepala sekolah, guru, orang tua murid, dan warga sekitar untuk bersama-sama mengawal program ini demi masa depan gizi anak-anak Sidoarjo.

    Koordinator SPPG 001 Prambon, Wahyu Sejati, menyampaikan bahwa dukungan pemerintah daerah menjadi kunci hingga dapur SPPG Desa Temu dapat beroperasi. Ia berharap dapur ini mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi anak-anak penerima manfaat, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

    “Dapur ini kami siapkan agar benar-benar bisa melayani masyarakat dengan baik. Kami berterima kasih atas pendampingan dan dukungan, khususnya dari Ibu Wakil Bupati, sejak awal pembangunan hingga hari ini,” terangnya.

    Menurut Wahyu, keberadaan dapur SPPG juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pemanfaatan produk lokal sebagai bahan baku makanan.

    Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, H. Kayan. Ia menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis nasional yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat sehingga harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian.

    “Di Kecamatan Prambon sendiri sudah ada tiga dapur SPPG. Dapur Desa Temu ini layak menjadi rujukan, asalkan aspek keamanan, ketertiban, dan kenyamanan benar-benar dijaga,” paparnya.

    Kayan menekankan peran sentral pengelola dapur dan yayasan dalam menjaga kualitas layanan dan disiplin kebersihan. “Anak-anak kita adalah aset bangsa. Program ini akan berhasil jika semua pihak mau saling mengingatkan dan bekerja bersama,” pungkasnya. (isa/kun)

  • Jelang Munas X, DPP LDII Kunjungi PP Muhammadiyah untuk Perkuat Sinergi

    Jelang Munas X, DPP LDII Kunjungi PP Muhammadiyah untuk Perkuat Sinergi

    Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus DPP LDII bersilaturahmi ke kantor PP Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (13/1/2026). Silaturahmi tersebut sebagai bagian dari etika berorganisasi jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) X LDII.

    Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso mengatakan, silaturahmi tersebut merupakan sarana ukhuwah antarormas Islam.

    “Dalam hal-hal yang bersifat formal, seperti kami akan menyelenggarakan munas, tentu kami harus berdiskusi dengan ormas Islam lainnya. Silaturahmi ini penting, karena sebagai sesama muslim kami memiliki tanggung jawab membangun bangsa dan negara,” ujar KH Chriswanto.

    Terkait dengan persiapan Munas X LDII yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026 mendatang, KH Chriswanto menegaskan, berbagai persoalan kebangsaan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, peran pemerintah perlu didukung oleh ormas-ormas keagamaan agar solusi yang dihasilkan lebih optimal.

    “Permasalahan bangsa ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah atau satu ormas. Indonesia dibangun atas dasar perbedaan, dan justru perbedaan itu memperkaya upaya membangun Indonesia,” tutur Chriswanto.

    Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya komunikasi dan silaturahmi agar antarlembaga dapat saling melengkapi kelebihan dan meminimalkan kekurangan. Menurutnya, ormas keagamaan memiliki harapan besar dari umat Islam untuk terus berkontribusi dalam mendukung negara.

    KH Chriswanto juga berharap kerja sama antara LDII dan Muhammadiyah tidak hanya terjalin dalam momentum Munas X LDII, tetapi berlanjut secara berkesinambungan di berbagai bidang. “Kami sebagai saudara yang lebih muda banyak belajar, terutama di bidang sosial, pengelolaan aset, pendidikan, dan kesehatan. Selama ini kami banyak meniru karena ada banyak kesamaan. Silaturahmi ini untuk memperdalam proses belajar agar menjadi lebih baik lagi,” katanya.

    Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tabligh, Dakwah Komunitas, Kepesantrenan, dan Pembinaan Haji-Umrah, KH Saad Ibrahim menyambut kehadiran jajaran pengurus LDII tersebut. “Atas nama Pimpinan Muhammadiyah menyampaikan terima kasih atas kehadirannya kepada DPP LDII untuk yang kedua kalinya ini. Kita saling belajar, kita saling melihat sisi positif dari masing-masing, lalu kemudian kita gunakan untuk kekuatan kita bersama,” ujar KH Saad.

