KARTA – Sejarah hari ini, 13 tahun yang lalu, 11 Januari 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menujuk Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang baru. Penunjukkan itu dilakukan karena Roy Suryo dianggap bisa benahi Kemenpora dan meningkatkan prestasi olahraga nasional.
Sebelumnya, kasus korupsi proyek Hambalang jadi aib partai penguasa: partai Demokrat. Korupsi itu menyeret sejumlah politisinya termasuk Menpora, Andi Mallarangeng. Alhasil, jabatan Menpora kemudian kosong dan butuh diganti.
Tiada yang tak ingin prestasi olahraga nasional meningkat. Narasi itu membuat pemerintah berpikir untuk meningkatkan kapasitas dari atlet-atlet kebanggaan bangsa. Belakangan pemerintah pun mulai memikirkan langkah-langkah supaya atlet nasional berkembang pesat.
Kondisi itu membuat Direktorat Jenderal (Ditjen) Olahraga di bawah Kemenpora ambil sikap. Mereka kemudian ingin hadirkan pusat pendidikan pelatihan, dan sarana olahraga skala besar di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Inisiasi itu muncul pada 2003. Kemudian, rencana itu baru digarap serius di era Presiden SBY. Proyek itu kemudian diambil alih oleh Kemenpora sendiri di bawah kuasa Andi Mallarangeng. Hasilnya proyek yang awalnya hanya direncanakan dengan alokasi dana Rp125 miliar jadi Rp2,5 triliun pada 2009.
Politikus Partai Demokrat Roy Suryo menghadiri acara HUT Ke-17 Partai Demokrat pada 9 September 2018. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Proyek itu kemudian dinamakan Pusat pendidikan dan Pelatihan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON). Atau publik kerap menamakannya sebagai proyek Hambalang. Dana yang besar itu dianggap bisa membuat fasilitas olahraga yang super lengkap.
Masalahnya harapan tinggal harapan. Alih-alih dana besar bisa membuat pembangunan proyek Hambalang berjalan lancar, dana yang ada justru jadi wadah korupsi politisi Demokrat. Andi yang notabene Menpora kemudian terseret.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menganggap salah satu biang keladi korupsi dana Hambalang. Alhasil, Andi jadi tersangka KPK. Andi pun segera mengajukan pengunduran diri dari jabatan Menpora atas proses hukumnya pada 7 Desember 2012.
“Sehubungan dengan pengumuman penetapan KPK tentang pencekalan saya kemarin, tanggal 6 Desember, maka saya telah menghadap Bapak Presiden dan mengajukan surat pengunduran diri saya. Dengan pencekalan ini, saya akan tidak efektif menjalankan tugas,” ungkap Andi sebagaimana dikutip lamankompas.com, 7 Desember 2012.
Korupsi Hambalang membuat citra Kemenpora buruk. Segenap rakyat Indonesia pun berharap pemerintah segera membenahinya. Pemerintahan SBY pun bergerak cepat mencari pengganti Andi. Mereka ingin supaya Kemenpora cepat dibenahi.
Kandidat Menpora pun bejibun. Namun, SBY justru memilih Roy Suryo yang notabene kader Demokrat, sebagai Menpora baru pada 11 Januari 2013. Penetapan Roy Suryo dianggap bisa membenahi segala macam masalah yang ada di Kemenpora. Ia diminta meningkat prestasi olahraga nasional.
“Ada tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu pembenahan internal Kemenpora, prestasi olahraga yang harus tetap kita jaga dan penyelesaian dualisme kepengurusan di cabang olahraga,” ujar Roy sebagaimana dikutip lamanANTARA, 11 Januari 2013.
Kalangan petinggi partai Demokrat menganggap Roy adalah pilihan yang tepat. Roy dipandang bisa memimpin Kemenpora dengan baik. Namun, respons rakyat Indonesia justru banyak kontra. Mereka menganggap pemilihan Roy kurang bijak. Roy dianggap tak punya pengalaman apa-apa urusan olahraga.
Pemerintah menganggap angin saja kritik kepada Roy. Kondisi itu membuat Roy Suryo tetap diangkat jadi Menpora. Ia pun segera dilantik secara resmi jadi Menpora oleh SBY di Istana Negara pada 15 Januari 2013.
