Project AVA Milik AI Razer Dibanjiri Hujatan Imbas Tampilannya yang Buruk

Project AVA Milik AI Razer Dibanjiri Hujatan Imbas Tampilannya yang Buruk

Bisnis.com, JAKARTA — Project AVA, asisten kecerdasan buatan (AI) terbaru dari Razer menuai ejekan dari pengguna internet setelah diperkenalkan di acara Consumer Electronics Show 2026 (CES).

Banyak orang berkomentar sinis mereka menyebut perangkat ini aneh bahkan tidak berguna. Namun, menurut pengamat kritik tersebut sering mengabaikan masalah yang lebih mendasar. 

Melansir Android Police Selasa (13/1/2026), Project AVA merupakan pendamping berbasis  AI untuk desktop, yang hadir dengan tubuh dan wajah virtual pada layar holografik 5,5 inci di dalam wadah silindris yang dirancang untuk diletakan di atas meja. 

Perangkat ini menggunakan kamera untuk mendeteksi mata, ekspresi, dan interaksi pengguna.

Selain itu, Project AVA akan menggunakan kamera untuk mengawasi Anda bermain game, memberi saran, menyemangati saat bermain game, dan menangani tugas asisten virtual seperti terjemahan atau pengaturan jadwal.

Di luar keterkaitan nya dengan game. Project AVA akan menangani tugas-tugas asisten AI pada umumnya, seperti penerjemahan, pengorganisasian, serta menyediakan percakapan waktu nyata sehingga Anda dapat membicarakan kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan topik lainnya.

Meskipun tampilannya dianggap unik atau bahkan menyeramkan oleh sebagian orang, Project AVA bukan sekadar alat AI biasa. Perangkat ini menekankan interaksi personal dan persahabatan digital, mirip dengan konsep yang diperkenalkan pendahulunya, Gatebox, di Jepang. 

Gatebox memungkinkan pengguna berinteraksi dengan karakter AI, seperti Azuma Hikari, yang berfungsi sebagai teman digital untuk mengobrol dan menemani aktivitas sehari-hari.

Namun, Project AVA masih memiliki satu kendala penting pengisi suara. Dalam demo, suara karakter terdengar kurang natural dan mengganggu untuk interaksi jangka panjang. Padahal kualitas suara menjadi faktor penting agar pengguna merasa nyaman dan terhubung dengan AI.

Pakar menilai, jika kualitas suara dan interaksi diperbaiki, perangkat seperti Project AVA memiliki potensi menjadi teman digital yang bermanfaat, terutama bagi orang yang hidup sendiri atau mengalami kecemasan sosial. Kritik yang berfokus pada penampilan semata dianggap kurang relevan, karena inti keberhasilan perangkat ini ada pada pengalaman pengguna dan kualitas interaksi.

Project AVA akan dirilis akhir 2026, tapi Razer belum mengumumkan harganya. Saat ini, orang bisa memesan lebih awal seharga US$20 atau sekitar Rp300.000-an. 

Produk ini mungkin tidak cocok untuk semua orang karena tampilannya unik, tapi jika dilihat dari sisi positif, Project AVA menawarkan pengalaman AI yang menyenangkan dan interaktif, lebih dari sekadar asisten biasa di ponsel. (Nur Amalina)