Belajar dari Kasus Love Scamming Sleman, Begini Biar Tak Terjebak ‘Cinta Online’

Belajar dari Kasus Love Scamming Sleman, Begini Biar Tak Terjebak ‘Cinta Online’

Jakarta

Polresta Yogyakarta menetapkan enam orang menjadi tersangka pada perusahaan sindikat love scamming di Sleman. Perusahaan itu merupakan penyedia jasa outsourcing untuk sindikat scamming yang berpusat di China.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian menjelaskan para tersangka bekerja menggunakan aplikasi kencan atau dating apps untuk merayu korban yang ujung-ujungnya menjual konten pornografi dengan pembayaran sistem koin.

Para pekerja disebut telah disediakan perangkat dengan aplikasi bernama WOW. Aplikasi ini memiliki server di China dan didatangkan juga dari China. Para pekerja menggaet korban yang rata-rata dari Amerika, Inggris, Kanada, dan Australia.

Pentingnya Self-Awareness

Psikolog klinis Arnoldo Lukito mengatakan setiap orang sebaiknya memperkuat self-awareness atau kesadaran diri agar tidak mudah terjebak dalam segala bentuk penipuan, termasuk love scamming.

“Namanya kan love scamming, itu kan sudah dirancang sedemikian rupa untuk menipu atau mengecoh mengelabui seseorang,” kata Arnoldo kepada detikcom beberapa waktu lalu.

“Jadi dia sudah dilakukan dengan sangat terstruktur dan sangat sistematis biasanya,” sambungnya.

Arnoldo menambahkan pelaku love scam biasanya suka mengontrol dalam sebuah ‘hubungan’ online tersebut seperti arah pembicaraan dan lain sebagainya.

Ini yang menjadi celah bagi siapapun yang ingin membuktikan apakah dirinya sedang dalam lingkaran love scamming atau tidak.

“Kalau itu bukan scam, biasanya ketika di-confront, bahkan sesimpel bertanya ‘kok kita kayaknya cepat sekali sih? Kan kita belum cukup kenal, yuk kenalan dulu, ketemu orang tuamu’ misalnya,” katanya.

“Kalau itu scam, kadang nggak suka tuh. Dan reaksinya bisa sangat terlihat mungkin marah, ‘kok kamu nggak percaya sama saya?’ gitu ya,” tutupnya.

Halaman 2 dari 2

(dpy/kna)