Bisnis.com, JAKARTA — Microsoft kembali mengumumkan rencana besar untuk membangun banyak pusat data atau data center baru guna mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI).
Rencana pembangunan ini menuai banyak penolakan dari masyarakat dalam setahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa tetap melanjutkan ekspansi mereka. Microsoft, sebagai mitra OpenAI, menyebut pendekatannya kali ini sebagai pembangunan “berbasis komunitas”.
Pengumuman ini sebenarnya tidak mengejutkan. Tahun lalu, Microsoft sudah menyatakan akan menginvestasikan miliaran dolar untuk memperluas kapasitas AI. Namun, yang berbeda sekarang adalah janji-janji khusus yang mereka sampaikan terkait dampak pembangunan pusat data bagi masyarakat sekitar.
Microsoft menyatakan ingin menjadi tetangga yang baik di wilayah tempat pusat data mereka dibangun dan dioperasikan. Salah satu janji utamanya adalah memastikan tagihan listrik warga tidak naik akibat kehadiran pusat data tersebut. Microsoft mengatakan akan menanggung sendiri biaya listrik tambahan yang mereka gunakan.
Untuk mewujudkan hal itu, Microsoft akan bekerja sama dengan perusahaan listrik lokal serta pemerintah daerah agar tarif yang mereka bayarkan benar-benar mencerminkan beban yang mereka berikan pada jaringan listrik. Tujuannya jelas biaya operasional pusat data tidak boleh dibebankan kepada pelanggan rumah tangga.
“Kami akan bekerja sama erat dengan perusahaan utilitas yang menetapkan harga listrik dan komisi negara bagian yang menyetujui harga tersebut,” kata Microsoft, dikutip dari Tech Crunch Rabu (14/1/2026).
Selain soal listrik, Microsoft juga berjanji akan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan mengurangi penggunaan air, karena pusat data sering dikritik menghabiskan air dalam jumlah besar dan berpotensi merusak lingkungan
Meski begitu, penggunaan air dan janji penciptaan lapangan kerja masih menjadi perdebatan. Banyak pihak mempertanyakan apakah pekerjaan yang tercipta benar-benar banyak dan bersifat jangka panjang.
Alasan Microsoft membuat janji-janji ini cukup jelas. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan pusat data menjadi isu sensitif dan sering memicu penolakan warga. Bahkan, tercatat ada lebih dari 140 kelompok aktivis di 24 negara bagian Amerika Serikat yang menentang proyek pusat data.
Dampaknya sudah dirasakan langsung oleh Microsoft. Pada Oktober lalu, mereka membatalkan rencana pembangunan pusat data di Wisconsin karena penolakan warga. Di Michigan, rencana serupa juga memicu aksi protes. Di Ohio, media setempat bahkan menyalahkan Microsoft dan perusahaan teknologi lain atas dampak perubahan iklim.
Isu ini juga menarik perhatian pemerintah pusat. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Microsoft harus melakukan perubahan besar agar warga Amerika tidak menanggung biaya listrik akibat konsumsi energi pusat data. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran publik telah sampai ke tingkat nasional. (Nur Amalina)
