Lengkap! Ini Pidato Prabowo saat Retret Kabinet di Hambalang 2026

Lengkap! Ini Pidato Prabowo saat Retret Kabinet di Hambalang 2026

Bisnis.com, BOGOR – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Taklimat Awal Tahun 2026 dalam Retret Kabinet Merah Putih digelar untuk mengevaluasi kinerja tahun sebelumnya, membaca dinamika global, serta menetapkan arah kebijakan pemerintah pada tahun ini. 

Kepala negara menyinggung berbagai tantangan nasional, termasuk bencana di sejumlah daerah, namun menegaskan bahwa Indonesia telah membuktikan ketangguhan dan kekuatan sebagai negara sepanjang 2025 dan siap mengulanginya pada 2026.

Dalam arahannya, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada jajaran kabinet, TNI-Polri, dan pimpinan lembaga negara atas kerja keras, inisiatif, serta keberanian mengambil keputusan.

Orang nomor satu di Indonesia itu pun menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu menunggu instruksi, melainkan memahami arah besar dan tujuan strategis pemerintahan demi menghasilkan capaian nyata yang bisa dirasakan rakyat.

Prabowo menegaskan strategi transformasi bangsa yang menjadi fondasi pemerintahan, yakni kemandirian nasional melalui swasembada pangan dan energi.

Presiden Ke-8 RI itu juga menekankan bahwa ketahanan pangan baik beras, karbohidrat, maupun protein serta kemandirian energi merupakan syarat mutlak kemerdekaan dan kesejahteraan. Prabowo menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada akhir 2025, dengan cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah republik.

Berikut pengarahan taklimat awal tahun Prabowo saat menghadiri Retret Kabinet Merah Putih di Desa Bojongkoneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (6/1/2026):

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera bagi kita sekalian.

Shalom, salve, om swastiastu, namo budaya, salam kebajikan, rahayu rahayu. Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Gibran Raka Buming Raka, para Menteri Koordinator, para Menteri, para Kepala Badan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para Penasihat Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala Bin Kapolri, Panglima TNI, dan seluruh Kepala Staf Angkatan, para Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya banggakan.

Pertama-tama, tentunya sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kehadiran Tuhan Maha Besar bagi umat Islam, Allah SWT, atas segala karuniah, kesehatan, kebaikan yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul di siang hari ini di Hambalang, Jawa Barat.

Hari ini saya sengaja mengundang saudara-saudara berkumpul di Hambalang, Jawa Barat. Hari ini saya sengaja mengundang saudara-saudara berkumpul di Hambalang di padepokan Garuda Yaksa untuk memberi taklimat awal tahun 2026. Pertimbangan saya kumpulkan adalah pertama untuk kita evaluasi kerja kita tahun lalu.

Selanjutnya, kita memahami kunci bangsa kita di tengah dinamika dan gejolak dunia dan selanjutnya kita melihat ke depan tahun ini langkah-langkah apa yang harus kita laksanakan. Sasaran-sasaran apa yang harus kita capai.

Saudara sekalian kita memahami bahwa kondisi bangsa kita penuh dengan tantangan dan cobaan yang terakhir tentunya kita memahami benar bencana-bencana yang terjadi di tiga provinsi di Aceh, tetapi juga di beberapa-beberapa tempat-tempat lain di Jawa Barat juga, di Jawa Tengah, di beberapa tempat lain.

Jadi, saudara-saudara kita hadapi itu dan dengan kita hadapi itu kita memahami benar bahwa ternyata negara kita sesungguhnya memiliki kekuatan. Negara kita telah mampu dan terus menerus membuktikan kepada rakyat kita dan sesungguhnya kepada diri kita sendiri, kepada elit kita bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia punya kekuatan kita memahami itu dan kita terus telah membuktikan itu pada tahun 2025 dan akan kita buktikan di 2026 ini.

