Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar smartphone Indonesia memasuki 2026 dengan harga perangkat yang makin mahal imbas kelangkaan cip. Para pedagang HP ritel di pusat-pusat perbelanjaan elektronik melaporkan adanya penurunan penjualan sepanjang tahun lalu. 

Berdasarkan pengakuan pedagang di lapangan, penjualan ponsel secara keseluruhan pada 2025 tercatat menurun jika dibandingkan dengan capaian penjualan pada 2024.

Penurunan ini dirasakan cukup tajam, di mana tahun 2025 dianggap lebih berat bagi pelaku usaha dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada pendapatan yang makin ramping.

Tekanan terhadap pasar ritel ini tidak datang secara tiba-tiba di awal tahun baru. Para pedagang mengungkapkan bahwa harga ponsel sebenarnya sudah mulai merangkak naik sejak akhir tahun lalu. 

“Dari sebelum pergantian tahun sebetulnya harga HP sudah mulai naik,” kata Lili pedagang HP di Supermall Karawaci Tangerang ke Bisnis Senin (05/01/2026).

Dia mengungkapkan fenomena ini terlihat pada berbagai merek besar seperti Oppo dan Vivo yang telah menaikkan harga jual produk mereka sebelum Desember.

Pedagang ponsel juga mengakui tidak memiliki pilihan selain mengikuti arus kenaikan harga tersebut. 

“Mau tidak mau harus ngikut (harga). Kalau dia naik ya naik,” tambahnya.

Kenaikan harga di tingkat ritel lokal ini merupakan dampak langsung dari gejolak rantai pasok dunia. Melansir dari Bisnis, International Data Corporation (IDC) memperkirakan lonjakan harga smartphone tahun ini akibat kekurangan Random Access Memory (RAM) karena fokusnya pabrikan besar terhadap kecerdasan artifisial (AI). 

Pasokan RAM yang biasanya dialokasikan untuk perangkat konsumen seperti ponsel, kini bergeser secara besar untuk mendukung pusat data AI yang membutuhkan daya pemrosesan tinggi.

Lili menilai penyebab lesunya penjualan di pasar juga terpengaruh karena kondisi ekonomi Indonesia yang sedang melemah. 

Hal ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat terhadap barang mewah seperti smartphone. Menurutnya, pembelian kini lebih didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan lagi gaya hidup.

Selain itu, dalam keterbatasan anggaran dan harga HP yang kian mahal, preferensi konsumen terbagi menjadi dua segmen yang jelas berdasarkan tingkat pemahaman teknologi mereka.

Bagi masyarakat awam atau mereka yang membutuhkan ponsel untuk berdagang, spesifikasi utama yang dicari adalah kualitas kamera dan kapasitas RAM. 

“Kebanyakan sih orang-orang intinya kamera sama RAM yang dibutuhkan mereka,”

Kelompok itu cenderung mengabaikan detail teknis lainnya seperti chipset, asalkan kapasitas memori besar dan hasil foto yang bagus untuk disebarkan di sosial media.

Sebaliknya, konsumen yang lebih mengerti teknologi, seperti pelajar atau gamers, memiliki prioritas yang berbeda. Mereka lebih fokus mencari prosesor yang mumpuni untuk mendukung kinerja berat dan bermain game, di samping kapasitas RAM yang memadai. 

Namun, bagi pasar low entry, loyalitas terhadap merek atau brand masih mendominasi keputusan pembelian. Merek-merek ternama masih menjadi pilihan utama meskipun spesifikasinya standar.

Menghadapi tahun 2026, industri smartphone dunia diprediksi akan mengalami penurunan pengiriman sebesar 2,1%. Bagi pasar Indonesia, kombinasi antara harga komponen yang meroket akibat AI dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya.  Tentunya hal ini menuntut ketahanan ekstra dari para pelaku ritel untuk tetap bertahan di tengah badai ekonomi teknologi ini. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)