Jakarta –
Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali erupsi. Awan panas guguran meluncur hingga 5 km jauhnya.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.25 WIB. Erupsi berupa Awan Panas Guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dilansir Antara, Senin (12/1/2026).
Semeru erupsi pada Minggu (11/1) pada pukul 22.25 WIB. Menurutnya tinggi kolom letusan Semeru teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Erupsi Gunung Semeru terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 27 mm dan durasi 696 detik. Saat ini Gunung Semeru berada pada status level III (Siaga).
Bahaya Abu Vulkanik Jika Terhirup
Salah satu material padat yang dikeluarkan saat gunung erupsi adalah abu vulkanik. Material ini bisa berbahaya jika terhirup manusia.
Berikut, beberapa masalah kesehatan pernapasan yang bisa muncul saat menghirup abu vulkanik menurut spesialis paru, dr Agus Dwi Susanto SpP.
Iritasi pada mukosa seperti kulit, gatal-gatal kulit.Iritasi mata, yakni mata merah dan berair.Iritasi mukosa hidung, yakni hidung berair.Iritasi tenggorokan, sehingga sakit tenggorokan, batuk kering atau berdahak.Iritasi pada saluran napas dan paru menimbulkan batuk, dahak berlebih, sesak napas.Meningkatkan risiko serangan penyakit paru yang sudah ada seperti serangan asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).Peningkatan risiko ISPA dan bronkitis.
Mengapa Bisa Begitu?
dr Agus menambahkan bahwa abu vulkanik mengandung silika dalam jumlah tinggi yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan jangka pendek dan panjang.
“Selain itu juga ada gas seperti hidrogen sulfida, karbonmonoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida. Untuk debu/abu ini sangat halus dapat terbawa angin sampai ratusan km,” kata dr Agus saat dihubungi detikcom.
Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)
