Margin Penjualan Berpotensi Mengecil Tertekan Krisis Cip, HP Murah Ditinggalkan?

Margin Penjualan Berpotensi Mengecil Tertekan Krisis Cip, HP Murah Ditinggalkan?

Bisnis.com, JAKARTA— Segmen smartphone entry-level diperkirakan menghadapi tekanan paling berat sepanjang 2026, seiring lonjakan harga chip memori global yang didorong tingginya permintaan dari industri server kecerdasan buatan (AI).

Kenaikan biaya komponen utama ini berpotensi menggerus margin vendor, memicu kenaikan harga jual, hingga mendorong penurunan spesifikasi perangkat di kelas harga rendah.

Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai tekanan terbesar saat ini berada pada segmen smartphone kelas bawah.

“Pasar entry-level menurut saya saat ini berada di bawah tekanan paling berat,” kata Aryo kepada Bisnis pada Kamis (15/1/2026).

Menurut Aryo, vendor di segmen entry-level beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis, sehingga hampir tidak memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. 

Selain itu, kenaikan harga jual dalam skenario terburuk bisa mencapai 6–8% secara global. Menurutnya, hal tersebut berisiko mengikis daya tarik utama produk entry-level, yaitu harga yang terjangkau.

“Imbasnya, penjualan segmen ini diperkirakan turun,” imbuhnya.

Untuk bertahan, Aryo mengatakan strategi paling ekstrem yang dapat dilakukan vendor adalah mengombinasikan kenaikan harga dengan pemangkasan spesifikasi. Langkah ini bisa dilakukan dengan menurunkan kualitas modul kamera, menghilangkan solusi periskop, menurunkan kualitas panel layar, hingga mengurangi konfigurasi memori. 

Misalnya, RAM 12GB di kelas menengah berpotensi dipangkas menjadi 6–8GB. 

Selain itu, Aryo mengatakan vendor juga dimungkinkan menggunakan kembali komponen generasi sebelumnya, seperti prosesor lama. 

Dia menyebut pemangkasan jumlah model untuk efisiensi produksi dan persediaan juga sangat dimungkinkan, atau bahkan mulai mengarahkan konsumen ke model dengan margin lebih tinggi.

Aryo menilai vendor tidak sepenuhnya akan beralih ke produk mahal, tetapi terjadi pergeseran prioritas untuk mempertahankan profitabilitas. 

Misalnya, tetap menjaga eksistensi di segmen murah dengan berbagai strategi reduksi biaya. Bukan hanya fokus ke perangkat mahal, tetapi vendor akan bergerak ke arah produk ‘yang lebih menguntungkan’.

“Mereka akan mendorong konsumen dalam portofolio mereka sendiri untuk naik ke varian ‘Pro’ atau kelas menengah atas yang memiliki margin lebih baik,” katanya.

Di sisi lain, Aryo menyebut perangkat yang tergolong mahal sudah memiliki pasar tersendiri. Strategi di segmen ini adalah melindungi dominasi dan margin dengan menjaga kualitas serta pengalaman pengguna, meski disertai penyesuaian kecil pada spesifikasi. Meski demikian, Aryo menekankan bahwa segmen entry-level masih menjadi tulang punggung volume penjualan, terutama di pasar Indonesia.

“Pertimbangan vendor sangat kompleks untuk hal ini, mereka akan berupaya mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan, meski dengan margin yang semakin tipis atau bahkan rugi,” ungkapnya.

Dilema di Indonesia, lanjut Aryo, konsumen entry-level kini mengharapkan performa chipset yang lebih lancar, kamera lebih baik, dan dukungan software lebih panjang dengan harga Rp1,5–2,5 juta. Dia menyebut vendor harus memenuhi ekspektasi ini di tengah biaya produksi yang melonjak.

“Loyalitas merek pun saya rasa sudah menurun. Konsumen akan lebih mudah berpindah merek untuk mendapatkan nilai terbaik [best value],” ungkapnya.

Dalam jangka panjang, Aryo mengatakan situasi ini akan mendorong perubahan struktur pasar yang lebih dalam. Smartphone konvensional entry-level kemungkinan akan menawarkan spesifikasi yang stagnan atau bahkan menurun dibanding generasi sebelumnya.

“Tren memperpanjang siklus ganti smartphone pun akan menguat karena konsumen merasa nilai beli [value for money] menurun,” katanya.