Bisnis.com, JAKARTA — Integrasi artificial intelligence (AI) terhadap perangkat elektronik rumah tangga memiliki potensi ancaman, baik dari sisi keamanan dan keselamatan masyarakat, maupun dari perspektif keamanan nasional.
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja mengatakan, AI yang tertanam dalam perangkat elektronik rumah tangga atau smart home mampu mempelajari kebiasaan dan preferensi pengguna.
Misalnya, sebuah mesin cuci pintar dapat mengenali jenis kain dan memilih siklus pencucian terbaik secara otomatis, sementara oven pintar dapat menyesuaikan suhu dan waktu memasak sesuai dengan jenis makanan.
Televisi berbasis AI bahkan bisa merekomendasikan tayangan favorit berdasarkan pola tontonan. “Semua fitur ini tentu sangat membantu, namun pada saat yang sama, perangkat-perangkat tersebut juga mengumpulkan, menyimpan, dan memproses data pribadi pengguna secara terus-menerus,” jelas Ardi kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Data yang dikumpulkan oleh perangkat smart home tidak hanya terbatas pada preferensi penggunaan, tetapi juga bisa mencakup rekaman suara, gambar, lokasi, hingga pola aktivitas harian penghuni rumah.
Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, risiko pencurian identias, pemantauan ilegal, hingga pemerasan dapat terjadi.
“Lebih dari itu, perangkat yang terhubung ke jaringan internet juga berpotensi diretas dan dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk mengakses sistem rumah tangga, bahkan mengendalikan perangkat dari jarak jauh tanpa sepengetahuan pemilik,” jelasnya.
Berkaca pada kasus AI GROK yang sempat menjadi sorotan publik beberapa waktu lalu, katanya menjadi contoh nyata bagaimana teknologi AI yang tidak diawasi dengan ketat dapat menimbulkan risiko serius.
Dalam kasus tersebut, celah keamanan pada sistem AI membuka peluang bagi pelaku kejahatan digital untuk mengakses data sensitif dan mengendalikan perangkat dari luar. Hal ini menurutnya menjadi alarm bahwa inovasi teknologi, jika tidak diiringi dengan pengawasan dan regulasi yang memadai, justru dapat menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan keselamatan masyarakat.
Lebih jauh lagi, risiko keamanan dari perangkat smarthome berbasis AI tidak hanya berdampak pada individu atau keluarga, tetapi juga dapat mengancam keamanan nasional.
“Bayangkan jika perangkat-perangkat ini digunakan secara masif di lingkungan strategis seperti gedung pemerintahan, fasilitas militer, atau pusat data nasional,” imbuhnya.
Ardy menegaskan, serangan siber yang berhasil menembus sistem smart home di lokasi strategis dapat membuka akses bagi pelaku kejahatan untuk melakukan sabotase, spionase, atau bahkan mengganggu infrastruktur vital negara.
Dalam konteks ini, keamanan perangkat smart home bukan lagi sekadar isu rumah tangga, melainkan menjadi bagian integral dari pertahanan dan keamanan nasional. Sayangnya, hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal regulasi perlindungan data dan keamanan perangkat berbasis AI.
Praktisi yang bergiat lebih dari 30 tahun di dalam industri keamanan dan ketahanan itu menjelaskan, belum adanya aturan pelaksanaan pada Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), bisa berdampak pada produsen perangkat smarthome yang kerap kali mengabaikan aspek keamanan dan privasi.
Ketiadaan regulasi yang tegas membuat masyarakat dan negara berada dalam posisi rentan terhadap ancaman siber yang bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, Ardi berharap regulator segera mengambil tindakan konkret dengan merumuskan aturan pelaksanaan yang detail dan relevan terhadap perkembangan teknologi smarthome berbasis AI.
Standar keamanan minimum, audit berkala, transparansi penggunaan data, serta sanksi tegas bagi pelanggaran harus menjadi prioritas dalam regulasi.
Selain itu, perlu ada upaya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan perangkat rumah tangga berbasis AI. Kemajuan teknologi menurutnya harus berjalan beriringan dengan perlindungan dan keamanan masyarakat.
“Jangan sampai inovasi yang diharapkan membawa kenyamanan dan efisiensi justru menjadi ancaman baru yang mengintai di balik pintu rumah kita,” tegas Ardi.
