Bisnis.com, JAKARTA — Para peneliti memprediksi alien kemungkinan berkomunikasi dengan cara yang sederhana namun efektif, yakni melalui kilatan cahaya berulang seperti kunang-kunang. Cara ini dinilai bisa membuat keberadaan mereka tampak jelas di alam semesta, tetapi justru luput dari perhatian manusia.
Kesimpulan tersebut tertuang dalam studi yang dipublikasikan di server preprint arXiv pada awal November 2025. Tim peneliti dari Arizona State University mendorong komunitas ilmiah untuk mengurangi bias antropogenik dalam pencarian tanda kehidupan luar angkasa.
“Mempertimbangkan komunikasi non-manusia sangat penting jika kita ingin memperluas intuisi dan pemahaman kita tentang seperti apa komunikasi alien itu, dan apa yang seharusnya dijelaskan oleh teori kehidupan,” ujar Estelle Janin, salah satu penulis studi, dikutip dari Live Science, Selasa (13/1/2026).
Sejauh ini, upaya untuk mengungkap kecerdasan alien berfokus pada pencarian bukti peradaban mirip manusia di tempat yang jauh. Misal, Institut Pencarian Kecerdasan Ekstraterestrial (SETI), selama ini fokus pada gelombang radio atau radiasi termal dari struktur teknologi besar.
Kendati demikian, tim peneliti dari Arizona State University menyatakan bahwa peradaban jauh lebih maju mungkin tidak lagi mengandalkan teknologi radio yang mudah dideteksi. Kondisi ini terjadi seiring dengan tren di Bumi di mana komunikasi bergerak menuju sistem terpadu yang lebih terfokus dan lebih sulit dilihat dari kejauhan.
Dalam penelitian baru ini, Janin dan rekan-rekannya berpendapat alien mungkin berkomunikasi dengan saling memancarkan cahaya seperti kunang-kunang. Sinyal kedipan dapat digunakan untuk komunikasi yang spesifik dan kompleks, bisa juga disiarkan secara luas ke peradaban lain, seperti suar berulang yang bercahaya.
Untuk mencapai kesimpulan ini, peneliti menganalisis kilatan lebih dari 150 pulsar alias bintang neutron yang berputar cepat dan memancarkan radiasi elektromagnetik secara teratur, di galaksi. Mereka mencatat beberapa kesamaan antara sinyal pulsar dan kunang-kunang.
Tim peneliti berpendapat bahwa sinyal-sinyal ini lebih mungkin berevolusi dalam peradaban alien yang berumur panjang dan berkembang melampaui kebutuhan akan penggunaan gelombang radio secara luas. Perkembangan serupa sudah terjadi di Bumi, di mana penggunaan satelit komunikasi dengan sinyal radio yang lebih spesifik dan terkonsentrasi.
Sinyal semacam itu boleh jadi tidak dibentuk untuk menyampaikan pesan yang bisa dipahami manusia, melainkan berfungsi sebagai penanda eksistensi yang kuat di tengah latar belakang kosmik yang ramai.
“Komunikasi adalah fitur mendasar kehidupan di berbagai garis keturunan dan terwujud dalam beragam bentuk dan strategi yang menakjubkan,” sebut Janin yang juga menjadi kandidat doktor di Sekolah Eksplorasi Bumi dan Luar Angkasa di Universitas Negeri Arizona.