    Ia berharap ukhuwah dengan ormas Islam, termasuk dengan LDII, dapat terus terjalin. Ke depan, diharapkan ada kerja sama yang konkret dalam konteks umat, kebangsaan, dan konteks universal.

    Lebih lanjut, KH Saad menegaskan, kebersamaan antarormas Islam telah terbangun sejak lama, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara batin. “Kebersamaan itu bukan sekadar soal bertemu. Walaupun tidak bertemu, batin kita sudah menjadi satu, ini harus menjadi bagian dari pandangan kita terhadap ormas-ormas, khususnya ormas keagamaan,” ujarnya.

    KH Saad menambahkan, audiensi LDII dengan Muhammadiyah diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan kerja sama yang konkret dan berkelanjutan, demi kemaslahatan umat dan bangsa. KH Saad juga mendoakan agar pelaksanaan Munas X LDII 2026 berjalan lancar dan sukses.

    “Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah, diberikan pertolongan dan kesuksesan. Seluruh kebaikan dan ikhtiar demi kemaslahatan umat yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dan menjadi lebih baik,” tuturnya.

    Menurutnya, kerja sama lintas ormas tidak hanya penting bagi LDII dan Muhammadiyah, tetapi juga dengan seluruh elemen masyarakat. Kesamaan nilai dan kepedulian sosial menjadi modal penting dalam membangun umat dan bangsa secara bersama-sama.

    Audiensi ini menjadi komitmen LDII dan Muhammadiyah untuk terus memperkuat sinergi, menjaga ukhuwah, serta berkontribusi aktif dalam mendukung pembangunan nasional dan kemaslahatan umat. (tok/kun)

  • 9 Bulan Tanpa Listrik dan Air, Penghuni Bale Hinggil Mengadu ke DPRD Surabaya

    9 Bulan Tanpa Listrik dan Air, Penghuni Bale Hinggil Mengadu ke DPRD Surabaya

    Surabaya (beritajatim.com) – Aduan warga Apartemen Bale Hinggil kembali mencuat dalam hearing Komisi A DPRD Kota Surabaya, Selasa (13/1/2026). Ratusan penghuni mengaku hidup tanpa listrik dan air bersih akibat pemutusan sepihak oleh pengelola selama lebih dari sembilan bulan.

    “Permasalahan Bale Hinggil ini berlarut-larut karena pengelolaan yang buruk. Kami melihat ada premanisme terselubung. Listrik dan air dimatikan bukan karena kami tidak mau bayar, tapi karena kami tidak mau diperas,” tegas Christianto, salah satu penghuni.

    Hearing yang digelar untuk mencari solusi kembali berlangsung tanpa kehadiran pengembang dan pengelola, yakni PT Tlatah Gema Anugrah dan PT Tata Kelola Sarana. Keduanya tercatat dua kali mangkir dari undangan DPRD setelah sebelumnya juga tidak hadir pada 16 Desember 2025.

    “Kami sudah bayar lunas unit yang kami beli, tapi sampai detik ini tidak bisa menikmati hak dasar kami. Listrik dan air dimatikan dengan dalih tidak membayar IPL,” ujarnya.

    Christianto menyebut para penghuni belum mendapatkan Akta Jual Beli dan sertifikat kepemilikan meski unit telah dilunasi. Ia menegaskan kewajiban pembayaran Iuran Pengelolaan Lingkungan masih berada di tangan pengembang selama AJB belum terbit.

    “Kami bukan tidak mau bayar IPL. Tapi selama AJB belum ada, kewajiban itu ada di pengembang. Ini sesuai undang-undang,” katanya.

    Ia mengungkapkan pemutusan layanan dasar tidak hanya dialami segelintir warga. Lebih dari 300 penghuni terdampak dan hanya mereka yang membayar berbagai pungutan tambahan yang tetap mendapat layanan.

    “Yang masih teraliri itu karena mau diperas. Mereka bayar service charge, denda, sampai PBB. Padahal ada dugaan PBB juga tidak dibayarkan oleh pengelola,” ungkapnya.

    Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menyatakan kekecewaannya atas absennya pengembang dan pengelola. Ia menilai ketidakhadiran tersebut sebagai bentuk tidak adanya itikad baik.

