Jakarta –
Pakar mikrobiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof dr Tri Wibawa, PhD, SpMK(K) mengungkapkan karakteristik infeksi ‘super flu’ yang selama ini dianggap lebih berbahaya daripada flu biasa. Virus super flu atau influenza A H3N2 subclade K sempat menjadi sorotan di Amerika Serikat lantaran memicu peningkatan kasus flu yang cukup drastis.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga baru melaporkan temuan 62 kasus super flu yang terdeteksi sepanjang Agustus-Desember 2025. Sebenarnya, apakah memang super flu memiliki dampak lebih parah daripada flu pada umumnya?
Prof Tri menuturkan super flu secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi. Meski demikian, super flu sudah dipastikan memiliki kekerabatan dekat dengan virus flu musiman yang umum pada masyarakat.
Para ahli ini menuturkan, belum ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dari evolusi virus tersebut. Terlebih, virus selalu berubah dalam rangka revolusinya.
“Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” ujar Prof Tri dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (11/1/2025).
Prof Tri mengatakan penggunaan nama ‘super flu’ pada varian ini sebenarnya bukan istilah ilmiah. Bahkan, berdasarkan bukti yang ada, belum ditemukan indikasi influenza A H3N2 subclade K ini lebih ganas dibanding virus influenza H3N2 yang beredar selama ini.
Meski demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga. Virus influenza secara umum tetap berbahaya bagi kelompok berisiko.
“Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia,” jelasnya.
Pencegahan ‘super flu’
Prof Tri menjelaskan varian super flu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, berdasarkan sifat materi genetik yang dibawanya. Dari perubahan genetik kecil yang terjadi, dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat.
Perubahan virus yang cepat dan secara signifikan berbeda dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia di masa depan. Potensi untuk sistem kekebalan manusia tidak mampu melawan tetap ada.
Namun, pencegahan dengan penerapan etika batuk dan vaksinasi tetap efektif menurut Prof Tri. Jangan lupa juga mengenakan masker apabila mengalami gejala flu, mencuci tangan secara rutin, dan beristirahat cukup.
“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
(avk/kna)
