Ngeri, Ibu Pulang dari Pasar Tewas Ditabrak Truk Ngebut

Ngeri, Ibu Pulang dari Pasar Tewas Ditabrak Truk Ngebut

Jakarta

Seorang ibu bernama Siti Marfuah tewas usai tertabrak truk bermuatan cabai di Jalan Raya Desa Ngrowo, Bangsal, Mojokerto. Korban dalam perjalanan pulang menggunakan motor setelah belanja di pasar.

Diberitakan detikJatim, berdasarkan keterangan warga setempat, Ngatimin menuturkan truk nopol N 8072 EI melaju kencang dari timur ke barat atau dari arah Kecamatan Mojosari ke Kota Mojokerto. Truk yang dikemudikan Fatkhur Rahman, warga Jetis, Mojokerto itu sarat muatan cabai.

Sampai di Jalan Raya Desa Ngrowo, tepatnya di Dusun Tawangsari sekitar pukul 05.30 WIB, truk melaju kencang masuk lajur berlawanan. Truk pun menabrak Siti yang mengendarai sepeda motor Honda Vario nopol S 5884 NAX sendirian.

“Truk kencang dari timur masuk lajur berlawanan. Korban dari arah berlawanan tidak sempat menghindar,” terangnya kepada wartawan di lokasi kecelakaan, Kamis (8/1/2026).

Kerasnya tabrakan mengakibatkan Siti tewas seketika di lokasi. Sepeda motor yang dikendarai warga Desa Ngrowo, Bangsal, Mojokerto itu juga hancur. Sedangkan laju truk baru terhenti setelah menabrak pohon di bahu jalan sebelah kanan.

Menurutnya, pengemudi truk gagal mengantisipasi datangnya kendaraan lain ketika menyalip lewat lajur berlawanan. “Truk kecepatan tinggi, menyalip masuk lajur lawan. Dari arah berlawanan ada ibu-ibu pulang dari pasar, tertabrak,” tandasnya.

Pakar keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana membenarkan, perilaku melawan arah makin sering terlihat di jalan-jalan Indonesia.

“Nggak bisa dipungkiri, banyak juga pengemudi yang berpikir simpel atau pendek, sekalipun harus melawan arah, bahkan imbauan atau teguran polisi dianggap angin lalu. Menurut saya, ini salah satu yang membuat hilangnya wibawa petugas,” tuturnya.

“Bayangkan, bagaimana kondisi lalu lintas di Indonesia lima tahun lagi? Jadi, lima tahun lagi itu implementasi hukumnya harus tegas yang diterapkan oleh kepolisian,” kata dia menambahkan.

Salah perhitungan ketika menyalip kendaraan di depan. Tak sedikit yang meregang nyawa akibat mengalami kecelakaan adu banteng tersebut.

Untuk itu, saat hendak memutuskan menyalip kendaraan harus ada beberapa hal yang diperhatikan. Berikut ini, tips menyalip kendaraan seperti diuraikan Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu.

Pertimbangkan Sebelum Menyalip

Langkah pertama dan paling mendasar berasal dari keputusan diri kita sendiri dalam mencari tahu urgensi kita ketika menyalip kendaraan lain. Ketika kita merasa tidak perlu menyalip, maka tindakan ini tidak perlu dilakukan.

Perhatikan dan pahami rambu serta marka jalan

Sebagai pengendara, pastikan bahwa kita telah paham betul tentang rambu-rambu yang berada di jalan. Misalnya, pengendara dilarang menyalip ketika ada marka atau garis jalan tidak putus-putus. Selain itu juga hindari menyalip tikungan, tanjakan, turunan, bahu jalan dan medan-medan berbahaya lainnya.

Pastikan kondisi jalan sudah aman

Apabila ingin menyalip, pengendara tentunya harus memperhatikan bahwa kondisi di sekitar aman, terutama kondisi jalan di depan kendaraan yang akan disalip, apakah padat atau cukup luang untuk Anda mengambil alih posisi berada di depannya. Selain itu, pengendara juga harus memperhatikan kondisi jalan dari arah berlawanan agar nantinya kejadian ‘adu banteng’ tidak terjadi.

Cek spion dan nyalakan sein sebelum menyalip

Jikalau kita sudah merasa aman dengan kondisi jalan di depan, maka selanjutnya kita juga harus memeriksa kaca spion, untuk memastikan apakah ada bahaya di kiri, kanan, belakang. Ketika kondisi sudah aman dan memungkinkan untuk menyalip, maka kita harus menyalakan lampu sein sesuai dengan arah kita akan bergerak untuk memberikan informasi kepada pengendara lain di sekitar kita.

Sesuaikan kecepatan ketika menyalip

Menurut Jusri, ketika hendak menyalip tentunya kecepatan kendaraan kita harus lebih tinggi dibandingkan kecepatan kendaraan yang akan kita dahului.

“Kalau aman baru eksekusi. Tambahkan kecepatan dan pastikan kecepatan kita jangan sama. Tambah 15-20 km/jam. Karena pada saat kita overtaking tadi, itu adalah situasi yang rentan dengan kecelakaan. Jadi jangan lama-lama di area itu, itu bukan comfort zone,” sebutnya.

Halaman 2 dari 2

(riar/dry)