Bisnis.com, JAKARTA— PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) berkomtimen untuk terus memperluas jaringan guna mendukung target Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) cakupan layanan mobile broadband minimal 4G/LTE mencapai 97,5% pada 2026.
Group Head Corporate Communications & Sustainability XLSMART Reza Mirza mengungkapkan, hingga saat ini jaringan dan layanan 4G XLSMART telah menjangkau lebih dari 95% total populasi penduduk Indonesia.
“Sementara untuk 5G saat ini baru menjangkau beberapa wilayah/area termasuk menjangkau secara full/blanket di 13 kota/kabupaten di Indonesia sebagaimana kami pernah informasikan sebelumnya,” kata Reza kepada Bisnis pada Senin (19/1/2026).
Reza menambahkan, ke depan cakupan jaringan dan layanan 4G maupun 5G akan terus diperluas seiring dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi.
Dia juga menyampaikan apresiasi terhadap arah kebijakan Komdigi yang dinilai sejalan dengan tujuan perusahaan untuk menghubungkan setiap orang Indonesia demi kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, XLSMART siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam memperluas jaringan, menghadirkan layanan broadband yang terjangkau, serta mendukung transformasi digital masyarakat di berbagai daerah.
Sementara itu, Komdigi menargetkan cakupan layanan mobile broadband minimal 4G/LTE mencapai 97,50% dari total wilayah permukiman pada 2026. Target tersebut tercantum dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029.
Dalam dokumen tersebut, indikator jangkauan jaringan pita lebar bergerak per populasi ditetapkan meningkat secara bertahap hingga mencapai 98% pada 2029.
Secara rinci, cakupan mobile broadband ditargetkan mencapai 97,50% pada 2026, meningkat menjadi 97,75% pada 2027, kemudian 97,90% pada 2028, dan mencapai 98% pada 2029.
Adapun capaian pada 2024 tercatat sebesar 97,16% dari total wilayah permukiman. Angka tersebut meningkat dibandingkan target 2025 yang ditetapkan sebesar 97,30%.
Meski demikian, pencapaian target tersebut dinilai menuntut kesiapan investasi yang lebih besar serta dukungan kebijakan yang kuat, terutama untuk memperluas layanan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward menyebut diperlukan dukungan pembiayaan yang memadai guna mengejar target tersebut.
“Untuk mengejar 97,5% tentu perlu capex operator seluler yang lebih besar dan insentif untuk daerah 3T,” kata Ian saat dihubungi Bisnis pada Kamis (8/1/2026).
Ian menilai pembangunan infrastruktur di wilayah 3T perlu disertai skema pengembalian yang jelas melalui kewajiban pelayanan universal (USO) non tunai. Selain itu, pembangunan jaringan yang mendukung agenda Asta Cita dan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga perlu dikompensasi dalam bentuk penyertaan negara agar beban regulasi tetap proporsional.
