Bisnis.com, JAKARTA — Lautan dunia mencatat level penyerapan panas tertinggi sepanjang sejarah pengamatan modern pada 2025. Bisa dikatakan, wilayah perairan ini menyimpan energi ekstra setara dengan ledakan 12 bom Hiroshima setiap detik sepanjang tahun.
Gambaran tersebut didapat dari analisis ilmiah internasional terbaru yang dipublikasikan dalam Advances in Atmospheric Sciences. Untuk mengukur kandungan panas ini, para penulis studi melakukan observasi satelit dan pengukuran in-situ yang diolah dari lembaga riset besar dunia, termasuk NOAA (Amerika Serikat), Copernicus Climate Change Service (Uni Eropa), dan Chinese Academy of Sciences.
Hasilnya, menunjukkan lautan menyerap sekitar 23 zettajoule panas tambahan pada 2025, menjadi rekor kesembilan berturut-turut sejak pengukuran dimulai pada 1960an. Satu zettajoule sama dengan 1 triliun miliar joule.
“Tahun lalu adalah tahun pemanasan global yang gila dan tidak masuk akal,” tegas John Abraham, insinyur mekanik di Universitas St. Thomas dan salah satu penulis studi baru tersebut, dikutip dari Live Science, Senin (19/1/2026).
Dia menerangkan, 23 zettajoule dalam satu tahun setara dengan energi 12 bom Hiroshima yang meledak di lautan setiap detik. Peningkatan ini terbilang signifikan dibandingkan 2024, dengan 16 zettajoule panas yang diserap lautan.
Adapun area terpanas di lautan yang diamati pada 2025 diantaranya Atlantik tropis dan Selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia Utara, dan Samudra Selatan.
Para peneliti menjelaskan bahwa samudra di dunia menyerap lebih dari 90% panas berlebih yang terperangkap di atmosfer Bumi akibat emisi gas rumah kaca. Seiring dengan akumulasi panas di atmosfer, panas yang tersimpan di samudra juga meningkat, sehingga panas samudra menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk perubahan iklim jangka panjang.
Sementara itu, suhu laut memengaruhi frekuensi dan intensitas gelombang panas laut, mengubah sirkulasi atmosfer, dan mengatur pola curah hujan global.
“Hasil penelitian ini memberikan bukti langsung bahwa sistem iklim berada di luar keseimbangan termal dan mengakumulasi panas,” tulis para ilmuan dalam penelitian ini.
Samudra yang lebih panas dikatakan mendukung peningkatan curah hujan global dan memicu badai tropis yang lebih ekstrem. Dalam setahun terakhir, suhu global yang lebih hangat kemungkinan bertanggung jawab atas dampak buruk Badai Melissa di Jamaika dan Kuba, hujan monsun lebat di Pakistan, banjir parah di Lembah Mississippi Tengah, dan banyak lagi.
“Panas laut terus memberikan dampak yang mendalam pada sistem Bumi,” sebut Abraham.
