Cara Kerja ‘Kalung Euthanasia’, Ramai Disorot usai Dokter Penciptanya Dikecam Keras

Cara Kerja ‘Kalung Euthanasia’, Ramai Disorot usai Dokter Penciptanya Dikecam Keras

Jakarta

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

Seorang dokter ‘spesialis bunuh diri’ asal Australia bernama Dr Philip Nitschke menjadi sorotan karena ‘kalung euthanasia’ yang dibuat. Perangkat berbentuk kalung tersebut digunakan sebagai alat bantu bunuh diri secara medis.

Ini bukan alat bunuh diri satu-satunya yang didesain oleh Dr Philip. Ia juga pernah membuat ‘pod bunuh diri’ yang sempat heboh karena digunakan secara ilegal oleh seorang perempuan di Swiss. Negara Swiss memang menjadi salah satu negara yang memperbolehkan bunuh diri medis, tapi persyaratan yang harus dipenuhi sangat ketat.

Dalam sebuah workshop di Belanda, Dr Philip menjelaskan cara kerja alat yang diberi nama ‘Kairos Kollar’ itu seperti airbag mobil. Cara kerjanya begitu cepat.

“Alat ini bekerja dengan cara cerdas dengan memberi tekanan pada dua titik penting di leher, yang menghasilkan dua efek, yaitu tekanan itu menghentikan aliran darah ke dua arteri penting,” ujar pendiri organisasi kampanye hak bunuh diri medis Exit International tersebut, dikutip dari Unilad, Selasa (6/1/2025).

“Alat dipasang di leher, dan ketika tombol ditekan, alat itu langsung memberi tekanan pada arteri karotis dan vertebralis, sehingga menghentikan aliran darah ke otak,” tambahnya.

Meski Dr Philip mengklaim alat ini memberikan kematian yang lebih ‘nyaman’, kritik mengalir deras kepadanya. Banyak pengguna media sosial yang menilai temuan Dr Philip tersebut sangat anti-kemanusiaan.

Sebagian dari mereka berpendapat, seharusnya memperbaiki kualitas hidup di sisa usia, khususnya orang berusia tua dan pasien dengan penyakit parah, menjadi prioritas utama.

“Seluruh semesta menangis melihat arah anti-kemanusiaan ini. Memalukan. Tidak etis. Lebih dari sekadar tragis,” kata salah satu pengguna media sosial.

“Mengerikan, dan ini setiap hari mendorong saya untuk terus memperjuangkan dunia yang lebih baik bagi para orang tua,” kata yang lain.

“Bagaimana ini bisa dianggap bermoral? Mencekik diri sendiri sampai mati? Orang yang mengerikan,” ucap pengguna media sosial lain.

Halaman 2 dari 2

(avk/naf)