Bisnis.com, JAKARTA — Ilmuwan menekankan bahwa 2026 menjadi tahun pembuktian kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi wajib membuktikan bahwa teknologi baru yang mereka kembangkan bermanfaat dan menghasilkan uang.
AI tidak bisa terus menjadi lebih pintar hanya dengan dibuat lebih besar dan lebih mahal. Awalnya, banyak peneliti percaya bahwa jika data diperbanyak dan komputer dipercepat, AI pasti akan semakin pintar. Namun, ternyata pendekatan ini kurang tepat.
Dilansir dari TechCrunch Senin (05/01/2026), mantan kepala ilmuwan Meta AI, Yann LeCun sudah sejak lama menolak anggapan bahwa AI harus terus dibuat lebih besar dan menekankan bahwa yang lebih penting adalah merancang sistem AI yang lebih pintar dan efisien.
Pada tahun 2012, para peneliti menunjukkan bahwa AI bisa belajar mengenali gambar dengan melihat jutaan contoh. Cara ini memang membutuhkan komputer yang sangat kuat, tetapi berhasil dan mendorong perkembangan AI selama bertahun-tahun.
Perkembangan ini mencapai puncaknya sekitar tahun 2020, ketika OpenAI merilis GPT-3. Model ini dibuat jauh lebih besar, dan hasilnya AI tiba-tiba bisa melakukan hal-hal seperti menulis kode dan berpikir logis tanpa diajari secara khusus. Sejak saat itu, banyak orang percaya bahwa semakin besar AI dibuat, semakin pintar hasilnya. Masa ini dikenal sebagai era penskalaan.
Namun, masalah mulai muncul. Peneliti kini menyadari bahwa AI tidak lagi meningkat seperti dulu, sementara biaya yang diperlukan semakin mahal. Membuat AI lebih besar tidak lagi memberikan peningkatan signifikan. Oleh karena itu, industri AI diperkirakan akan kembali mencari desain dan metode baru agar AI bisa berkembang lebih baik.
Manusia belajar dengan mengalami langsung bagaimana dunia bekerja, bukan hanya dari kata-kata. Sementara, AI yang ada sekarang sebenarnya tidak benar-benar memahami dunia, AI hanya menebak kata atau jawaban berikutnya.
Karena itu, para peneliti mulai mengembangkan model dunia, yaitu AI yang belajar memahami ruang, gerakan, dan hubungan sebab-akibat agar bisa memprediksi dan bertindak lebih masuk akal.
Perkembangan ini diperkirakan akan semakin terlihat pada 2026, dengan banyak perusahaan dan peneliti besar mulai serius mengembangkannya. Dampak awalnya kemungkinan besar akan terlihat di video game dan dunia virtual, yang menjadi tempat aman untuk melatih AI sebelum digunakan di dunia nyata.
Di saat yang sama, agen AI juga mulai benar-benar berguna karena kini bisa terhubung langsung ke sistem kerja nyata, sehingga tidak lagi sekadar demo, tetapi dapat membantu pekerjaan sehari-hari manusia.
Banyak orang khawatir bahwa AI yang bisa bekerja sendiri (agen AI) akan membuat manusia kehilangan pekerjaan. Namun, Katanforoosh dari Workera mengatakan hal itu tidak akan terjadi.
“2026 akan menjadi tahunnya manusia,” kata Katanforoosh .
Menurutnya, tahun 2026 justru akan menjadi tahun manusia karena AI belum sepenuhnya bisa bekerja otomatis seperti yang dibayangkan. Alih-alih menggantikan manusia, AI akan lebih banyak digunakan untuk membantu manusia bekerja lebih efektif.
Katanforoosh memprediksi akan muncul banyak pekerjaan baru terkait AI, seperti mengatur tata kelola, keamanan, transparansi, dan manajemen data, sehingga tingkat pengangguran tetap rendah, di bawah 4%.
Selain itu, perkembangan teknologi AI juga memungkinkan munculnya perangkat fisik cerdas, seperti robot, mobil otonom, drone, dan perangkat wearable (yang bisa dipakai di tubuh).
Agar semua perangkat ini bekerja lancar, perusahaan penyedia jaringan akan berusaha meningkatkan infrastruktur mereka. Jadi, tahun 2026 akan menjadi tahun di mana AI tidak hanya ada di layar komputer, tetapi mulai hadir di kehidupan sehari-hari lewat perangkat cerdas. (Nur Amalina)
