Jakarta –
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) Taruna Ikrar menegaskan belum ada laporan terkait masyarakat yang mengalami keracunan dari susu formula (sufor) Nestle yang diduga terkontaminasi toksin cereulide.
“Belum ada laporan masuk ke Badan POM yang mengalami keracunan,” kata Ikrar ketika ditemui di kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).
“Oleh karena itu, kami minta kepada Nestle, produk yang bermasalah itu untuk ditarik secara sukarela dan Nestle-nya bersedia,” sambungnya.
Berdasarkan penelusuran terhadap data importasi BPOM, 2 bets produk susu formula terdampak tersebut diimpor ke Indonesia. Namun, hasil pengujian terhadap sampel produk dari 2 bets terdampak menunjukkan toksin cereulide tidak terdeteksi (limit of quantitation/LoQ
Toksin cereulide dalam produk tersebut adalah toksin yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus. Toksin ini bersifat tahan panas (heat stable)/tidak dapat dimusnahkan/dinonaktifkan melalui proses penyeduhan dengan air mendidih maupun proses pemasakan biasa.
Akibat yang dapat timbul karena paparan toksin ini bersifat segera, umumnya antara 30 menit hingga 6 jam setelah konsumsi dengan gejala antara lain muntah parah/persisten, diare, serta kelesuan yang tidak biasa.
“Produk yang terdampak tersebut hanya produk S-26 Promil Gold pHPro 1 (formula bayi untuk usia 0-6 bulan), nomor izin edar ML 562209063696 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1,” tulis BPOM dalam keterangannya.
“BPOM juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir untuk menggunakan/mengonsumsi produk Nestlé lainnya, termasuk produk S-26 Promil Gold pHPro 1 dengan nomor bets selain yang disebutkan di atas,” tambah BPOM.
Halaman 2 dari 2
(dpy/up)
