Jakarta –
Sebuah gerai toko roti ada di hampir di stasiun belakangan viral karena menolak pembayaran tunai atau cash. Toko ini hanya melayani transaksi digital, seperti QRIS.
Dalam video yang beredar, seorang pelanggan tampak marah-marah karena petugas di toko tersebut tidak melayani nenek-nenek yang tidak paham cara pembayaran digital. Pro-kontra lantas mencuat terkait kebijakan toko tersebut.
Di luar kontroversi metode pembayarannya, toko roti tersebut memang cukup populer lantaran ada di hampir semua stasiun. Meski tidak leluasa bertransaksi, pelanggan toh tetap banyak yang membelinya.
Padahal jika dilihat dari komposisinya, jenis roti yang kerap disebut coffee bun atau sweet bun ini cukup simpel, dominan berbahan dasar tepung dan gula. Sederhana, bahkan bisa dibilang bukan makanan istimewa. Namun di jam-jam tertentu, terutama sore hingga malam hari, antrean pembeli jarang sekali sepi.
Kok bisa ya, roti yang cuma gula dan tepung begitu saja kok banyak yang beli?
Tubuh Lelah, Mencari Energi Cepat
Setelah aktivitas panjang seharian, terutama bagi pekerja yang harus menempuh perjalanan jauh dengan KRL, tubuh sebenarnya berada dalam kondisi defisit energi ringan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelelahan fisik dan mental berkaitan dengan menurunnya kadar glukosa darah serta berkurangnya simpanan glikogen di otot dan hati. Dalam situasi ini, tubuh akan secara otomatis mendorong keinginan untuk mengonsumsi makanan yang cepat diubah menjadi energi.
Karbohidrat sederhana, seperti tepung putih dan gula, dicerna jauh lebih cepat dibandingkan karbohidrat kompleks. Ketika dikonsumsi, jenis karbohidrat ini dengan cepat meningkatkan kadar glukosa darah dan menyediakan bahan bakar instan bagi otak. Inilah sebabnya makanan seperti roti manis terasa sangat “pas” saat tubuh sudah lelah.
Studi British Journal of Nutrition (2018) menunjukkan bahwa saat berada dalam kondisi lelah atau kurang energi, otak cenderung memprioritaskan makanan dengan kandungan energi tinggi dan mudah diserap. Artinya, pilihan makanan tidak lagi sepenuhnya rasional, tetapi dipengaruhi oleh kebutuhan biologis untuk memulihkan tenaga secepat mungkin.
Ada Efek Psikologis dari Gula-Karbohidrat
Bukan hanya soal energi, makanan manis juga memiliki efek langsung pada sistem saraf pusat. Jurnal Advances in Nutrition (2025) menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat dapat meningkatkan ketersediaan triptofan di otak, asam amino yang berperan dalam pembentukan serotonin. Serotonin dikenal sebagai neurotransmitter yang berhubungan dengan perasaan tenang, nyaman, dan suasana hati yang lebih stabil.
Makanan tinggi karbohidrat sering dipilih saat seseorang berada dalam kondisi stres atau kelelahan emosional. Hal ini bukan kebetulan. Asupan gula dan karbohidrat juga memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang memberikan sensasi senang dan kepuasan. Kombinasi inilah yang membuat makanan manis terasa menenangkan, bahkan bisa memberikan efek “reward” tubuh merasa lelah.
Karena mekanisme inilah roti manis sering dianggap sebagai comfort food. Saat tubuh dan pikiran lelah, sensasi yang muncul setelah mengonsumsinya kerap dikaitkan dengan rasa nyaman. Tak heran jika keinginan untuk membeli roti muncul justru saat kondisi fisik dan mental sedang drop, seperti di jam pulang kerja.
Cemilan ringan tinggi gula memberikan energi cepat bagi para commuter yang kelelahan. Foto: Grandyos Zafna
Aroma yang Menggugah Selera
Daya tarik roti di stasiun tidak lepas dari peran aroma. Penciuman memiliki jalur langsung ke sistem limbik, bagian otak yang mengatur emosi, memori, dan nafsu makan. Jurnal Foods tahun 2016 mengatakan kalau aroma makanan mampu memicu respons makan bahkan sebelum tubuh benar-benar lapar.
Ketika seseorang mencium bau roti, otak secara otomatis mengaitkannya dengan pengalaman rasa hangat, kenyang, dan menyenangkan. Proses ini terjadi sangat cepat dan sering kali di luar kesadaran, sehingga keputusan membeli terasa spontan.
Dalam lingkungan seperti stasiun KRL, di mana orang sudah lelah dan cadangan energi menurun, efek aroma ini menjadi jauh lebih kuat. Bau roti bukan hanya menggugah selera, tetapi juga memperkuat sinyal biologis tubuh yang sedang mencari asupan cepat.
Stasiun, Waktu Pulang, dan Craving yang Bertemu
Lokasi stasiun KRL memperkuat semua faktor tadi. Banyak orang berada di fase transisi antara aktivitas dan istirahat. Energi sudah terkuras, pikiran ingin cepat pulang, dan waktu makan malam sering kali masih beberapa jam lagi. Dalam kondisi ini, tubuh berada pada fase yang rentan terhadap craving makanan tinggi energi.
Roti manis menjadi pilihan yang sangat praktis. Mudah dimakan sambil berjalan, harganya relatif terjangkau, dan memberikan kepuasan cepat. Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan penurunan kadar gula darah dan meningkatnya hormon lapar, yang membuat otak lebih responsif terhadap makanan tinggi karbohidrat dan gula.
Efek Setelahnya yang Perlu Diwaspadai
Di balik sensasi kenyang dan nyaman yang muncul, roti manis juga memicu respons metabolik tertentu di dalam tubuh yaitu glucose spike. Kandungan gula dan tepung olahan dapat menyebabkan peningkatan gula darah yang berlangsung cepat, lalu diikuti penurunan dalam waktu relatif singkat. Ketika kadar gula darah kembali turun, sinyal lapar pun bisa muncul kembali dan keinginan untuk makan atau ngemil pun muncul.
Jika pola ini terjadi berulang tanpa diimbangi asupan protein, serat, dan lemak sehat, kestabilan energi harian dapat terganggu. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi pengaturan nafsu makan, berat badan, serta risiko penyakit metabolik.
Halaman 2 dari 5
Simak Video “Video: Gula Berlebihan, Bahaya Mengintai!”
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)
