Banyuwangi (beritajatim.com) – Tak banyak yang tahu, Kabupaten Banyuwangi memiliki bank sperma khusus hewan ternak sapi dan kerbau. Fasilitas ini menjadi salah satu penopang utama keberhasilan program inseminasi buatan yang mampu menghasilkan ribuan kelahiran ternak setiap bulannya.
Bank sperma ternak tersebut berada di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi. Di salah satu ruangan khusus, ribuan sperma sapi, domba, dan kerbau disimpan rapi dalam kontainer berteknologi pembekuan ekstrem menggunakan nitrogen cair.
Sperma-sperma itu dibekukan pada suhu minus 196 derajat Celsius. Dengan perlakuan tersebut, kualitas sperma dapat bertahan sangat lama, bahkan hingga bertahun-tahun, selama penanganannya dilakukan sesuai prosedur.
Bank sperma ini didirikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan populasi ternak, khususnya sapi, melalui program inseminasi buatan yang dijalankan secara rutin oleh pemerintah daerah.
Setiap bulannya, program inseminasi buatan di Banyuwangi mampu menghasilkan sekitar 2.300 kelahiran ternak. Angka ini menjadi indikator keberhasilan pemanfaatan teknologi reproduksi di sektor peternakan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda, melalui Kepala Bidang Budidaya dan Usaha Peternakan, Abdul Rozak, menjelaskan bahwa satu kontainer penyimpanan dapat menampung ratusan dosis sperma.
“Dalam satu kontainer memuat sekitar 500 hingga 600 straw atau dosis sperma,” kata Rozak, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, penyimpanan sperma dilakukan di dalam kontainer khusus yang diisi nitrogen cair untuk menjaga suhu ekstrem.
“Penyimpanan dilakukan di dalam kontainer khusus yang berisi nitrogen cair. Suhunya minus 196 derajat. Sehingga kualitas sperma bisa bertahan hingga bertahun-tahun asalkan penanganannya benar,” ujarnya.
Sperma ternak yang disimpan di Banyuwangi berasal dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari dan BIB Lembang. Saat dikirim ke daerah, sperma sudah dalam kondisi beku dan langsung ditempatkan ke dalam kontainer penyimpanan.
Jenis sperma yang tersedia pun beragam. Mulai dari sapi Limousin, Simental, Belgian Blue, Brahman, Peranakan Ongole (PO), Friesian Holstein (FH), Angus, sapi Bali, hingga sperma kerbau dan domba.
“Ribuan sperma sapi tiba dua minggu sekali sebelum kami distribusikan ke inseminator yang tersebar di seluruh kecamatan di Banyuwangi,” terang Rozak.
Menurutnya, sapi jenis Simental dan Limousin menjadi yang paling banyak diminati oleh peternak di Banyuwangi. Sementara itu, Brahman menempati urutan ketiga sebagai jenis yang cukup banyak digunakan.
Untuk mendukung program tersebut, Banyuwangi memiliki 52 petugas inseminator yang aktif melakukan pelayanan inseminasi buatan di lapangan. Dalam praktiknya, untuk membuntingkan satu ekor sapi rata-rata dibutuhkan sekitar 1,5 dosis sperma.
“Satu dosis berisi 0,25 mililiter dan hanya digunakan sekali pakai saat proses inseminasi,” jelasnya.
Program inseminasi buatan ini tidak hanya berperan dalam menjaga dan meningkatkan populasi ternak, tetapi juga menjadi strategi penting untuk menjamin ketersediaan daging serta meningkatkan produktivitas dan pendapatan peternak di Banyuwangi.
“Program inseminasi ini terbukti berhasil. Tidak hanya untuk menjaga populasi ternak, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan daging di Banyuwangi serta meningkatkan produktivitas peternak,” pungkas Rozak. [alr/beq]
