JLL Proyeksi 50% Kapasitas Data Center Diisi AI, Ketersediaan Energi jadi Momok

JLL Proyeksi 50% Kapasitas Data Center Diisi AI, Ketersediaan Energi jadi Momok

Bisnis.com, JAKARTA —Jones Lang LaSalle Incorporated (JLL), perusahaan layanan real estate dan investasi properti, memperkirakan beban kerja kecerdasan buatan (AI) mencakup sekitar 50% dari total kapasitas data center global pada 2030, naik dari sekitar 25% pada 2025. 

Kecerdasan buatan juga akan berdampak pada peningkatan investasi yang signifikan di sektor data center yang diperkirakan mencapai US$3 triliun atau sekitar Rp50,60 kuadriliun dalam lima tahun ke depan. 

Nilai tersebut mencakup US$1,2 triliun atau sekitar Rp20,24 kuadriliun peningkatan aset properti serta US$870 miliar atau Rp14,67 kuadriliun pembiayaan utang baru.

Kebutuhan investasi yang besar didorong oleh kapasitas global data center yang diperkirakan hampir dua kali lipat, dari 103 GW menjadi 200 GW pada 2030.

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi pendorong utama perubahan lanskap industri ini. 

Global Head of Data Center Research JLL Andrew Batson mengatakan pihaknya melihat munculnya paradigma infrastruktur baru, di mana fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan data center konvensional.

“Di luar aspek ekonomi, AI kini telah menjadi isu strategis nasional, yang mendorong berbagai negara untuk mengembangkan kapabilitas domestik melalui investasi infrastruktur yang didukung pemerintah dengan peluang belanja modal (CapEx) hingga USD8 miliar [Rp134,92 triliun] pada 2030,” kata Andrew dalam keterangan resmi pada Kamis (15/1/2026).

Dari sisi regional, kawasan Amerika diperkirakan tetap menjadi wilayah data center terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 50% dari total kapasitas global, sekaligus mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030.

Kawasan Asia Pasifik diprediksi berkembang dari 32 GW menjadi 57 GW, sementara Eropa, Timur Tengah, dan Afrika akan bertambah sekitar 13 GW kapasitas baru.

Pekerja di sebuah ruang server

Asia Pasifik, Indonesia dan Kesiapan Energi

Untuk Asia Pasifik, pertumbuhan sektor ini terutama dipimpin oleh data center kolokasi, sementara kapasitas on-premise diperkirakan turun sekitar 6% seiring berlanjutnya migrasi perusahaan ke layanan cloud.

Di Asia Tenggara, Indonesia semakin menonjol sebagai salah satu pasar pertumbuhan utama. Kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta tetap relevan karena kedekatannya dengan pusat konektivitas internet utama (internet exchange point). 

Di luar Jabodetabek, wilayah seperti Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler berkat keberadaan kawasan industri yang berkembang serta akses ke sumber listrik mandiri. Batam juga semakin dilirik sebagai calon hub data center regional karena keunggulan konektivitasnya.

Di sisi lain, ketersediaan energi masih menjadi tantangan utama. Rata-rata waktu tunggu koneksi jaringan listrik di pasar utama kini melebihi empat tahun. 

Akibat keterlambatan interkoneksi utilitas serta meningkatnya biaya listrik, sejumlah operator mulai mendanai pembangkit energi mereka sendiri. Beberapa pasar seperti Dublin dan Texas bahkan telah menerapkan pendekatan bring your own power.

Untuk mengatasi keterbatasan jaringan, data center mengadopsi strategi energi yang beragam sesuai kondisi regional. 

Di Amerika Serikat, gas alam berperan sebagai sumber daya sementara (bridge power) maupun pembangkit listrik permanen di lokasi. Empat hyperscaler utama bahkan telah sepenuhnya mencocokkan portofolio data center mereka di AS dengan energi terbarukan. 

Di kawasan EMEA, kombinasi energi terbarukan dan transmisi private wire mampu menurunkan biaya listrik penyewa hingga 40% dibandingkan jaringan umum.

Sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS) juga semakin berkembang, memungkinkan penanganan gangguan listrik jangka pendek secara lebih efisien sekaligus mempercepat proses koneksi jaringan. 

Selain itu, kombinasi tenaga surya dan penyimpanan energi diproyeksikan menjadi komponen utama strategi energi data center global pada 2030, dengan biaya energi terbarukan yang diperkirakan semakin kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil di berbagai kawasan utama.

Di Indonesia, dinamika global terkait energi dan infrastruktur ini menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengembangan data center, khususnya dalam hal ketersediaan listrik, konektivitas, dan kesiapan talenta di tengah persaingan regional yang semakin ketat. 

Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan ke depan penguatan kesiapan infrastruktur, khususnya ketersediaan listrik dan akses air bersih, konektivitas, serta pengembangan talenta, akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan.

Sektor data center juga mengalami penguatan aktivitas di pasar modal. Strategi investasi inti mencakup sekitar 24% dari aktivitas penggalangan dana, meningkat dari kisaran di bawah 10% sebelumnya. Sejak 2020, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) global telah melampaui USD300 miliar. Ke depan, arah investasi diperkirakan bergeser menuju rekapitalisasi dan kerja sama usaha (joint venture) seiring perubahan struktur investasi.

Pembentukan modal dana inti (core fund) data center global diproyeksikan melampaui USD50 miliar atau sekitar Rp843,25 triliun pada 2026, dengan target imbal hasil 10% atau lebih. Instrumen ABS dan CMBS juga semakin dimanfaatkan sebagai solusi pembiayaan ekspansi sektor, dengan volume penerbitan yang hampir dua kali lipat setiap tahun sejak 2020 dan diproyeksikan mencapai USD50 miliar pada 2026.