Surabaya (beritajatim.com) – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mendorong pemerintah provinsi menyiapkan program berkelanjutan untuk menjaga Nilai Tukar Petani (NTP) tetap berada di level tinggi. Kenaikan NTP sepanjang 2025 dinilai tidak boleh berhenti sebagai capaian statistik, tetapi harus dijaga agar berdampak langsung pada kesejahteraan petani pada 2026.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim, Wiwin Sumrambah, mengapresiasi capaian NTP Jawa Timur yang mencapai 118,96 pada Desember 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut naik 3,95 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa, sekaligus mencerminkan menguatnya daya beli petani.
“Kenaikan NTP ini memang kita harapkan terjadi. Ini juga membuktikan hasil panen masa tanam ke-3 tahun 2025 sangat bagus. Semoga menjadi titik balik bagi kesejahteraan petani, dan pada 2026 bisa dipertahankan atau meningkat lagi,” ujar Wiwin, Selasa (13/1/2026).
Namun, Wiwin mengingatkan bahwa capaian tersebut berpotensi tergerus jika tidak diiringi kesiapan program menghadapi panen masa tanam pertama 2026 yang masih berada di musim hujan. Ia menilai pengelolaan pascapanen, terutama pengeringan gabah, menjadi faktor krusial agar nilai jual hasil panen tidak jatuh.
“Panen masa tanam pertama harus dipersiapkan okupansinya supaya pascapanen berjalan baik, terutama pengeringan gabah, sehingga nilai jual tetap tinggi dan NTP stabil,” ucapnya.
Sebagai anggota Komisi B DPRD Jatim, Wiwin juga menyoroti pentingnya stabilisasi harga komoditas pertanian. Ia mendorong pemerintah menetapkan harga minimum agar petani tidak terjebak menjual hasil panen di bawah biaya produksi.
“Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga agar petani mendapat kepastian dan keuntungan yang layak,” katanya.
Selain itu, ia meminta penguatan kebijakan diversifikasi dan pengolahan hasil pertanian, pemasaran yang lebih efektif, serta kemudahan akses kredit pertanian. Menurutnya, dukungan pembiayaan yang terjangkau menjadi kunci agar petani mampu meningkatkan skala dan kualitas produksi.
“Pengembangan pasar dan dukungan pembiayaan harus diperkuat agar pendapatan petani meningkat,” ujarnya.
Wiwin juga menyinggung persoalan infrastruktur pertanian yang dinilai masih menjadi hambatan di sejumlah daerah. Perbaikan jalan produksi, jaringan irigasi, hingga ketersediaan gudang dinilai berpengaruh langsung terhadap efisiensi dan hasil panen.
“Perhatian pada infrastruktur pertanian sangat penting karena berpengaruh langsung pada produktivitas dan pendapatan petani,” pungkas legislator dari daerah pemilihan Jombang–Mojokerto tersebut. [asg/beq]
