Jakarta –
Sejumlah relawan terus mendampingi penyintas bencana melalui kegiatan trauma healing. Pasalnya, kondisi di beberapa wilayah belum juga pulih, banyak anggota keluarga kehilangan pekerjaan, sumber pendapatan, juga rumah untuk tinggal.
Seperti yang dialami warga Desa Sukajadi Kabupaten Aceh Tamiang. Posko yang dibangun di lokasi bencana, berdekatan dengan puing-puing bekas rumah yang hancur serta sisa lumpur masih menggunung. Bau tidak sedap karena tumpukan sampah juga nyaris tak bisa dihindari dari tempat mereka beristirahat.
Karena kondisi tersebut, warga khususnya anak-anak yang juga belum kembali aktif sekolah dinilai sangat membutuhkan trauma healing.
Dokter umum dr Muhammad Fahriza SA, MARS, yang tergabung dalam relawan tenaga cadangan kesehatan (TCK) Kemenkes Batch II ikut mendampingi trauma healing dengan pendekatan sederhana, tetapi menyenangkan agar anak merasa aman dan nyaman.
“Kita melakukan trauma healing dalam bentuk permainan, games-gemes, menggambar, menyanyi, sampai kegiatan PHBS seperti mencuci tangan dan gosok gigi,” kata dr Fahriza saat ditemui detikcom di Desa Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (13/1/2026).
Selain pendampingan psikologis, tim relawan juga melakukan skrining gizi. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah anak mulai mengalami penurunan berat badan pascabencana.
“Selain trauma healing, kita juga melakukan skrining gizi karena banyak anak-anak yang bobot tubuhnya mulai turun,” ujarnya.
dr Fahriza menjelaskan trauma healing menjadi langkah awal untuk membantu anak kembali siap menjalani proses belajar dan aktivitas sehari-hari. Pasalnya, hingga kini masih banyak anak yang menunjukkan tanda-tanda trauma dan kecemasan.
“Kalau dibiarkan, dampak jangka panjangnya bisa muncul. Anak bisa mengalami depresi, susah bergaul, dan perkembangan mereka juga berpotensi terganggu,” kata dia.
Dampak traumatis juga dirasakan anak usia remaja. Pendekatan yang dilakukan berbeda dengan trauma healing usia anak.
“Karena mereka cenderung menyendiri dan tidak bercerita, jadi kadang kami pintu ke pintu, jemput bola, untuk melakukan intervensi lebih lanjut,” sambungnya.
“Tentu nantinya dengan pendampingan psikolog.”
Menurut Fahriza, cerita traumatis sebetulnya lebih banyak didapatkan dari usia dewasa. Utamanya kelompok ibu-ibu.
“Ada yang takut dengan air, ada pula yang mengaku kedinginan dan terus terbayang suasana saat banjir melanda,” cerita dia.
“Banyak yang masih sulit bersosialisasi, ada pula yang memilih keluar dari tenda pengungsian meski bantuan sudah tersedia, karena rasa takut yang belum hilang. Bahkan, sebagian orang menjadi mudah cemas setiap kali hujan turun,” pungkas dia.
Melalui trauma healing yang berkelanjutan, relawan berharap anak-anak dan warga terdampak bisa perlahan pulih, kembali merasa aman, serta mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik pascabencana.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Klarifikasi Menkes soal Keluhan Mahalnya Tiket Pesawat Relawan Aceh”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)
