Bisnis.com, JAKARTA — Fosil dinosaurus raksasa ditemukan hampir 100 tahun lalu di New Mexico ternyata spesies baru berparuh bebek.
Para ilmuwan menemukan bahwa dinosaurus raksasa yang ditemukan hampir 100 tahun lalu di New Mexico, sebenarnya adalah spesies baru dinosaurus berparuh bebek. Dinosaurus ini hidup sekitar 75 juta tahun yang lalu, pada akhir periode Cretaceous, bersamaan dengan hadrosaurid lainnya.
Dinosaurus baru ini diberi nama Ahshislesaurus wimani. Peneliti menduga dinosaurus ini memiliki kepala datar dan jambul tulang di bagian bawah moncongnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa dinosaurus berparuh bebek yang juga disebut hadrosaurid ternyata lebih beragam dan hidup berdampingan selama 20 juta tahun terakhir periode Cretaceous daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Ahli paleontologi di Harrisburg University, Steven Jasinski menjelaskan Hadrosaurus adalah dinosaurus besar pemakan tumbuhan yang hidup selama 24 juta tahun terakhir Cretaceous. Mereka kadang disebut sapi-sapi Cretaceous karena hidup berkelompok dan cukup mudah terlihat di lingkungan New Mexico pada masa itu.
“Meskipun ini mungkin bukan metafora yang sempurna, mereka kemungkinan besar hidup berkelompok dan akan sangat terlihat di lingkungan New Mexico utara menjelang akhir periode Cretaceous.” Ujar Jasinski, mengutip Live Science, Senin (12/1/2026).
Ahshislesaurus wimani diperkirakan bisa tumbuh hingga 12 meter (40 kaki) panjangnya. Fosilnya pertama kali ditemukan pada 1916, namun awalnya dianggap bagian dari genus Kritosaurus. Seiring berjalannya waktu dan adanya lebih banyak data fosil, para ilmuwan meninjau kembali spesimen ini.
Tim peneliti memeriksa tengkorak yang tidak lengkap, tulang rahang bawah, dan beberapa ruas tulang belakang dari Formasi Kirtland di New Mexico, yang disimpan di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian.
Menurut Direktur Museum Sejarah Alam dan Sains New Mexico, Anthony Fiorillo, tengkorak adalah bagian paling penting untuk menentukan spesies dinosaurus, karena bentuknya menunjukkan perbedaan anatomi yang jelas.
“Sebagai aturan umum… tengkorak benar-benar menjadi dasar untuk mengidentifikasi perbedaan pada hewan,” jelas Fiorillo.
Setelah membandingkan tengkorak tersebut dengan hadrosaurid lain, para peneliti menyimpulkan bahwa bentuk dan cirinya cukup berbeda untuk dikategorikan sebagai spesies baru, yang masih berkerabat dekat dengan Kritosaurus.
Salah satu penulis studi dan ahli paleontologi di Penn State University Lehigh Valley, Edward Malinzak menambahkan Kritosaurus tetap merupakan genus valid, tetapi fosil ini memiliki ciri anatomi yang unik, sehingga layak dijadikan spesies baru.
Meski demikian, masih belum jelas bagaimana spesies-spesies berkerabat ini bisa hidup berdampingan di lingkungan yang sama. Namun, mempelajari sejarah dan sebaran mereka membantu ilmuwan memahami ekosistem zaman Cretaceous dan bagaimana dinosaurus berparuh bebek berevolusi. (Nur Amalina)
