Ahli Mikrobiologi RI Ungkap Fakta ‘Super Flu’ yang Bikin Khawatir Dunia

Ahli Mikrobiologi RI Ungkap Fakta ‘Super Flu’ yang Bikin Khawatir Dunia

Jakarta

Fenomena wabah ‘super flu’ menyita perhatian global dalam beberapa pekan terakhir, menyusul lonjakan kasus influenza musiman di sejumlah negara. Kementerian Kesehatan RI pun meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap varian influenza yang beredar, menyusul ramainya pemberitaan nasional yang menyebutnya sebagai ‘super influenza’.

Istilah ‘super influenza’ sebenarnya bukan istilah medis resmi. Para ahli mengungkapkan sebutan itu digunakan untuk menggambarkan virus influenza musiman yang menyebar lebih cepat dari biasanya.

Varian yang banyak disorot adalah influenza A (H3N2), khususnya subklade K.

Ahli mikrobiologi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) menegaskan virus ini bukanlah virus baru. Influenza memang dikenal sebagai virus yang terus berevolusi melalui mutasi genetik.

“Kemunculan varian baru merupakan hal yang lazim terjadi setiap tahun,” kata para ahli mikrobiologi dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (14/1/2026).

Gejala Masih Serupa Flu Musiman

Meski daya penularannya dilaporkan lebih tinggi, para pakar menekankan belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang jauh lebih ganas dibandingkan influenza musiman pada umumnya. Gejala yang muncul masih serupa, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, lemas, dan kelelahan.

“Namun, karena penularannya cepat, jumlah kasus dapat meningkat signifikan, terutama pada kelompok rentan,” sambung para ahli.

Situasi Wabah ‘Super Flu’ Global dan Indonesia

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia melaporkan musim flu datang lebih awal dan lebih intens dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kunjungan ke fasilitas kesehatan hingga rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan.

Di Indonesia, Kemenkes menyebut telah menemukan beberapa kasus influenza varian ini di sejumlah provinsi. Pemerintah memastikan situasi masih terkendali, sembari terus memperkuat surveilans epidemiologi melalui rumah sakit dan puskesmas sentinel.

Belakangan, satu kasus kematian yang dikaitkan dengan varian ini juga dilaporkan. Klinisi menekankan pasien tersebut memiliki penyakit penyerta, yang memang diketahui dapat memperberat perjalanan penyakit influenza.

Influenza Tak Boleh Diremehkan

Influenza kerap dianggap penyakit ringan. Tetapi, para ahli mikrobiologi menyebutkan pada kondisi tertentu, flu dapat memicu komplikasi serius, seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis (jantung, paru, diabetes), dehidrasi berat, hingga kematian terutama pada kelompok berisiko tinggi.

Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, serta orang dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Vaksinasi Tetapi Jadi Andalan

Para ahli mikrobiologi menegaskan vaksin influenza masih menjadi perlindungan terbaik untuk mencegah penyakit berat dan kematian. Meski virus terus bermutasi, vaksin tetap memberikan perlindungan silang yang bermanfaat.

Selain vaksinasi, langkah pencegahan sederhana juga dinilai efektif. Mulai dari rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di dalam kerumunan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, hingga istirahat di rumah bila mengalami flu.

“Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada. ‘Super flu’ disebut bukan pandemi baru, melainkan pengingat bahwa influenza tetap merupakan penyakit serius yang tidak boleh diremehkan,” pungkas para ahli.

Halaman 2 dari 2

(sao/kna)