    “Kami menyesali dan menganggap ketidakhadiran PT Tlatah Gema Anugrah dan PT Tata Kelola Sarana sebagai bentuk tidak adanya itikad baik untuk mencari solusi bersama,” tegas Cak Yebe, sapaan akrabnya.

    Meski tanpa kehadiran pihak pengelola, Komisi A tetap mengeluarkan rekomendasi. DPRD memberi waktu 14 hari kalender untuk penyelesaian AJB, pembentukan P3SRS, serta pemulihan layanan air dan listrik.

    “Kami merekomendasikan kepada Pemkot Surabaya agar memberikan surat pemberitahuan resmi. Dalam waktu 14 hari harus ada penyelesaian. Jika tidak, operasional dan izin pengelolaan bisa dihentikan,” kata dia. [asg/kun]

  • Pilkada Tak Langsung Mengemuka, PKB Bojonegoro Sebut Bukan Hal Baru

    Pilkada Tak Langsung Mengemuka, PKB Bojonegoro Sebut Bukan Hal Baru

    Bojonegoro (beritajatim.com) — Wacana pemilihan kepala daerah oleh anggota legislatif kembali menguat dan mendapat respons positif dari sejumlah partai politik di daerah. Di Kabupaten Bojonegoro, dukungan terhadap gagasan tersebut mulai disuarakan secara terbuka oleh partai-partai parlemen.

    Sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bojonegoro yang juga menjabat Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, menyatakan pihaknya mendukung rencana tersebut sesuai dengan arahan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB.

    Umar menilai mekanisme pemilihan kepala daerah melalui lembaga legislatif bukanlah hal baru dalam perjalanan demokrasi Indonesia. “Skema ini bukan sesuatu yang asing. Dalam sejarah pemerintahan, sistem ini pernah diterapkan, termasuk di Bojonegoro,” kata Umar, Selasa (13/1/2026).

    Ia menjelaskan, sebelum pilkada langsung diberlakukan secara nasional pada 2005, pemilihan kepala daerah dilakukan melalui pemungutan suara di DPRD. Umar mencontohkan, pada tahun 2002 Kabupaten Bojonegoro pernah menggelar pemilihan bupati melalui mekanisme tersebut, yang kemudian menetapkan Santoso sebagai Bupati Bojonegoro periode 2002–2007.

    Menurut Umar, pemilihan kepala daerah oleh DPR berpotensi memberikan sejumlah keuntungan. Selain dapat menekan biaya politik yang selama ini dinilai cukup besar, kepala daerah terpilih juga dinilai bisa langsung fokus bekerja menjalankan visi dan misi pembangunan daerah.

    “Saya kira mekanisme ini bisa mengurangi beban biaya pilkada yang tidak sedikit. Kepala daerah juga bisa langsung bekerja tanpa beban politik yang terlalu panjang,” ujarnya.

    Dukungan serupa juga disampaikan DPC Partai Demokrat Bojonegoro. Melalui pernyataannya, Sukur Prianto menyebutkan bahwa sikap Demokrat di tingkat daerah sejalan dengan instruksi partai pusat.

    Menurutnya, gagasan tersebut layak dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif sistem demokrasi di daerah. “Kami mengikuti arahan pusat. Karena itu, Partai Demokrat Bojonegoro mendukung rencana kebijakan tersebut,” kata Sukur.

    Dalam wacana itu, ditingkat pusat dari delapan partai politik di parlemen, lima diantaranya menyatakan dukungan terhadap pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Kelima parpol itu yakni, Partai Golkar, Gerindra, PKB, Partai Nasdem, dan Partai Demomrat.

    Sedangkan dua parpol sekarang masih mengkaji wacana tersebut. Yakni, dari PKS dan PAN. Hanya satu parpol yang terang-terangan menolak, PDI Perjuangan. Namun, di Bojonegoro petinggi PDIP belum memberikan tanggapan saat berusaha dikonfirmasi jurnalis beritajatim.com.

    Baik melalui pesan singkat maupun panggilan telepon, Ketua DPC PDIP Bojonegoro Bambang Sutriyono dan Sekretarisnya, Doni Bayu Setiawan kompak tak berkomentar. [lus/suf]

  • Ke Mana Perginya Empati Media

    Ke Mana Perginya Empati Media

    “Pramugari Gadungan Nekat Buat Unggahan …”

    “Viral! Pramugari Gadungan Diamankan Petugas”

    “Ngotot Jadi Pamugari Gadungan! Nisya . . . .”

