Dari Jeruji Besi, Warga Binaan Lapas Blitar Garap Ribuan Yearbook dan Kalender

Dari Jeruji Besi, Warga Binaan Lapas Blitar Garap Ribuan Yearbook dan Kalender

Blitar (beritajatim.com) – Di balik kokohnya tembok jeruji Lapas Kelas IIB Blitar, denyut produktivitas layaknya pabrik profesional tengah menderu. Tak sekadar menjalani masa pidana, puluhan warga binaan kini bertransformasi menjadi tenaga terampil yang dipercaya menggarap proyek percetakan skala besar.

Bekerja sama dengan CV. Matahati Kreatif, Lapas Blitar membuktikan bahwa pembinaan kemandirian bukan sekadar jargon di atas kertas. Melalui kolaborasi strategis ini, ribuan buku yearbook (buku kenangan) dan kalender lahir dari tangan-tangan warga binaan yang tengah menebus kesalahan masa lalu.

Kegiatan yang berlangsung intensif sejak Minggu (18/01/2026) ini melibatkan puluhan warga binaan dalam proses perakitan dan produksi tas poket packaging. Kepercayaan yang diberikan pihak swasta seperti CV. Matahati Kreatif menunjukkan bahwa standar kualitas kerja warga binaan Lapas Blitar telah memenuhi kualifikasi pasar.

“Melalui kolaborasi tersebut, ribuan buku yearbook dan kalender dirakit di Lapas Blitar dengan melibatkan puluhan warga binaan. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pemberian peluang kerja produktif sekaligus sarana pengembangan keterampilan, sehingga warga binaan dapat memperoleh penghasilan selama menjalani masa pidana,” ungkap Kepala Lapas Blitar, Romi Novitrion pada Selasa (20/01/2026).

Narapidana Lapas Blitar garap kalender dan Yearbook. (foto : Winanto/beritajatim.com)

Bukan sekadar mengisi waktu luang, para warga binaan ini mendapatkan hak ekonomi yang nyata. Setiap tetes keringat mereka dihargai dengan pemberian premi (upah) sesuai ketentuan yang berlaku.

“Tenaga dan keterampilan warga binaan kami hargai dengan pemberian premi sesuai ketentuan. Ini dibayarkan secara langsung setiap bulan sesuai dengan kontribusi mereka masing-masing,” tegasnya.

Program ini menjadi angin segar bagi narapidana untuk tetap produktif dan memiliki penghasilan meskipun ruang gerak mereka terbatas. Namun, bagi Lapas Blitar, nilai terbesar bukan hanya pada nominal uang yang dihasilkan, melainkan pada pemulihan harga diri dan bekal keterampilan.

Selain lini percetakan, diversifikasi keterampilan juga dilakukan melalui pembuatan kemasan tas poket packaging. Variasi jenis pekerjaan ini disengaja agar warga binaan memiliki portofolio keahlian yang luas saat mereka bebas nantinya.

Kolaborasi dengan mitra profesional ini merupakan bagian dari visi besar Lapas Blitar untuk menciptakan sistem pemasyarakatan yang berdaya guna. Dengan dibekali pengalaman kerja nyata, warga binaan diharapkan tidak lagi merasa terasing saat kembali ke masyarakat, melainkan siap menjadi pribadi mandiri yang mampu membuka lapangan kerja sendiri.

Melalui sinergi antara pembinaan mental dan praktik industri ini, Lapas Blitar sukses mengubah stigma “tempat penghukuman” menjadi “pusat pelatihan kerja” yang manusiawi dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat luas maupun internal Lapas. (owi/but)