Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

Bisnis.com, JAKARTA — SoftBank Group Corp. mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi DigitalBridge Group, Inc., manajer aset alternatif global yang fokus pada infrastruktur digital dengan nilai perusahaan mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp67,1 triliun. Adapun DigitalBridge Group diketahui memiliki jejaring hingga ke Indonesia.

DigitalBridge memiliki hubungan kepemilikan strategis dengan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (Centratama atau CENT), perusahaan menara telekomunikasi asal Indonesia, melalui platform EdgePoint Infrastructure.

DigitalBridge mendirikan EdgePoint Infrastructure pada 2020-2021 untuk ekspansi menara telekomunikasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. EdgePoint kemudian mengakuisisi saham mayoritas Centratama, mencapai 76,8% pada Juli 2021 melalui EP ID Holdings Pte Ltd setelah membeli 33% dari Northstar Group. Adapun saat ini kepemilikan EdgePoint di Centratama mencapai 92,17%. 

Adapun Centratama sendiri mengelola lebih dari 11.000 situs infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, seperti menara seluler dan DAS. Centratama aktif mendukung operator besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART dalam memberikan layanan internet serta mengakselerasi transformasi digital nasional.

Saat ini Centratama tengah berjuang dalam menekan rugi yang terus meningkat. Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, rugi bersih tahun berjalan Centratama melompat dari Rp782 miliar menjadi Rp1,47 triliun pada kuartal III/2025. Angka tersebut naik 88,23% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan CENT hanya naik tipis 2,73% year on year/YoY menjadi Rp1,88 triliun.

Adapun bisnis sewa menara menjadi kontributor utama pendapatan CENT dengan total menacapai Rp1,63 triliun atau sekitar 87% dari total pendapatan. Sisanya berasal dari sewa infrastruktur (IBC), serat optik, jasa internet dan lain sebagainya.

Sementara itu beban pokok meningkat 29% menjadi Rp1,25 triliun pada kuartal III/2025, yang didominasi oleh beban utang jangka panjang. Penyusutan aset menara dan tetap membuat kondisi makin berat.

Sebelumnya, dilansir dari laman resmi Softbank, Selasa (30/12/2025), akuisisi Softbank atas DigitalBridge dilakukan untuk memperkuat misi mewujudkan Artificial Super Intelligence (ASI) demi kemajuan umat manusia.

Akuisisi ini akan memperluas kapasitas pusat data dan konektivitas SoftBank guna mendukung pelatihan, penerapan, dan layanan AI skala global.

Chairman dan CEO SoftBank Group Corp Masayoshi Son mengatakan seiring transformasi AI di berbagai industri dunia, perusahaan membutuhkan lebih banyak daya komputasi, konektivitas, listrik, dan infrastruktur yang skalabel.

“DigitalBridge adalah pemimpin di infrastruktur digital, dan akuisisi ini akan memperkuat fondasi pusat data AI generasi berikutnya, memajukan visi kami menjadi penyedia platform ASI terkemuka, serta membuka terobosan yang mendorong kemajuan umat manusia,” kata Son kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

Sementara itu, CEO DigitalBridge Marc Ganzi mengatakan pembangunan infrastruktur AI merupakan peluang investasi terbesar saat ini. SoftBank memiliki DNA serupa sebagai pembangun dan investor jangka panjang yang berkomitmen pada infrastruktur digital transformatif.

“Visi, kekuatan modal, dan jaringan global mereka akan memungkinkan kami mempercepat misi dengan fleksibilitas lebih besar,” kata Marc.

Berdasarkan kesepakatan, SoftBank akan mengakuisisi seluruh saham umum DigitalBridge secara tidak langsung seharga $16 per saham tunai.

Transaksi ini direkomendasikan secara bulat oleh komite khusus dewan direksi DigitalBridge yang terdiri dari direktur independen, dengan premi 15% dari harga penutupan saham pada 26 Desember 2025, dan 50% dari rata-rata harga 52 minggu sebelumnya per 4 Desember 2025.

Setelah penutupan, DigitalBridge akan tetap beroperasi sebagai platform terpisah di bawah pimpinan Marc Ganzi. Transaksi tunduk pada persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada paruh kedua 2026.

Langkah ini memperkuat posisi SoftBank di sektor infrastruktur digital global, sejalan dengan lonjakan permintaan AI dari perusahaan teknologi besar.