Bisnis.com, JAKARTA — Kantor Komisioner Informasi Inggris (ICO), lembaga yang mengawasi perlindungan data dan privasi, menyampaikan dalam lima tahun ke depan masyarakat berpotensi memiliki asisten belanja pribadi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Asisten belanja berbasis AI ini tidak hanya menunggu perintah dari pengguna, tetapi juga mampu bertindak secara mandiri. Teknologi ini dapat mempelajari kebiasaan pengguna, memahami kebutuhan belanja, mulai dari membeli barang sehari-hari, memesan tiket pesawat, hingga membantu mengelola keuangan rumah tangga.
Direktur Eksekutif Regulasi dan Inovasi di ICO, William Malcolm, menjelaskan bahwa teknologi tersebut dikenal sebagai Agentic AI, yakni AI yang memiliki kemampuan untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan secara otonom.
“Agen AI pribadi kami dapat membayar barang, memesan tiket penerbangan, serta mengelola keuangan rumah tangga,” kata Malcolm, dikutip dari The Standard, Jumat (9/01/2026).
Menurut regulator, kemampuan AI agen untuk mengantisipasi kebutuhan belanja tanpa harus diminta memungkinkan konsumen mengandalkan AI dalam merencanakan anggaran bulanan, sekaligus menjadwalkan pembelian pada saat berlangsungnya program diskon.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa AI berbasis agen berpotensi meluas ke ranah pengambilan keputusan keuangan. Dalam hal ini, agen AI dapat mencari berbagai opsi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan menyajikannya untuk disetujui.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, ICO mengingatkan bahwa perlindungan privasi data tetap menjadi prioritas utama. Semakin canggih AI, semakin besar pula data pribadi yang digunakan, sehingga risiko penyalahgunaan data berpotensi meningkat.
Kekhawatiran tersebut kian mencuat setelah beberapa waktu lalu chatbot Grok milik Elon Musk menuai sorotan publik karena menghasilkan gambar tidak senonoh. Peristiwa itu menegaskan kekhawatiran terkait keselamatan pribadi dan pengawasan seiring semakin kuatnya kemampuan teknologi AI.
Malcolm menegaskan bahwa sistem perlindungan data yang kuat sangat penting untuk menjaga keamanan informasi pribadi masyarakat sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap teknologi AI.
“Fondasi perlindungan data yang kuat dapat membantu membangun kepercayaan publik serta mempercepat dan mengamankan adopsi AI,” ujarnya.
Dalam laporan Tech Feature, ICO menekankan bahwa kepatuhan terhadap standar perlindungan data dapat menjadi faktor pembeda di pasar bagi perusahaan yang meluncurkan agen AI.
Lembaga pengawas tersebut juga menyatakan akan terus memantau perkembangan AI hingga 2026 serta bekerja sama dengan para pengembang untuk memperjelas kewajiban hukum mereka, sehingga konsumen dapat merasa yakin bahwa data pribadi mereka dilindungi dengan semestinya. (Nur Amalina)
