Cakupan CKG Jauh dari Target, Eks Menkes Prof Nila Dorong Perbanyak Jemput Bola

Cakupan CKG Jauh dari Target, Eks Menkes Prof Nila Dorong Perbanyak Jemput Bola

Jakarta

Sekitar 70 juta warga Indonesia sudah mengikuti program cek kesehatan gratis (CKG). Jumlah tersebut sebetulnya masih jauh dari target seluruh penduduk, yakni dari 280 juta.

Menyoroti tren tersebut, Mantan Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek mendorong pemerintah tidak hanya menunggu partisipasi masyarakat, melainkan aktif meningkatkan strategi jemput bola.

Prof Nila yang juga menjadi Ketua Dewan Penasihat Indonesia Health Development Center (IHDC) tersebut menilai masih banyak masyarakat yang enggan atau bahkan takut menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, meski layanan tersebut tersedia secara gratis.

“Kalau hanya mengandalkan momentum ulang tahun atau kegiatan sekolah, belum tentu masyarakat mau ikut cek kesehatan. Jadi mungkin perlu jemput bola itu. Harapannya bisa semakin optimal deteksi dininya,” kata Prof Nila dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jumat (2/1/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Executive Director IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi menilai pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci meningkatkan partisipasi. Saat ini, program CKG masih terpusat di puskesmas atau digelar bertepatan dengan momen tertentu.

Menurutnya, pengalaman di sejumlah negara maju menunjukkan bahwa layanan kesehatan akan lebih efektif jika hadir langsung di tengah aktivitas masyarakat.

“Coba diturunkan strateginya hingga ke posyandu, posbindu, dan komunitas masyarakat lainnya seperti arisan atau pengajian. Tingkat partisipasi pasti akan naik jika masyarakat dijangkau di lingkungannya sendiri,” saran Dr Ray.

Selain perluasan jangkauan, Ray juga menekankan pentingnya narasi dan tindak lanjut pasca pemeriksaan. Ia menilai, CKG tidak boleh berhenti pada tahap skrining semata, melainkan harus disertai arahan yang jelas sesuai kondisi kesehatan peserta.

Masyarakat yang dinyatakan sehat tetap perlu dibekali panduan menjaga kesehatan, seperti pola hidup aktif dan olahraga teratur. Sementara itu, warga yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan, misalnya anemia atau hipertensi, harus langsung diarahkan ke protokol terapi dan rujukan yang tepat.

“Follow-up adalah kunci. Bagi yang sehat, harus ada protokol untuk mempertahankan kesehatannya. Bagi yang sakit, harus ada jalur rujukan dan terapi yang jelas. Hal ini perlu dirancang secara sistematis agar program CKG benar-benar berdampak,” tegasnya.

Halaman 2 dari 2

Simak Video “Video Nggak Cuma di Puskesmas, Kemenkes Perluas CKG hingga Perkantoran”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)