Buka Diklat PPIH 2026, Gus Irfan: Jangan ‘Nunut’ Haji

Buka Diklat PPIH 2026, Gus Irfan: Jangan ‘Nunut’ Haji

Jakarta (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Kegiatan intensif yang berlangsung selama 20 hari hingga 30 Januari mendatang ini bertujuan mencetak 1.501 petugas profesional yang siap mengutamakan pelayanan jemaah di atas kepentingan ibadah pribadi.

Pelatihan ini merupakan mandat dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji guna meningkatkan kompetensi administratif, kesiapsiagaan, dan ketahanan fisik petugas. Selain di Asrama Haji Pondok Gede, area pelatihan juga mencakup wilayah Halim Perdanakusuma untuk simulasi operasional jemaah.

Gus Irfan menegaskan bahwa pembentukan Kementerian Haji pada Agustus 2025 merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan layanan terbaik bagi umat Islam. Ia mengingatkan para peserta agar meluruskan niat sejak awal masa diklat.

“Bangsa Indonesia ini mayoritas adalah muslim dan cita-cita paling tinggi umat Islam adalah melaksanakan ibadah haji. Saya ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaah haji. Begitu kata pak prabowo kepada kami,” ujar Gus Irfan saat memberikan sambutan.

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026).

Menteri Haji memberikan peringatan keras agar petugas tidak memanfaatkan posisi mereka hanya untuk ikut berhaji tanpa mengedepankan tugas pokok. Kedisiplinan fisik dan pengetahuan terkait situasi di Arab Saudi menjadi harga mati yang harus dikuasai selama tiga minggu masa penggemblengan.

“Jangan berpikiran nunut haji dalam menjalankan tugas sebagai PPIH Arab Saudi ini. Niatkanlah berangkat sebagai pelayan tamu-tamu Allah. Insyaallah jika ada rezeki kalian juga akan melaksanakan ibadah haji. Ketika ada pilihan melaksanakan ibadah atau melayani jemaah pastikan utamakan melayani jemaah,” tegas Gus Irfan.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wahid, yang hadir dalam pembukaan tersebut memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan diklat yang dinilai krusial bagi kesuksesan haji 2026. Ia menekankan bahwa kualitas haji tahun ini sangat bergantung pada kinerja petugas di lapangan, terutama dalam mengawal jemaah lansia.

“Saya ingin haji tahun ini ramah lansia. Ramah lansia ini jangan hanya sebagai slogan tapi memang benar-benar dilaksanakan. Petugas harus berani menegur,” ungkap Abdul Wahid.

Terkait kedisiplinan, keterlibatan unsur TNI dan Polri tahun ini ditingkatkan hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang diprediksi mulai memasuki puncaknya pada bulan Juli di Arab Saudi. Abdul Wahid meminta Kemenhaj bertindak tegas terhadap petugas yang lalai.

“Mana kala ada petugas yang tidak mau bekerja mohon Kemenhaj jangan segan-segan untuk memulangkan petugas haji tersebut. Artinya saudara-saudara diperintahkan untuk bertugas disiplin,” tambah Abdul Wahid.

Dalam laporannya, Dr. Puji Raharjo, S.Ag., S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa diklat ini mencakup materi pelayanan bahasa Arab agar petugas mampu berkomunikasi efektif dengan otoritas setempat. Peserta juga menjalani pelatihan baris-berbaris untuk mengubah perilaku agar lebih mudah dikoordinasikan saat menghadapi kerumunan jemaah di tanah suci.

“Izinkan pada kesempatan pagi ini kami melaporkan kegiatan ini dalam rangka membentuk dan meningkatkan profesionalitas dan pelayanan terbaik kepada jemaah. Petugas masih dikerumuni, setelah diklat ini bisa mudah dibariskan,” lapor Puji Raharjo.

Hingga pagi hari pembukaan, tercatat 1.501 peserta sudah memasuki asrama dari total 1.636 peserta yang terdata dalam daftar panggilan diklat. Kemenhaj juga berencana menggunakan teknologi terbaru untuk memantau keberadaan dan kinerja petugas secara real-time selama bertugas di Arab Saudi nantinya.

Menteri Haji juga memberikan sinyal kuat bahwa bagi petugas yang menunjukkan kinerja luar biasa, terdapat peluang untuk ditugaskan kembali pada musim haji berikutnya. Namun, bagi peserta yang tidak bisa mengikuti instruksi pelatih selama diklat, fasilitator memiliki wewenang penuh untuk mencoret nama mereka dari daftar keberangkatan.

“Jangan segan-segan mengingatkan kepada peserta sekali dua kali tiga kali kalau masih tidak bisa diingatkan maka coret saja para fasilitator punya untuk tidak memberangkatkan petugas ke Arab Saudi,” tutup Gus Irfan mengutip arahan dari jajaran pimpinan kementerian. [ian/but]