Belajar dari ‘Broken Strings’, Pentingnya Empati Tanpa Menghakimi Korban Grooming

Belajar dari ‘Broken Strings’, Pentingnya Empati Tanpa Menghakimi Korban Grooming

Jakarta

Keberanian Aurelie Moeremans mengungkap luka masa lalunya lewat buku ‘Broken Strings’ tidak hanya menginspirasi, tapi juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya empati bagi penyintas kekerasan seksual.

Dalam akun Instagram pribadinya, Aurelie mengungkap alasan merilis buku Broken Strings yang berisi trauma masa lalunya. Dia berharap pengalamannya yang kelam bisa menjadi pelajaran berharga bagi gadis-gadis muda lainnya agar tidak terjebak dalam pola hubungan yang manipulatif.

“Dia (suami) yang dari awal percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya,” tulis Aurelie dalam salah satu keterangan unggahannya.

Pentingnya membangun empati bagi korban

Kejadian yang dialami Aurelie ini mendapat banyak sorotan dari warganet. Banyak yang mendukungnya karena berani menceritakan masa kelam yang dialaminya ke publik.

Korban grooming seringnya baru menyadari apa yang dialaminya setelah bertahun-tahun. Ini karena memori anak-anak sering kali bersifat abstrak. Saat kejadian, mereka mengalami kebingungan emosional yang luar biasa.

“Tapi begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar, yang berpengaruh pada kesehatan mental dia berikutnya,” ungkap Sari.

Belum lagi, pelaku sengaja membuat anak merasa paling spesial, paling dewasa, atau satu-satunya orang yang memahami mereka. Pelaku sering kali memposisikan diri sebagai “pelindung” melawan dunia luar yang dianggap tidak mengerti mereka.

Perasaan cinta palsu

Hal ini menciptakan ilusi ‘cinta’ yang membuat korban merasa sangat terikat dan sulit melepaskan diri. Korban sering kali tidak merasa disakiti pada saat kejadian karena pelaku membungkusnya dengan perhatian yang tampak seperti kasih sayang.

“Jika diperhatikan dari definisinya, memang ada kata kunci mempersiapkan. Artinya, memang segala hal yang dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja atau seseorang menjadi target,” tutur psikolog dari Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi, dikutip dari laman UGM.

Sikap empati dimulai dengan memberikan ruang aman bagi korban untuk bersuara. Jika menemukan atau menjadi korban kekerasan seksual, jangan ragu untuk segera bertindak dengan melapor melalui layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

Masyarakat dapat menghubungi hotline resmi di nomor 129 atau melalui layanan pesan WhatsApp di nomor 081111129129.

Halaman 2 dari 2

(kna/kna)