Cakupan CKG 2025 Masih Jauh dari Target, Ini Siasat Kemenkes

Cakupan CKG 2025 Masih Jauh dari Target, Ini Siasat Kemenkes

Jakarta

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI buka-bukaan soal evaluasi cakupan program cek kesehatan gratis (CKG) tahun 2025. Sejak dimulai pada Februari tahun lalu, jumlah warga yang ikut CKG sudah mencapai 70,8 juta orang atau 24,9 persen dari populasi.

Jumlah tersebut lebih rendah dari target yang sudah ditetapkan yaitu 100 juta orang.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman ada beberapa faktor kenapa target tersebut tidak terpenuhi, seperti masih terfokusnya CKG di puskesmas, kurangnya pengetahuan masyarakat soal program CKG, hingga sistem pelaporan belum maksimal.

Oleh karena itu, pihaknya akan meningkatkan penyebarluasan informasi seputar CKG dan memastikan program ini tidak terpusat di puskesmas saja.

“Untuk dapat mencapai target tahun 2026, Kemenkes membangun sinergi bersama kementerian atau lembaga terkait, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan merumuskan strategi peningkatan CKG melalui penyebarluasan informasi masif dan efektif terkait CKG dan perluasan pelayanan CKG di luar gedung seperti pustu (puskesmas pembantu) dan posyandu,” ujar Aji dikutip dari edaran yang diterima detikcom, Rabu (7/1/2026).

“Selain itu, juga dilakukan perluasan pelaksanaan CKG di FKTP selain puskesmas, kementerian atau lembaga, perkantoran atau tempat kerja, dan komunitas,” sambungnya menargetkan pada tahun 2026, cakupan CKG mencapai 46 persen jumlah penduduk Indonesia.

Mereka juga menargetkan persentase kabupaten dan kota dengan cakupan lebih dari 80 persen mencapai 60 persen di tahun 2026. Komitmen daerah yang bervariasi membuat masih ada daerah yang cakupannya di bawah 80 persen.

Program CKG pada tahun 2026 akan tetap berfokus pada seluruh kelompok, tanpa sasaran spesifik. Ini dilakukan untuk menemukan faktor risiko dan masalah kesehatan secara dini, sehingga bisa diobati lebih cepat.

Berdasarkan data CKG 2025, berikut ini sederet masalah kesehatan yang banyak ditemukan, berdasarkan kelompok penduduk:

Bayi baru lahir: Kelainan saluran empedu, berat lahir rendah, risiko defisiensi enzim G6PD, risiko penyakit jantung bawaan dan risiko hipotiroid kongenital.Balita dan anak prasekolah: Gigi tidak sehat, anemia, BB kurang, stunting dan gizi kurang.Anak sekolah dan remaja: Aktivitas fisik kurang, karies gigi, anemia, berisiko kesehatan reproduksi, hipertensi.Dewasa: Aktivitas fisik kurang, karies gigi, obesitas sentral, Overweight dan obesitas, dan hipertensi.Lansia: Aktivitas fisik kurang, gangguan mobilitas, karies gigi, gangguan penglihatan dan hipertensi.

Halaman 2 dari 2

(avk/naf)