    “Teks foto: Seorang perempuan nekat mengenakan seragam pramugari Batik Air saat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang.”

    Inilah berita tentang seorang perempuan yang ditengarai menjadi pramugrasi palsu “hanya” karena ia mengenakan busana mirip seperti pramuragri.

    Lalu apa bedanya dengan laki-laki yang memakai baju loreng mirip seragam TNI? Mirip Polisi? Mirip ASN Mirip Guru? Lalu apa hak media untuk menghakimi dan memvonis pelakunya sebagai gadungan?

    Gadungan artinya palsu, tiruan, atau bukan yang sebenarnya. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang menyamar. Misalnya: polisi gadungan, pejabat gadungan, atau sesuatu yang dibuat-buat agar terlihat asli padahal palsu, dengan tujuan menipu atau memperdaya. Kata ini mirip dengan “abal-abal”. Misalnya: wartawan abal-abal.

    Ingin Tampak

    Perkara bermula ketika seorang perempuan mengenakan baju putih berpadu dengan rok bergaris. Nampaknya memang disengaja mirip seragam pramugari sebuah maskapai penerbangan. Dan, perempuan berinisial KN itu maunya memang ingin tampak seperti pramugari. Setidaknya di depan mata keluarganya.

    Di pesawat ia duduk sebagai penumpang. Ia memang membeli tiket, naik pesawat, mendarat, lalu pulang kepada keluarganya. Lagi-lagi ingin tampak sebagai seorang pramugari.

    Namun, di zaman bising media sosial ini, ketika kebenaran baru siap-siap memakai celana, kebohongan sudah menyebar cepat mengotori berjuta telinga. Yang sampai di telinga masyarakat adalah KN menipu sebagai pramugari gadungan. Penipuan macam apa yang telah dilakukannya? Ia hanya berperilaku sebagai penumpang, tidak bertindak sebagai pramugari. Dia tidak memeriksa tempat duduk penumpang, juga tak menurunkan bagasi?!

    Apakah Anda rela dituduh sebagai konsumen gadungan hanya karena memasuki restoran dengan berbapakaian sama atau mirip dengan pegawai restoran?

    Sesungguhnya, kalau memang benar, fakta di balik peristiwa ini bikin nyesek. KN mengenakan pakaian mirip seragam pramugari sekadar untuk menyenangkan keluarganya. Ia menipu keluarganya. Ia sudah terlanjur berkata kepada orangtua bahwa ia diterima bekerja sebagai pramugari. Kabarnya ia menjadi korban penipuan orang yang menjanjikan pekerjaan sebagai pramugari. Ia tertipu Rp30 juta.

    Hari itu ia berangkat ke bandara. Dari rumah berpakaian mirip pramugari agar di depan keluarga tampak sebagai pramugari. Tapi waktu boarding memanggil, ia tak lagi sempat berganti pakaian. Maka ia naik pesawat tetap dengan “baju seragam” untuk keluarganya. Baginya, pakaian itu adalah penjaga agar keluarganya tak segera tahu bahwa ia telah kehilangan kesempatan menjadi pramugari, sekaligus mengecewakan orang tuanya. Sebuah beban tak ringan.

    Sampai di sini kita boleh menyayangkan langkah media yang berhenti menyorot fokus hanya pada KN dan tak menyentuh pelaku kejahatan yang sesungguhnya: penipu yang telah menghancurkan harapan KN.

    Diksi Keras

    Hukuman media tak terkira pedihnya. Kata “gadungan” pun berhamburan di media. Diksi ini keras, penuh kecurigaan. Padahal KN membeli tiket, duduk, turun, dan pulang. Selesai.

    Media seperti paham yang sedang menjadi subyek beritanya “hanya” seorang perempuan lemah. Media menyebut nama lengkapnya. Memajang wajah, mengulang kata pura-pura dan gadungan. Bahkan video penjelasannya diberi judul “membuat pengakuan”.

    Tak ada niat saya menggurui. Hanya izinkan saya mengajukan pertanyaan penting dan sensitif ini, karena menyangkut etika jurnalistik, psikologi korban, dan bagaimana media membentuk narasi publik.

