Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri RI Sugiono membeberkan bahwa kinerja ekonomi Indonesia moncer. Kondisi tersebut memperkuat peran Indonesia di panggung dunia.
Dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 pada Rabu (14/1/2026), Sugiono menjelaskan bahwa di politik luar negeri saat ini, terdapat batas kabur antara ekonomi dan keamanan. Kebijakan perdagangan, investasi dan teknologi semakin digunakan sebagai kebijakan geopolitik.
Dalam kenyataan baru, kekuatan ekonomi suatu negara tidak diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tapi dari kemampuan bertahan dan beradaptasi. Sebagai bagian dari komunitas internasional, Indonesia pun tidak kebal realitas tersebut. Sementara, di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia menurutnya hadir dengan fondasi kokoh.
“Angka pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata dunia, inflasi terkendali, surplus perdagangan, dan tingkat realisasi investasi tinggi. Ini memperkuat peran Indonesia di panggung dunia,” kata Sugiono dalam PPTM 2026 pada Rabu (14/1/2026).
Tercatat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2025 mencapai 5,04% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi itu berada di atas rata-rata global 2,8%.
Tingkat inflasi Indonesia mencapai 2,92% pada 2025, masih rendah dibandingkan tingkat inflasi global 3,4%.
Adapun, neraca perdagangan Indonesia berkinerja positif, dengan surplus US$38,54 miliar sepanjang periode Januari hingga November 2025. Kemudian, realisasi foreign direct investment (FDI) Indonesia Januari-September 2025 mencapai Rp644,6 triliun.
Sementara itu, pada tahun ini, Kementerian Keuangan RI mematok pertumbuhan ekonomi 2026 di rentang 5,2%—5,8%, lebih tinggi dari 2025 yang sebesar 5,2%.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 milik Bappenas pertumbuhan ekonomi ditargetkan berada di rentang 5,8%—6,3% pada 2026. Beda halnya dengan bank sentral, Bank Indonesia (BI) yang memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di rentang 4,7%—5,5% dengan nilai tengah 5,02%.
