Dikaitkan ‘Bobby’ Broken Strings, Ahli Jiwa Beberkan Pola Psikologis Pelaku Grooming

Dikaitkan ‘Bobby’ Broken Strings, Ahli Jiwa Beberkan Pola Psikologis Pelaku Grooming

Jakarta

Para pembaca novel ‘Broken String: Fragments of a Stolen Youth’ dari Aurelie Moeremans ngamuk-ngamuk di media sosial. Amarah tersebut ditunjukkan ke karakter ‘Bobby’.

Bukan tanpa alasan, Bobby dalam buku tersebut digambarkan sebagai sosok yang manipulatif lengkap dengan kelakuan-kelakuan yang membuat geleng-geleng kepala.

“Jijik bgt ama ni org, iblis pun tunduk sama dia,” tulis salah satu akun di TikTok, dikutip Rabu (14/1/2026).

“Lu menutupi kebejatan lu itu dengan agama, gue benci bgt orang ini, demi apapun,” tulis lainnya.

Dari viralnya buku tersebut, tidak sedikit warganet yang akhirnya berani bercerita bahwa mereka pernah ada di masa-masa kelam seperti Aurelie. Mereka juga bercerita bahwa pelaku grooming umumnya cenderung denial dan suka marah hingga meledak-ledak, mengapa bisa begitu?

Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan bahwa penyangkalan dan luapan emosi tersebut merupakan hasil dari defense mechanism, kurangnya empati, dan rasa ingin mengontrol sesuatu.

“Ini pola psikologis yang cukup konsisten,” kata dr Lahargo kepada detikcom, Selasa (13/1/2026).

Berikut pola psikologi menurut dr Lahargo ysng biasanya ada pada pelaku child grooming.

1. Defense Mechanism

Pelaku cenderung menyangkal agar:

Tidak merasa bersalahTidak runtuh harga dirinyaTidak menghadapi kenyataan bahwa ia melukai orang lain

2. Cognitive Dissonance

Ini adalah kondisi psikologis tidak nyaman akibat memiliki dua atau lebih keyakinan

“Ada konflik antara ‘saya orang baik’ vs ‘saya menyakiti orang’,” kata dr Lahargo.

Agar konflik ini tidak menyakitkan, otak memilih:

Menyangkal faktaMenyalahkan korbanMarah saat dikonfrontasi

3. Kontrol dan Kekuasaan

Grooming adalah tentang power. Saat kontrol itu terancam (dibongkar publik), pelaku akan mengalami hal-hal berikut:

PanikMarahMeledak-ledak karena kehilangan posisi dominan.

4. Minim Empati Terhadap Dampak

Pelaku child groominh akan lebih fokus pada dirinya sendiri, bukan luka korban.

“Marahnya pelaku bukan tanda ia benar,
tapi tanda mekanisme pertahanannya sedang runtuh,” katanya.

Halaman 2 dari 3

(dpy/kna)