    Ada masalah framing dan diksi, pemilihan kata yang stigmatis. Media menggunakan istilah “gadungan” atau “palsu” yang sangat peyoratif, bermuatan negatif, dan menghakimi. Kata ini langsung menempatkan subjek sebagai penipu, padahal motivasinya ingin menyenangkan keluarga lebih kompleks.

    Bukankah kita bisa menggunakan deskripsi faktual dan netral, seperti “wanita yang mengenakan seragam pramugari tanpa menjadi pramugari” atau “terlibat dalam pemalsuan identitas terkait seragam.” Kita paham ada bahaya framing yang menyederhanakan cerita manusia yang rumit, menjadi sekadar sensasi “penipuan.”

    Pemberitaan seringkali terfokus pada “aksi” berupa memakai seragam, dan mengabaikan “mengapa.” Faktanya, ada tekanan psikologis pada KN yang ingin menyenangkan keluarga lantaran kegagalannya.

    Katanya jurnalisme yang baik seharusnya mencari akar sebab. Bukan hanya melaporkan gejala. Dengan mengabaikan motivasi, media gagal memberikan pemahaman utuh dan justru mendorong penghakiman publik.

    Sulit menghindari kesan bahwa judul dan thumbnail berita sengaja dibuat sensasional. Seperti “Pramugari Gadungan Tercibuk!” – sekadar untuk menarik klik. Ini mengorbankan empati dan kedalaman analisis.
    Tak pelak lagi, konflik antara etika dan bisnis media dan prioritas pada traffic dapat mengikis tanggung jawab sosial media untuk melaporkan dengan penuh perhatian.

    Minimize Harm

    Kita agaknya perlu bertanya, seberapa banyak identitas pribadi berupa foto, media sosial, kehidupan keluarga korban yan sudah diekspos? Apakah kita sudah menimbang dampak psikologis seperti rasa malu dan depresi obyek?

    Kita ingat prinsip minimize harm yang diterjemahkan menjadi “meminimalisir kerugian”, dalam kode etik jurnalistik. Media harus mempertimbangkan konsekuensi pemberitaan, terutama terhadap orang biasa yang bukan figur publik atau kriminal berbahaya.

    Apakah media sudah menghadirkan suara dari subjek, keluarganya, atau psikolog yang bisa menjelaskan fenomena sosial-psikologis di baliknya? Bukankah media berkewajiban memberikan ruang yang adil. Narasi tunggal dari pihak yang “menghukum” tidak membangun pemahaman publik yang sehat.

    Framing ini bisa menjadi contoh sempurna bagaimana media sering mengubah pelanggaran administratif/sosial ringan seperti pemalsuan identitas untuk kepuasan pribadi, menjadi narasi kriminalitas dan kebobrokan moral.

    Media sesungguhnya tahu, cerita ini sebenarnya tentang tekanan untuk terlihat sukses di media sosial dan di hadapan keluarga. Bukan tentang “pramugrari gadungan”.

    Bila perilaku media hanya berfokus pada sensasi “kepalsuan” berarti telah menjadikan penderitaan manusia yang kompleks menjadi sekadar tontonan, menguatkan stigma, dan melewatkan kesempatan untuk mendidik publik. Ini bukan hanya tentang satu wanita, tetapi tentang budaya pemberitaan yang gemar menghakimi dan tidak empatik, serta dampak riilnya pada kehidupan subyek pemberitaan.

    Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip celetukan Tukul Arwana yang pernah populer: Puas, puas, puas!?!

    Zainal Arifin Emka,
    Wartawan Tua, Pengajar Stikosa-AWS

  • Dugaan Penggelapan APBDes Desa Klesem Mencuat, DPMD Pacitan Buka Suara

    Dugaan Penggelapan APBDes Desa Klesem Mencuat, DPMD Pacitan Buka Suara

    Pacitan (beritajatim.com) – Dugaan penggelapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, mencuat ke publik. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Pacitan membenarkan bahwa Kepala Desa Klesem, Muhammad Mangsuri, telah berkonsultasi ke DPMD sejak Desember 2024 terkait persoalan internal pemerintahan desa.

