Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan teknologi asal Taiwan menyepakati perjanjian dagang strategis demi memperkuat sektor manufaktur semikonduktor (cip).
Dalam kesepakatan yang diumumkan Departemen Perdagangan AS pada Kamis (15/1/2026), perusahaan Taiwan berkomitmen melakukan investasi langsung senilai US$250 miliar atau sekitar Rp4.230 triliun.
Investasi ini ditujukan untuk industri semikonduktor, energi, serta produksi dan inovasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Selain investasi langsung, Taiwan juga menyepakati penyediaan jaminan kredit tambahan senilai US$250 miliar. Dana ini disiapkan untuk memfasilitasi investasi lanjutan dari berbagai perusahaan semikonduktor dan teknologi terkait.
Namun, rincian mengenai jangka waktu pelaksanaan atau periode realisasi investasi belum dijelaskan dalam pengumuman resmi.
Sebagai timbal balik, AS berkomitmen menanamkan modal di sejumlah sektor strategis Taiwan, meliputi semikonduktor, pertahanan, AI, telekomunikasi, dan bioteknologi.
AS juga menyetujui penerapan tarif timbal balik 0% untuk sejumlah komoditas spesifik. Komoditas yang mendapat keistimewaan bebas tarif ini meliputi obat-obatan generik beserta bahan bakunya, komponen pesawat terbang, serta sumber daya alam yang ketersediaannya terbatas di AS.
Namun, siaran pers resmi pemerintah AS tidak menyebutkan nominal spesifik terkait nilai investasi dari pihak AS tersebut.
Trump awalnya menetapkan tarif sebesar 32% untuk barang-barang Taiwan. Namun, kemudian mengubahnya menjadi 20%.
Kesepakatan baru ini memangkas tarif menjadi 15%, sama dengan tarif yang dikenakan pada mitra dagang AS lainnya di kawasan Asia-Pasifik seperti Jepang dan Korea Selatan.
Kesepakatan ini terjadi hanya satu hari setelah pemerintah AS menerbitkan pernyataan yang menegaskan kembali target repatriasi manufaktur semikonduktor. Saat ini, AS tercatat hanya memproduksi 10% dari total pasokan semikonduktor global, sementara Taiwan menguasai lebih dari setengah produksi dunia.
Dalam proklamasi tersebut dinyatakan bahwa ketergantungan pada rantai pasokan asing merupakan risiko ekonomi dan keamanan nasional yang signifikan.
“Mengingat peran mendasar yang dimainkan oleh semikonduktor dalam ekonomi modern dan pertahanan nasional, setiap gangguan pada rantai pasokan yang bergantung pada impor dapat membebani kemampuan industri dan militer Amerika Serikat secara serius,” demikian pernyataan dalam proklamasi tersebut melansir dari TechCrunch.
Adapun, proklamasi yang terbit sehari sebelumnya juga mengumumkan penerapan tarif sebesar 25% pada cip AI canggih tertentu. Pemerintah AS mengisyaratkan adanya potensi tarif semikonduktor tambahan setelah pembicaraan perdagangan dengan negara lain selesai dilakukan. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)
