Surabaya (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mencatat ada 18.681 lebih kejadian darurat atau non (bukan) bencana alam yang terjadi selama tahun 2025, Kamis 8 Januari 2026.
Belasan ribu kejadian ini ditangani petugas BPBD meliputi jenis kejadian darurat medis, kecelakaan, penemuan jenazah, orang hilang, pohon tumbang, orang tenggelam, orang tersesat, gagal teknologi, kebakaran, laporan masalah hewan, genagan dan lainnya.
Ketua Tim Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, Arif Sunandar Pranoto Negoro mengatakan, dari rentetan kejadian satu tahun itu ada 404 korban dinyatakan meninggal dunia atau tewas.
“132 meninggal dunia akibat korban kecelakaan, dan 272 orang dengan kasus laporan penemuan jenazah,” ujar Arif Sunandar Pranoto Negoro, hari Kamis (8/1/2026).
Ia pun merinci, bahwa jumlah kecelakaan selama tahun 2025 yang ditangani oleh petugas BPBD ini mencapai 7.318. Kejadiannya tersebar di sejumlah ruas jalan kota, mulai dari Jalan Ahmad Yani hingga Kedung Cowek, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.
“Kecelakaan di Jalan Ahmad Yani 463 kejadian, di Jalan Ir Soekarno 222 kejadian, Jalan Diponegoro 170, kemudian disusul dengan ruas jalan lainnya,” papar dia.
Kemudian, insiden darurat medis sebanyak 9.848 kejadian. Dalam penanganannya, petugas merujuk 6.325 korban ke fasilitas kesehatan dan total 696 korban dibantu untuk pembuatan Surat Kematian.
Arif melanjutkan, munculnya korban jiwa kejadian non bencana alam di Surabaya lebih mendominasi, jika dibandingkan dengan kejadian bencana alam murni. Dia menyebut, dalam kasus orang tenggelam di sungai ada 13 orang setahun.
“Korban tenggelam selama satu tahun sebanyak 13 orang. Orang tersesat empat kali. Kalau menagani genangan ada total 160 kali,” rincinya.
Penangan hewan atas laporan warga, juga tidak luput dari perhatian BPBD Kota Surabaya selama 2025. Selain itu, pohon tumbang dan rumah rusak turut mencatatkan angka yang signifikan.
“Evakuasi hewan ada 57 kejadian, evakuasi pohon tumbang terjadi 270 titik dengan dua di antaranya menimpa manusia. 130 rumah rusak juga terjadi di Surabaya, dengan mayoritas 83 di antaranya akibat faktor pelapukan,” ungkapnya.
Sebagai penutup, ia menyebut kejadian darurat non bencana alam sepanjang tahun 2025 di wilayah Surabaya, paling banyak terjadi di wilayah Surabaya Timur dengan persentase 28,7 persen atau 5.369 kejadian, posisi kedua disusul Surabaya Selatan 27,5 persen atau 5.147 kejadian.
“Kemudian Surabaya Pusat 16,1 persen kejadian atau 3.012 kejadian, Surabaya Barat 15,2 persen atau 2.846 kejadian dan terakhir Surabaya Utara 12,5 persen 2.307 kejadian,” ucap Arif.
Serta memasuki tahun 2026, Arif mengimbau kepada masyarakat untuk lebih hati-hati untuk mengantisipasi kejadian non bencana alam di lingkungannya. Apabila warga mengalami kejadian atau melihatnya diimbau untuk segera menghubungi Call Centre Kedaruratan 112 Kota Surabaya.
”Masyarakat dapat segera meminta bantuan petugas melalui Call Center 112 atau nomor layanan 081131112112 untuk mendapatkan penanganan darurat secara cepat dan tepat,” pungkasnya. [rma/aje]