    Persoalan tersebut bermula dari perilaku tidak biasa yang ditunjukkan Kaur Keuangan Desa Klesem, Erna Setyowati, yang menjabat sejak 2008. Ia disebut kerap menghindari kepala desa maupun perangkat desa lainnya serta jarang masuk kantor.

    Seiring waktu, kondisi tersebut memicu kecurigaan di internal pemerintahan desa. Dari hasil penelusuran awal, muncul dugaan adanya penggelapan anggaran desa yang diduga dilakukan oleh oknum perangkat desa.

    Kepala Bidang Pemerintahan Desa DPMD Pacitan, Sigit Dani Yulianto, mengatakan pihaknya telah memberikan arahan kepada kepala desa sesuai dengan kewenangan yang dimiliki dalam menangani persoalan di internal pemerintahan desa.

    “Karena kepala desa memiliki kewenangan pembinaan, kami sarankan untuk dilakukan pembinaan terlebih dahulu,” ujar Sigit, Selasa (14/1/2026).

    Menurut Sigit, langkah pembinaan diperlukan agar roda pemerintahan desa tetap berjalan normal. Ia menegaskan bahwa selain menangani persoalan yang muncul, kepala desa harus memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

    “Yang terpenting adalah menjaga agar pelayanan dan tata kelola pemerintahan desa tetap berjalan,” tegasnya.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah pos anggaran yang diduga diselewengkan tidak hanya berasal dari tahun anggaran 2025. Dugaan penyimpangan tersebut disebut-sebut juga terjadi pada beberapa tahun anggaran sebelumnya.

    Sementara itu, Kepala Desa Klesem, Muhammad Mangsuri, mengaku belum dapat memastikan besaran kerugian APBDes yang diduga digelapkan. Hingga kini, pemerintah desa masih melakukan proses penelusuran dan pendataan untuk mengetahui nilai pasti kerugian keuangan desa. [tri/beq]

  • Bupati Sidoarjo Resmikan RS Mitra Keluarga di Buduran, Perkuat Akses Layanan Kesehatan Warga

    Bupati Sidoarjo Resmikan RS Mitra Keluarga di Buduran, Perkuat Akses Layanan Kesehatan Warga

    Sidoarjo (beritajatim.com) – Bupati Sidoarjo, H. Subandi, meresmikan Rumah Sakit Mitra Keluarga Sidoarjo yang berlokasi di Jalan K.H. Ali Mas’ud, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Peresmian dilakukan secara simbolis melalui prosesi pengguntingan pita sebagai tanda resmi beroperasinya fasilitas kesehatan tersebut.

    Peresmian RS Mitra Keluarga Sidoarjo menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat akses dan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sidoarjo. Kehadiran rumah sakit swasta ini diharapkan mampu mendukung pelayanan kesehatan yang lebih cepat, merata, dan berkualitas.

    Bupati Sidoarjo H. Subandi menegaskan bahwa kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi secara adil dan menyeluruh. Ia menilai bertambahnya fasilitas kesehatan akan sangat membantu warga dalam mendapatkan layanan medis yang optimal.

    “Dengan bertambahnya fasilitas kesehatan seperti RS. Mitra Keluarga ini, masyarakat Sidoarjo akan semakin terbantu dalam memperoleh layanan kesehatan yang cepat, professional, dan manusiawi,” ujarnya.

    Menurut H. Subandi, rumah sakit ini juga diharapkan dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal.

    “Pelayanan harus diutamakan. Jika ada pasien yang membutuhkan penanganan segera, layani terlebih dahulu, administrasi bisa menyusul. Jangan sampai prosedur menghambat keselamatan pasien,” tegasnya.

    H. Subandi juga berharap RS Mitra Keluarga Sidoarjo mampu melayani berbagai segmen pasien, mulai dari pasien umum hingga peserta asuransi perusahaan, BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan.

    Direktur Regional RS Mitra Keluarga, dr. Sri Mawarti, M.M., menyampaikan bahwa Mitra Keluarga Sidoarjo merupakan rumah sakit ke-22 dalam jaringan Mitra Keluarga dan diresmikan bertepatan dengan peringatan ulang tahun Mitra Keluarga ke-37.