Saudara-saudara sekalian, dengan ini semua saya ingin menggunakan kesempatan pertama di awal taklimat saya untuk menyampaikan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya dari hati saya. Terima kasih, saya sebagai Presiden, sebagai pemimpin, sebagai penerima mandat dari rakyat Indonesia, sebagai boleh dikatakan nahkoda, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pembantu-pembantu saya yang paling inti, saudara-saudara para Menko, para menteri, para Kepala badan, wakil Kepala Badan, pejabat-pejabat, lembaga-lembaga tinggi negara yang sangat penting, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung.

Kita buktikan dengan fakta, fact on the ground yang bisa diukur, bisa dipegang, bisa dilihat, dengan demikian, saya menyampaikan penghargaan kepada saudara-saudara sekalian. Tidak mungkin, saya sebagai presiden bisa melaporkan hal ini kepada bangsa tanpa kerja keras saudara-saudara semuanya. Saudara-saudara walaupun mungkin tidak terlalu sering saya kumpulkan saudara-saudara.

Saudara-saudara telah bekerja dengan penuh inisiatif dengan penuh pemahaman keberanian karena saudara-saudara mengambil keputusan, mengambil inisiatif itu membutuhkan keberanian yang paling aman, paling gampang tidak berbuat apa-apa atau menunggu petunjuk. Tetapi, pemimpin sejati, pemimpin sebenarnya adalah mereka yang memahami strategi besar, memahami tujuan, memahami directive pemimpin sehingga yang dipahami adalah arah besar adalah petunjuk umum bukan tiap keputusan harus menunggu petunjuk atasan. Jadi saudara-saudara apa yang sudah kita capai menurut saya sangat membanggakan.

Salah satu landasan pertama dari strategi transformasi bangsa yang saya canangkan yang saya tawarkan kepada rakyat sewaktu saya dan saudara Gibran mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Kita maju ke hadapan rakyat dengan sesuatu strategi. Strategi tertulis, strategi terukur, strategi melalui kajian puluhan tahun, strategi yang kami yakini yang kami sebut strategi transformasi bangsa yang mana esensi-esensinya adalah yang mana yang pertama, yang pertama, bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri. Dan di situ, elemen utamanya adalah swasembada pangan.

Tidak ada bangsa yang merdeka bila mana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyatnya. Dan awalnya adalah swasembada beras, karena beras adalah makanan pokok kita. Tapi, yang dikatakan swasembada pangan adalah tidak hanya beras.

Beras, jagung, singkong, dan yang lain-lain. Swasembada pangan artinya adalah karbohidrat dan protein. Kita harus swasembada protein.

Dan juga, selain swasembada pangan, dasar selanjutnya adalah swasembada energi. Kalau kita tergantung dengan bangsa lain untuk energi kita, tidak mungkin kita makmur. Tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan.

Saudara-saudara, strategi ini ternyata dibenarkan oleh dinamika dunia. Kita bisa bayangkan, kalau kita tidak swasembada beras, di tengah konflik di mana-mana, di tengah perang di mana-mana, sumber import beras kita tadinya adalah Thailand, dan Kamboja, dan Vietnam. Sekarang, Thailand sama Kambodja perang terus.

Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, meletus lagi, meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung import dari negara yang konflik? Salah satu sumber makanan kita juga dari India. India perang sama Pakistan.

Saudara-saudara, kita juga pernah mengalami COVID-19. Semua negara pengekspor makanan dan menutup. Kita tidak bisa import walaupun kita punya uang. Dan import berarti devisa kita keluar. Jadi, saudara-saudara, pangan dan energi harus kita mendiri. Harus kita mandiri.

Alhamdulillah, target yang saya berikan kepada tim tim pangan kita, saya berikan target waktu awal pemerintahan yang saya pimpin adalah empat tahun untuk sebuah sembada pangan. Alhamdulillah, Desember 31 tahun 2025, waktu 24.00, bisa kita dengan resmi mengatakan di tahun 2025, Republik Indonesia sebuah sembada beras. Dan, saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia.