Kiriman Barang via Laut Melonjak per November 2025, ALFI: Efek Pembangunan Wilayah Timur

Kiriman Barang via Laut Melonjak per November 2025, ALFI: Efek Pembangunan Wilayah Timur

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkutan barang menggunakan moda laut domestik mengalami lonjakan signifikan pada November 2025, hingga 16,49% secara tahunan dan 3,58% secara bulanan.

Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengungkapkan, peningkatan memang terjadi, khususnya untuk pengiriman barang menggunakan kapal laut ke wilayah Timur Indonesia. 

“Ini karena pertumbuhan ekonomi dan kawasan industri di wilayah Timur yang signifikan. Seperti pembangunan infrastruktur kebutuhan mesin industri pertambangan,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, Trismawan melihat peningkatan juga terjadi karena model kegiatan logistik barang konsolidasi atau pengiriman gabungan yang sebelumnya menggunakan angkutan udara, kini beralih melalui laut. 

Bukan tanpa sebab, hal ini akibat seiring dengan kenaikan volume barang kiriman ke wilayah Timur dan demi menekan biaya logistik. 

“Ada pergeseran pengiriman dari udara melalui laut karena volume logistik yang lebih besar,” lanjutnya. 

Peningkatan tersebut terjadi di tengah penurunan kinerja angkutan barang melalui moda udara dan kereta api, yang masing-masing kontraksi sebesar -3,13% dan -2,52% month to month (MtM). 

Sementara secara tahunan (year on year/YoY) atau dibandingkan dengan November 2024 lalu, kiriman barang domestik melalui angkutan udara anjlok sebesar -9,31%. Namun, angkutan barang menggunakan kereta masih tercatat tumbuh sebesar 7,12%, khususnya untuk kereta barang di Sumatra. 

Melihat data secara kumulatif atau sepanjang Januari hingga November 2025, angkutan barang menggunakan pesawat mencapai 612.400 ton atau naik 0,82% dari periode yang sama tahun lalu. 

Jumlah barang yang diangkut terbesar terdapat pada Bandara Soekarno Hatta-Tangerang yang mencapai 211.900 ton atau sebesar 34,6% dari jumlah seluruh barang yang diangkut, diikuti Sentani-Jayapura sebanyak 80.000 ton atau sebesar 13,06%.

Pada periode yang sama, pengangkutan logistik menggunakan angkutan laut mencapai 463,8 juta ton atau naik 16,77%. 

Peningkatan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 8,78%, Tanjung Priok sebesar 4,72%, dan Panjang sebesar 0,24%. Sebaliknya, penurunan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Balikpapan sebesar 20,60% dan Tanjung Perak sebesar 0,51%.

Kemudian barang yang diangkut menggunakan kereta tercatat mencapai 67,5 juta ton atau naik 0,63%, utamanya untuk komoditas batu bara. Peningkatan jumlah barang terjadi di wilayah Sumatra sebesar 2,92%, sebaliknya penurunan di wilayah Jawa non-Jabodetabek -9,55%.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pun melaporkan batu bara menjadi komoditas terbesar yang diangkut KAI dengan volume 52.722.455 ton. Volume ini meningkat 4% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, seiring meningkatnya kebutuhan pasokan energi.