Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, memberikan pengarahan tegas kepada 1.501 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Pusat tahun 2026 guna menekan angka kematian jemaah dan memperbaiki integritas petugas. Dalam pengarahan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026), Dahnil menekankan bahwa kesehatan merupakan isu krusial mengingat 25 persen jemaah tahun ini masuk kategori lanjut usia (lansia).
Misi utama kementerian pada musim haji 1447 H adalah memastikan istithaah kesehatan jemaah terjaga secara maksimal. Dahnil menyoroti data tahun 2025 di mana terdapat 457 jemaah wafat, yang setara dengan 50 persen dari total kematian haji global tahun lalu. Angka kematian jemaah kini menjadi indikator utama kesuksesan penyelenggaraan haji bagi Pemerintah Arab Saudi.
Dahnil mengakui adanya tantangan besar terkait doktrin sebagian jemaah Indonesia yang ingin wafat di tanah suci, yang terkadang berseberangan dengan kepentingan regulasi kesehatan otoritas setempat. Oleh karena itu, tenaga medis dan dokter memegang tanggung jawab paling berat dalam mengawal kondisi fisik jemaah yang rentan terhadap penyakit tertentu.
“Tugas yang paling berat adalah dokter dan medis. Kesehatan menjadi isu utama haji. Dua puluh lima persen jemaah haji 2026 adalah lansia, kemungkinan memiliki penyakit tertentu. Inilah kenapa diklat ini nanti akan dikhususkan pembimbingan sesuai layanannya,” ujar Dahnil Anzar di hadapan ribuan calon petugas.
Selain aspek kesehatan, Wamenhaj secara terbuka menyinggung adanya trust issue atau krisis kepercayaan publik terhadap integritas petugas. Banyak masyarakat yang menganggap posisi petugas sering kali disalahgunakan oleh individu yang belum pernah berhaji untuk sekadar mendapatkan fasilitas haji secara gratis atau “nebeng haji”.
“Ada trust issue publik saat ini kepada petugas yang belum pernah berhaji, karena dianggap nebeng haji dengan jadi petugas,” tegas Dahnil.
Ia mengingatkan bahwa definisi haji mabrur harus tercermin dari kebermanfaatan sosial dan pengaruh baik yang dibawa ke masyarakat setelah pulang dari tanah suci. Petugas diharapkan mencontoh teladan sejarah orang-orang terdahulu yang membawa perubahan luar biasa bagi lingkungan sekitarnya usai menunaikan ibadah haji.
Dahnil juga memosisikan jemaah dan petugas sebagai diplomat bangsa yang mencerminkan wajah Indonesia di mata dunia. Kedisiplinan dan kebersihan menjadi modalitas diplomasi yang penting untuk dijaga selama operasional haji berlangsung agar citra Indonesia tetap positif di level internasional.
“Jemaah dan petugas Indonesia adalah diplomat, wajah Indonesia. Menjadi modalitas diplomasi. Contoh terkait kebersihannya dan kedisiplinan,” tambahnya.
Secara kelembagaan, Kementerian Haji dan Umrah menargetkan capaian “Tri Sukses” pada penyelenggaraan tahun ini. Fokus tersebut meliputi sukses ritual di mana petugas menjadi garda terdepan (frontliner), penguatan ekosistem ekonomi haji, serta pembangunan peradaban dan keadaban kebangsaan.
Pengarahan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan manajerial petugas. Dengan pembekalan ini, diharapkan setiap petugas mampu menjalankan fungsinya secara profesional sesuai bidang layanan masing-masing demi kenyamanan seluruh jemaah asal Indonesia, termasuk jemaah dari berbagai daerah seperti Jawa Timur. [ian/but]
