Kondisi Terkini RS di Aceh Tamiang, Salah Satu Wilayah Paling Terdampak Bencana Banjir

Kondisi Terkini RS di Aceh Tamiang, Salah Satu Wilayah Paling Terdampak Bencana Banjir

Jakarta

Lebih dari satu bulan setelah bencana banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi pelayanan kesehatan, khususnya di rumah sakit, belum sepenuhnya pulih. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, dr Mustakim, menyebut layanan rumah sakit saat ini masih berjalan secara parsial sambil menunggu pemulihan sarana dan prasarana terdampak.

Banjir besar melanda wilayah ini pada akhir November 2025. Aktivitas di rumah sakit saat itu seluruhnya lumpuh.

Genangan air setinggi hingga tiga meter, ditambah lumpur dengan ketebalan lebih dari 30 sentimeter, merendam nyaris seluruh bagian bangunan rumah sakit.

“Untuk rumah sakit, kondisinya memang masih parsial. Pelayanan diposisikan di ruang triase terlebih dahulu, kemudian ruang VIP dan ruang rawat inap terpadu digunakan untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, termasuk yang memerlukan pelayanan spesialistik,” kata dr Mustakim saat ditemui di RSUD Aceh Tamiang, Senin (12/1/2025).

Menurutnya, sejumlah layanan penting seperti beberapa emergency room dan operation center masih berfungsi dan diaktifkan untuk memenuhi kebutuhan medis masyarakat. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah kerusakan alat kesehatan akibat terendam banjir dan lumpur.

dr Mustakim menyebut sekitar 94 persen alat kesehatan, baik yang berada di rumah sakit maupun puskesmas, tidak lagi dapat digunakan.

“Alat-alat tersebut sudah terendam lumpur. Saat ini kami telah melakukan proses identifikasi sesuai arahan Menteri Kesehatan, baik untuk alat kesehatan maupun sarana-prasarana yang terdampak di puskesmas dan rumah sakit,” lanjut dia.

Meski bantuan logistik dan peralatan kesehatan disebut sudah cukup masif, kebutuhan di lapangan dinilai masih tinggi.

“Bantuan yang ada saat ini memang sudah banyak, seperti yang terlihat di rumah sakit. Tapi secara parsial, masih banyak yang dibutuhkan agar pelayanan kesehatan bisa berjalan lebih komprehensif,” tambahnya.

Kondisi Terkini RS di Aceh Tamiang, Salah Satu Wilayah Paling Terdampak Bencana Banjir Foto: Nafilah Sri Sagita/ detikHealth

Meski begitu, kabar baik datang dari layanan hemodialisa atau cuci darah. dr Mustakim memastikan layanan tersebut sudah kembali aktif di RSUD Aceh Tamiang. Saat ini, terdapat sekitar 40 pasien yang rutin menjalani cuci darah tanpa harus dirujuk ke rumah sakit di Medan maupun Langsa.

“Pelayanan hemodialisa sudah aktif sepenuhnya. Pasien tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah,” jelasnya.

Dari sisi sumber daya manusia, Aceh Tamiang disebut masih membutuhkan tambahan relawan kesehatan. Saat ini, terdapat sekitar 170 relawan yang tergabung dalam 18 tim dan bertugas di posko kesehatan maupun rumah sakit. Untuk tahap atau batch ketiga, kebutuhan relawan masih cukup tinggi, meski ke depan diperkirakan akan berkurang seiring berkurangnya jumlah pengungsi.

“Titik pengungsian sudah mulai berkurang karena sebagian warga direlokasi ke hunian sementara. Di lokasi-lokasi huntara seperti Simpang Empat, Opak, Bendahara, dan Karang Baru, kami sudah menempatkan tenaga kesehatan dari klinik setempat,” katanya.

dr Mustakim menegaskan hampir semua jenis keahlian masih dibutuhkan, terutama untuk menangani kelompok rentan.

“Penyintas anak berkebutuhan khusus menjadi perhatian serius kami. Selain itu, kami sangat membutuhkan spesialis bedah untuk perawatan luka, serta spesialis kejiwaan karena kondisi kesehatan mental para penyintas pascabencana tentu terdampak.”

“Trauma healing menjadi kebutuhan penting di titik-titik pengungsian,” tutupnya.

Pantauan detikcom Senin (12/1) di RSUD Aceh Tamiang, antrean tampak cukup padat di ruang pendaftaran administratif. Terbanyak mengeluh terkait infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Beberapa di antaranya masih harus menunggu pelayanan lantaran alat kesehatan relatif terbatas.

Halaman 2 dari 2

Simak Video “Video: Efek Buruk Jika Anak di Lokasi Bencana Terus Makan Mi Instan”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)