Jakarta –
Kendaraan elektrifikasi untuk menekan emisi saat ini sudah beragam. Mobil hybrid yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik juga bisa menurunkan emisi.
Pemerintah telah memberikan insentif untuk berbagai kendaraan elektrifikasi. Mobil listrik jadi yang paling besar dapat insentif. Sedangkan mobil hybrid lebih sedikit dapat insentif.
Namun, studi yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), menyebut untuk menurunkan emisi sebenarnya lebih efisien menggunakan mobil hybrid. Peneliti senior LPEM FEB UI Riyanto mengatakan, mobil hybrid menjadi mekanisme pengurangan emisi yang paling efisien secara ekonomi meskipun insentif tambahan diperkenalkan. Soalnya, pemerintah tidak mengeluarkan biaya banyak untuk insentif mobil hybrid ketimbang mobil listrik.
“Kalau pemerintah mau menurunkan emisi 1 gram CO2,itu jalannya itu paling murah lewat apa?Kalau kita hitung di sini,dengan well to wheel (dari siklus sumber energi sampai ke roda kendaraan),sekarang insentif untuk HEV kan sedikit, cuman PPnBM-nya 8%, 6%,itu aja yang turun, sementara PPN-nya masih 12%, PKB, BBNKB sama dengan ICE (mobil konvensional), sehingga pengorbanan pemerintah nggak banyak.Karena itulah sebenarnya biaya penurunan emisi di hybrid ini, ya tidak banyak dikorbankan oleh pemerintah,makanya dia biayanya jadi lebih murah,” ujar Riyanto baru-baru ini.
“Sementara yang untuk BEV (mobil listrik berbasis baterai),itu kan pemerintah mengorbankan banyak tuh,biayanya untuk (insentif) pajak itu. Tapi penurunan emisinya kan nggak terlalu banyak (karena sumber energi listriknya masih diproduksi menggunakan batu bara),makanya biaya 1 gram CO2-nya itu lebih besar,” sambungnya.
Riyanto mengatakan, untuk menurunkan emisi banyak jalan yang bisa ditempuh. Tak cuma mengandalkan mobil listrik, teknologi kendaraan elektirifkasi lain pun bisa dimanfaatkan untuk menurunkan emisi.
“Ini juga menarik sebenarnya, even HEV (mobil hybrid) itu diberikan tambahan insentif,itu tetap lebih murah biaya penurunan emisinya itu lewat HEV. Kenapa? Ya tadi penurunannya kan dari sekarang mungkin 6% turun sampai 2% (karena insentif PPnBM mobil hybrid). Jadi itu PPnBM saja yang berkurang. jadi itu membuat emisi juga lebih murah lewat jalur hybrid dibandingkan BEV. Kecuali mungkin nanti kalau PLN sangat radikal ya mengubah power plant-nya (tidak lagi menggunakan batu bara). Tetapi di 2030 dengan asumsi (tanpa) perubahan-perubahan yang terjadi di PLN, rasanya HEV masih lebih murah penurunan emisinya,” sebut Riyanto.
Memang selama ini banyak yang menganggap mobil listrik lebih bersih. Karena yang dilihat hanya mobil listrik tersebut tidak mengeluarkan emisi, padahal sumber listriknya masih menghasilkan emisi.
“Selama ini kalau kita mau lebih menurunkan emisi,sebenarnya jalannya banyak, kecuali memang kalau kita hitungnya cuman antara tank to wheel (dihitung dari kendaraan saja tanpa melihat sumber listriknya) ya, kalau (dilihat keluaran emisi dari) knalpot aja memang 100% emisinya nggak ada. Jadi sebenarnya ini akan efektif, elektrifikasi ke BEV itu, kalau di kelistrikan itu juga dilakukan dekarbonisasi, artinya batu bara power plant-nya itu sudah mulai harus dikurangi. Jadi kalau (power plant) itu dihitung, sebenarnya nggak lebih murah gitu ya,” katanya.
(rgr/din)
