Dilema Etik di Balik Viral Matcha Kemasan Infus

Dilema Etik di Balik Viral Matcha Kemasan Infus

Jakarta

Sebuah kafe di Bali viral lantaran menjual matcha dengan kemasan mirip infus, lengkap dengan tulisan dextrose monohydrate. Meski penjual mengklaim kemasan tersebut food grade dan bukan limbah medis, sisi etik tetap jadi persoalan.

Bagi konsumen klaim saja tidak cukup. Apalagi kemasan yang digunakan tampil menyerupai alat medis yang selama ini dikaitkan dengan standar tinggi dan limbah berbahaya. Di sinilah edukasi soal keamanan kemasan pangan sangat dibutuhkan.

Kenapa Kemasan Minuman Harus Food Grade

Dalam dunia pangan istilah food grade digunakan untuk menyebut bahan yang aman bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman. Bahan food grade tidak bereaksi secara kimia tidak mengubah rasa aroma maupun warna serta tidak melepaskan zat berbahaya ke dalam produk konsumsi. Prinsip ini jadi fondasi utama dalam pemilihan kemasan minuman siap konsumsi.

Ciri bahan food grade dapat dikenali dari kestabilan materialnya yang tidak berbau, tidak mudah rusak, dan tidak terdegradasi saat digunakan sesuai peruntukannya. Bahan ini juga telah melalui pengujian migrasi zat kimia untuk memastikan tidak ada senyawa berisiko yang berpindah ke dalam minuman. Pengujian ini penting karena paparan zat kimia dari kemasan bisa berdampak pada kesehatan jika terjadi terus menerus.

Standar food grade diatur melalui regulasi keamanan pangan yang jelas. Di Indonesia standar ini mengacu pada ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Secara global banyak produsen juga mengikuti regulasi dari badan pengawas pangan internasional. Pemenuhan standar ini biasanya dibuktikan melalui sertifikasi dari lembaga resmi. Pada kemasan makanan dan minuman yang aman sering ditemukan label seperti FDA Approved atau sertifikasi SNI. Kemasan food grade juga kerap menampilkan simbol Cup and Fork atau tulisan Food Safe sebagai penanda bahwa materialnya memang dirancang untuk kontak langsung dengan makanan dan minuman.

Tanpa label atau sertifikasi yang jelas konsumen tidak memiliki cara untuk memverifikasi klaim keamanan yang disampaikan oleh penjual. Inilah sebabnya transparansi sertifikasi menjadi faktor penting terutama pada kemasan unik yang menyerupai kantong infus.

Kemasan Unik Sudah Lama Jadi Strategi Industri Minuman

Dalam industri food and beverage, memang penggunaan kemasan custom bukan hal baru. Banyak pelaku usaha sengaja merancang kemasan yang tidak biasa untuk membangun identitas merek dan menarik perhatian pasar. Strategi ini sah dan umum dilakukan selama tidak melanggar prinsip keamanan pangan.

Kemasan menyerupai kantong infus yang digunakan pada minuman matcha diklaim oleh pihak kafe sebagai kemasan custom. Produk seperti ini biasanya dipesan dari bahan plastik fleksibel dari pabrik kemasan yang mampu menyesuaikan desain visual sesuai kebutuhan. Secara fungsi kemasan ini digunakan untuk menampung cairan minuman sementara tampilannya dibuat menyerupai alat medis agar terlihat berbeda dan mudah viral.

Namun kemasan yang unik tetap harus tunduk pada aturan yang sama dengan kemasan minuman lainnya. Bentuk boleh kreatif tetapi bahan dan peruntukannya tidak boleh menyimpang dari standar food grade.

Kenapa Kemasan Ini Memicu Kekhawatiran

Kekhawatiran publik muncul karena kemasan minuman tersebut sangat mirip dengan kantong infus asli. Tidak sedikit warganet menyoroti tampilannya yang menyerupai produk medis karena tertera logo merk Otsu D5, serta lengkap dengan simbol logo obat keras dan nomor registrasi. Hal ini memicu dugaan bahwa kemasan tersebut merupakan limbah medis atau setidaknya meniru kemasan medis tanpa standar pangan yang jelas.

Kekhawatiran ini tidak berlebihan. Kemasan medis dan kemasan pangan berada di bawah regulasi yang berbeda dan memiliki tujuan penggunaan yang berbeda pula. Ketika batas visualnya menjadi kabur konsumen berhak merasa ragu.

Kenapa Plastik Infus Tidak Sama dengan Kemasan Minuman?

Jika kemasan yang digunakan benar merupakan limbah medis maka risikonya sangat serius. Limbah medis berpotensi mengandung mikroorganisme patogen dan residu obat. Penelitian di Journal of Pharmaceutical Research International tahun 2025 menunjukkan bahwa peralatan medis sekali pakai dapat menjadi sumber penularan bakteri berbahaya jika digunakan ulang tanpa prosedur sterilisasi yang ketat. Menggunakannya sebagai wadah minuman jelas berbahaya.

Bahkan jika kemasan tersebut bukan limbah medis melainkan plastik baru yang diproduksi untuk kebutuhan infus tetap ada masalah mendasar. Plastik infus dirancang untuk penggunaan medis bukan untuk dikonsumsi lewat mulut.

Material ini tidak diuji dengan standar migrasi zat kimia untuk makanan dan minuman. Studi dalam Food and Chemical Toxicology tahun 2021 menjelaskan bahwa bahan plastik non pangan tidak dapat diasumsikan aman digunakan untuk produk konsumsi meskipun digunakan dalam konteks medis.

Dengan kata lain plastik untuk infus dan plastik untuk kemasan minuman memiliki standar pengujian yang berbeda. Menggunakannya di luar peruntukan bisa membawa risiko kesehatan yang tidak disadari konsumen.

Menarik Saja Tak Cukup, Harus Tetap Aman

Klaim bahwa kemasan bukan limbah medis dan bersifat sekali pakai memang penting. Namun dalam konteks keamanan pangan klaim food grade seharusnya didukung oleh sertifikasi resmi dan peruntukan bahan yang jelas. Tanpa adanya bukti itu konsumen hanya diminta percaya pada tampilan dan pernyataan lisan.

Tren kemasan unik terus berkembang seiring kreativitas pelaku usaha makanan dan minuman. Dalam setiap inovasi tersebut aspek keamanan pangan perlu tetap menjadi pertimbangan utama agar produk yang dikonsumsi tidak hanya menarik secara visual tetapi juga aman bagi kesehatan.

Halaman 2 dari 3

Simak Video “Video: Psikolog Ini Kaget Kliennya Lelah Jadi WNI Karena Kondisi Negara”
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)