Jakarta –
CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.
Dokter ‘spesialis bunuh diri medis’ Dr Philip Nitschke di Australia menjadi sorotan setelah belum lama ini menciptakan perangkat baru berupa kalung untuk membantu bunuh diri medis. Dr Philip yang sebelumnya juga membuat ‘kapsul bunuh diri’ dikritik karena temuannya ini.
Seperti yang diketahui, beberapa negara di dunia seperti Swiss dan Austria memperbolehkan bunuh diri medis, tapi melalui persyaratannya yang banyak dan rumit. Orang-orang yang biasanya diperbolehkan mendapatkan bunuh diri medis adalah orang-orang yang memiliki penyakit parah dan sulit sembuh.
Pada tahun 2024, ‘kapsul bunuh diri’ yang dibuat Dr Philip sempat menggegerkan karena digunakan secara ilegal oleh seorang perempuan asal Amerika Serikat di sebuah hutan di Swiss. Pemerintah setempat menegaskan alat tersebut ilegal untuk digunakan.
Alat baru berupa kalung yang dibuat oleh Dr Philip diklaim sebagai perkembangan penting dalam bidang bunuh diri medis. Perangkat ini diberi nama Kairos Kollar.
“Cepat, andal, tanpa obat, dan yang terpenting, tidak bisa dibatasi,” tulis Dr Philip di media sosialnya dikutip dari Unilad, Senin (5/1/2025).
Ada banyak kritikan yang ditujukan pada Dr Philip. Pengguna media sosial berpendapat perangkat yang dibuat olehnya begitu mengerikan dan tidak bermoral.
Dalam sebuah workshop di Belanda, Dr Philip mengungkapkan alat ini bekerja seperti airbag mobil dan bekerja dengan sangat cepat.
“Alat ini bekerja dengan cara cerdas dengan memberi tekanan pada dua titik penting di leher, yang menghasilkan dua efek, yaitu tekanan itu menghentikan aliran darah ke dua arteri penting,” ujar pendiri organisasi kampanye hak bunuh diri medis Exit International tersebut.
“Alat dipasang di leher, dan ketika tombol ditekan, alat itu langsung memberi tekanan pada arteri karotis dan vertebralis, sehingga menghentikan aliran darah ke otak,” tambahnya.
Perangkat euthanasia ini masih dalam tahap pengujian. Organisasi hak untuk mati sesuai pilihan bernama Coöperatie Laatste Wil (CLW), memperkirakan alat tersebut akan disetujui dan siap digunakan pada tahun ini.
“Ini mengerikan, dan hal inilah yang setiap hari mendorong saya untuk memperjuangkan dunia yang lebih baik bagi para lansia,” tulis seseorang warganet
“Bagaimana ini bisa dianggap bermoral? Mencekik diri sampai mati? Orang ini mengerikan,” timpal warganet lain.
Halaman 2 dari 2
(avk/kna)