    “Kami berkomitmen penuh untuk memberikan layanan kesehatan yang bermutu tinggi dan berorientasi pada keselamatan pasien, serta teknologi dan kompetensi unggulan. Kehadiran rumah sakit ini bukan hanya menambah fasilitas kesehatan yang ada, tetapi memberikan nilai dan harapan baru bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya. Saat ini dengan hadirnya Mitra Keluarga Sidoarjo, maka 90% dari seluruh karyawan Mitra Keluarga Sidoarjo adalah warga dari Sidoarjo,” terangnya.

    RS Mitra Keluarga Sidoarjo dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare dan memiliki kapasitas 100 tempat tidur yang terdiri atas kelas I, II, III, dan eksekutif. Rumah sakit ini didukung berbagai layanan spesialis, antara lain spesialis anak, obstetri dan ginekologi, penyakit dalam, saraf, jantung, serta bedah.

    Selain layanan spesialis, RS Mitra Keluarga Sidoarjo juga menghadirkan sejumlah layanan unggulan atau center of excellence, di antaranya Orthopedic Center, Woman and Children Center, serta Neurovascular Center, yang dirancang untuk memperkuat layanan rujukan medis di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. [isa/beq]

  • Pemkot Blitar Gelontorkan Rp1,2 M untuk Bimbel Gratis Siswa Prasejahtera, Efektivitas Disorot

    Pemkot Blitar Gelontorkan Rp1,2 M untuk Bimbel Gratis Siswa Prasejahtera, Efektivitas Disorot

    Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Blitar mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,2 miliar untuk program bimbingan belajar (bimbel) gratis bagi siswa kelas XII dari keluarga prasejahtera. Program ini ditujukan untuk membantu 300 siswa agar memiliki peluang lebih besar menembus perguruan tinggi negeri (PTN).

    Melalui Dinas Pendidikan, program tersebut menyasar siswa dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2, serta kelompok rentan lainnya. Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Dindin Alinurdin, menyebut kebijakan ini sebagai langkah intervensi pemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi kalangan kurang mampu.

    “Anggaran yang kami siapkan sekitar Rp1,2 miliar untuk mendukung program bimbel gratis bagi siswa kelas 12 dari keluarga kurang mampu,” ujar Dindin, Selasa (13/1/2026).

    Berdasarkan pendataan Cabang Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama, sebanyak 300 siswa telah dipetakan sebagai calon penerima manfaat. Dengan skema tersebut, alokasi anggaran rata-rata mencapai sekitar Rp4 juta per siswa untuk durasi bimbingan selama tiga hingga empat bulan.

    Dindin menjelaskan, program bimbel gratis ini direncanakan mulai berjalan pada akhir Januari 2026. Pemerintah berharap intervensi tersebut dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

    “Program ini direncanakan mulai berjalan pada akhir Januari. Harapannya, siswa bisa lebih siap menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi,” katanya.

    Namun, pelaksanaan program dengan waktu yang relatif singkat menjelang ujian masuk PTN menjadi perhatian. Dengan sisa waktu kurang dari empat bulan, efektivitas bimbingan belajar dinilai sangat bergantung pada kualitas pengajar, ketepatan modul, serta metode pendampingan yang diterapkan.

    Selain aspek akademik, tantangan lain yang dihadapi siswa prasejahtera adalah kesiapan mental dalam menghadapi persaingan seleksi nasional yang ketat. Intervensi di fase akhir pendidikan menengah ini menuntut pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada materi ujian, tetapi juga penguatan kepercayaan diri dan manajemen belajar.

    Sebagai kebijakan publik, penggunaan anggaran Rp1,2 miliar tersebut juga menuntut mekanisme pengawasan dan evaluasi yang jelas. Publik akan mencermati kredibilitas mitra penyelenggara bimbel, efisiensi penggunaan anggaran, serta indikator keberhasilan program.

    “Harapannya, siswa bisa lebih siap menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi,” tambah Dindin.

    Meski mendapat apresiasi sebagai bentuk keberpihakan terhadap siswa dari keluarga kurang mampu, keberhasilan program ini pada akhirnya tidak diukur dari besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari seberapa banyak siswa prasejahtera asal Kota Blitar yang berhasil memperoleh kursi di perguruan tinggi negeri. [owi/beq]