Kematian Anak karena ‘Super Flu’ di AS Naik Hampir 2 Kali Lipat

Kematian Anak karena ‘Super Flu’ di AS Naik Hampir 2 Kali Lipat

Jakarta

Pasca mencatat rekor aktivitas flu tertinggi sepanjang sejarah, AS kini kembali melaporkan peningkatan jumlah rawat inap dan kematian akibat flu. Puncak kasus influenza dipastikan belum terlewati.

Dikutip dari CNN, 40 ribu orang dilaporkan dirawat di RS karena flu pada pekan di periode 3 Januari, menurut data yang dirilis Jumat ini, oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Angkanya naik sekitar 10 persen dibandingkan 36.600 rawat inap pada pekan sebelumnya.

Secara keseluruhan, terdapat sekitar 12 pasien rawat inap akibat flu per 100.000 penduduk di AS pada pekan lalu.

Kelompok lansia masih menjadi yang paling banyak dirawat di rumah sakit akibat flu, tetapi angka rawat inap pada anak-anak juga tergolong tinggi. “Setidaknya 17 anak meninggal dunia akibat flu pada musim ini,” kata CDC.

Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya, setelah dilaporkan delapan kematian baru.

Empat dari kematian anak akibat flu musim ini terjadi di Massachusetts, termasuk dua anak di Boston yang berusia di bawah dua tahun.

“Kasus flu sedang melonjak di Boston, dan kami melihat peningkatan kasus serius yang melibatkan anak-anak, termasuk kematian tragis dua anak yang masih sangat kecil,” kata Dr Bisola Ojikutu Kepala Dinas Kesehatan Kota Boston, dalam sebuah pernyataan.

“Meski flu biasanya bersifat ringan, penyakit ini dapat menyebabkan rawat inap bahkan kematian. Anak-anak di bawah usia dua tahun memiliki risiko lebih tinggi.

Orang tua diimbau segera memvaksinasi anak mereka yang berusia enam bulan ke atas untuk menurunkan risiko komplikasi berat.

“Orang tua juga harus segera mencari pertolongan medis jika anak mengalami gejala flu disertai tanda-tanda penyakit yang lebih berat, seperti kesulitan bernapas, berkurangnya buang air kecil, demam tinggi yang terus-menerus, atau menjadi sangat lemas dan sulit dibangunkan,” sebut otoritas kesehatan AS.

Secara keseluruhan, CDC memperkirakan pada musim flu ini telah terjadi setidaknya 15 juta orang jatuh sakit, 180.000 rawat inap, dan 7.400 kematian akibat flu.

Aktivitas flu masih tetap tinggi di seluruh negeri, dan CDC memperkirakan kondisi ini akan berlanjut selama beberapa pekan ke depan. Lebih dari selusin negara bagian berada pada kategori tingkat aktivitas flu tertinggi yang dipantau oleh lembaga tersebut.

Data pemantauan CDC yang dirilis pekan lalu menunjukkan aktivitas mirip flu di AS telah mencapai level tertinggi sejak pencatatan dimulai sekitar 30 tahun lalu.

Pada pekan ini, beberapa indikator tersebut memang mulai menurun, tetapi CDC menegaskan bahwa hal itu belum tentu berarti musim flu telah mencapai puncaknya. Penurunan sementara tersebut bisa disebabkan oleh perubahan perilaku masyarakat dalam mencari layanan kesehatan atau pelaporan selama libur akhir tahun, dan peningkatan kasus masih mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan.

Virus Influenza A (H3N2) menjadi jenis yang paling banyak dilaporkan. Pengujian genetik lanjutan menunjukkan varian baru yang disebut subclade K, yang sebelumnya menyebabkan musim flu lebih awal dan lebih berat di sejumlah wilayah dunia masih menjadi pendorong utama sebagian besar kasus di AS.

Halaman 2 dari 2

(naf/naf)