DeepSeek AI Asal China Mulai Saingi OpenAI-Gemini di Negara Berkembang

DeepSeek AI Asal China Mulai Saingi OpenAI-Gemini di Negara Berkembang

Bisnis.com, JAKARTA — Startup kecerdasan buatan (AI) asal China DeepSeek semakin populer di negara-negara berkembang. Kehadirannya dinilai ikut mempercepat adopsi AI di wilayah yang sebelumnya tertinggal dibanding negara maju.

Berdasarkan laporan terbaru Microsoft, dalam tiga bulan hingga Desember 2025, sekitar 16,3% populasi dunia telah menggunakan AI generatif. Angka ini meningkat dari 15,1% pada periode sebelumnya.

Para peneliti Microsoft juga menemukan bahwa kemunculan DeepSeek, perusahaan AI asal China yang berdiri pada 2023, turut mendorong peningkatan adopsi AI di negara-negara berkembang.

Faktor utamanya adalah model AI DeepSeek yang gratis dan bersifat sumber terbuka, sehingga dapat diakses dan dikembangkan oleh banyak pihak.

Dikutip dari Japan Today, Senin (12/1/2026), ketika DeepSeek merilis model AI terbarunya, R1, pada Januari 2025, industri teknologi global dibuat terkejut. Model tersebut diklaim lebih hemat biaya dibanding produk sejenis dari OpenAI, sekaligus menunjukkan China semakin cepat mengejar ketertinggalan teknologi dari Amerika Serikat. Bahkan, jurnal ilmiah ternama Nature menyebut penelitian dari pendiri DeepSeek sebagai karya penting.

DeepSeek dinilai efektif untuk tugas-tugas seperti matematika dan pemrograman. Namun, untuk topik tertentu terutama politik jawaban yang diberikan berbeda dari model AI asal Amerika Serikat karena mengikuti regulasi dan akses internet di China.

Ketersediaan layanan gratis dan kemudahan akses membuat DeepSeek cepat diadopsi di negara-negara dengan keterbatasan infrastruktur digital atau daya beli rendah. Sejumlah negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mencatat tingkat penggunaan yang cukup tinggi.

Laporan tersebut memperkirakan pangsa pasar DeepSeek di China mencapai 89%. Angka ini disusul oleh Belarus (56%), Kuba (49%), Rusia (43%), serta Suriah dan Iran (23–25%). Di beberapa negara Afrika seperti Ethiopia, Zimbabwe, Uganda, dan Niger, pangsa pasar DeepSeek berada di kisaran 11–14%. 

Meski demikian, kepala ilmuwan data AI for Good Lab Microsoft, Juan Lavista Ferres, mencatat bahwa adopsi AI di negara maju tumbuh jauh lebih cepat dibanding negara berkembang, sehingga kesenjangan penggunaan teknologi ini masih cukup besar.

“Kami melihat adanya kesenjangan, dan kami khawatir jarak tersebut akan terus melebar,” ujar Lavista.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa negara-negara yang sejak awal berinvestasi secara konsisten dalam infrastruktur digital dan teknologi AI kini menjadi pemimpin dalam jumlah pengguna AI. Beberapa di antaranya adalah Uni Emirat Arab, Singapura, Prancis, dan Spanyol.

Temuan Microsoft ini sejalan dengan survei Pew Research Center, yang menunjukkan bahwa sejumlah negara lebih antusias terhadap AI dibandingkan rasa khawatir terhadap risikonya. Dalam kedua laporan tersebut, Korea Selatan menonjol sebagai salah satu negara dengan tingkat penerimaan AI tertinggi.

Meski Microsoft memiliki kepentingan bisnis dalam mendorong adopsi AI secara luas, perusahaan menegaskan bahwa riset ini bertujuan untuk memetakan tren penggunaan AI secara global, bukan semata-mata dari sudut pandang komersial. (Nur Amalina)